Ini ada tulisan tentang Perkembangan Silat,
Semoga ada manfaatnya.
Wassalam
Sudirman Yan
PSN.Perisai Putih DKI Jakarta
26/07/08 10:10
Geliat Silat di Zaman Moderen
Oleh M. Fajar Pratama
Jakarta (ANTARA News) - Belasan anak–anak usia Sekolah Dasar (SD)
terlihat bersemangat mengikuti latihan silat yang diadakan oleh
perguruan silat Beksi tradisional di kompleks perkampungan budaya
Betawi Setu Babakan, Serengseng Sawah, Jakarta Selatan.
Latihan yang dimulai pada pukul delapan malam tersebut juga disertai
teriakan "hup", "hap" dan "heit" yang keluar baik dari mulut pelatih
maupun peserta latihan.
Salah seorang peserta latihan, Munawar, yang duduk di kelas 6 SD
mengatakan bahwa mengikuti pencak silat pada awalnya karena dorongan
orang tuanya. Namun akhirnya, ia sangat senang dan antusias
mengikuti latihan yang diadakan dua kali tiap minggu.
Ron, kakak Munawar, mengemukakan: "Saya sering mengantar Munawar
untuk latihan silat. Saya senang dengan keseriusan dan keceriaan
Munawar yang terlihat waktu latihan."
Pencak silat sebagai seni bela diri juga sering dipakai dalam seni
pertunjukan dan berbagai upacara adat. Di sela–sela latihan salah
seorang pembimbing menyemangati anak didiknya, terlihat beberapa
anak dipisahkan dari barisan.
"Mereka berdua akan dilatih menjadi 'palang pintu'," kata Yudi,
peserta latihan yang sudah sering menjadi palang pintu.
Ia menambahkan, "palang pintu" merupakan istilah yang sering ditemui
pada upacara adat Betawi, biasanya dapat ditemui pada acara
pernikahan dan khitan.
Yudi mengemukakan, sudah sekitar tujuh bulan mengikuti latihan di
perguruan Beksi tradisional itu. Awal mula ketertarikannya lantaran
banyak teman sekolahnya yang ikut, dan ia pun hobi berolah raga.
Menurut dia, silat sekarang sudah cukup berkembang dan tidak kalah
dengan masuknya seni bela diri asing yang masuk ke Indonesia.
Sementara itu, Oman yang menjadi salah seorang pelatih silat Beksi
tradisional di Setu Babakan menuturkan, minat masyarakat terhadap
silat cukup baik, dan hal itu dapat dilihat dari bertambahnya jumlah
peserta latihan.
"Yang tadinya hanya anak–anak, kini juga banyak remaja dan dewasa
yang bergabung," ujarnya.
Nama lengkap perguruan silat itu adalah Beksi Tradisional Haji
Hasbullah. Ditahbiskannya nama sang guru ada ceritanya. Dikisahkan,
guru besar asal bela diri itu justru seorang keturunan Tionghoa
bernama Lie Ceng Oek. Ia tinggal di Kampung Dadap, Tangerang, Banten.
Lie memiliki seorang pegawai bernama Ki Marhali. Ketika itu, Marhali
kerap melihat tuannya berlatih kungfu. Lantas ia mencoba gerakan-
gerakan sang tuan. Lie, yang melihat Marhali memiliki bakat, lantas
mengajarinya.
Suatu waktu, Marhali bertemu dengan H. Ghozali dari Petukangan,
Jakarta Selatan. Ghozali, yang mendengar Marhali seorang ahli ilmu
bela diri lantas menjajalnya. Marhali pun menang. Ghozali dan
keponakannya, H. Hasbullah, akhirnya belajar ilmu bela diri baru
tersebut.
Selain Hasbullah, Ghozali juga memiliki dua murid lainnya, sehingga
jadilah tiga perguruan Beksi yang ada sekarang dengan menasbihkan
nama gurunya masing-masing: H. Hasbullah, Engkong Nur dan Engkong
Simin.
"Kami masih sering bertemu dan bersilaturahmi. Terakhir kami
mengadakan festival dan Beksi H. Hasbullah keluar sebagai juara,"
kata Basyir, sambil menunjuk piala bergilir di ruang tamu rumahnya.
H. Hasbullah (1896-1989) mengembangkan ilmunya, terutama di
Petukangan, Kebayoran Lama, Ulujami, dan Pondok Aren. Murid-muridnya
lantas mengembangkannya hingga ke lima wilayah Jakarta.
Setu babakan adalah wilayah pelestarian budaya betawi yang di
tetapkan oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (Pemda DKI) Jakarta,
setelah hal serupa gagal diterapkan di Condet, Jakarta Timur, yang
lingkungan dan suasananya sudah berubah.
Di lokasi yang tidak jauh dari Setu Babakan ada Universitas
Indonesia (UI), yang masyarakat umum secara mudah menjumpai kelompok
yang mempelajari Capoeira, seni bela diri yang berasal dari Brasil.
Adit, salah seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(FISIP) UI yang berlatih Capoeira, mengemukakan alasannya memilih
seni bela diri tersebut. "Menurut saya, copoeira menarik karena
berdasar dari gerak tarian, sehingga menyenangkan mengikuti latihan."
Ia pun berkomentar, "Menurut saya, silat sudah cukup berkembang,
dibuktikan dengan sudah buka cabangnya di negeri Paman Sam."
Sedangkan, Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) yang diketuai H.
Prabowo Subianto, mencatat bahwa pencak silat sudah dipelajari oleh
banyak orang di mancanegara, seperti Amerika Serikat (AS), Jerman,
Belanda, Belgia, Denmark dan Australia. Hal itu setidak-tidaknya
berlangsung sebelum tahun 1987.
Hanya saja, pencak silat perkembangannya bisa jadi belum terlalu
dikenal luas oleh masyarakat. Hal senada dibenarkan oleh Muali
Yahya, Ketua Komando Latihan 4 (kolat 4) Perguruan Silat Beksi
Tradisional.
"Silat Beksi tradisional sendiri sudah dipelajari oleh beberapa
pasukan khusus luar negeri, seperti Australia, Jerman dan
Finlandia," katanya.
Lelaki yang sudah menekuni silat sejak Sekolah Menengah Pertama
(SMP) tersebut mengatakan, sosialisasi mengenai ilmu bela diri
tersebut kepada masyarakat masih sangat kurang, sekalipun tetap
eksis di tengah–tengah masyarakat, kalangan budaya dan acara
festival yang diadakan pemerintah.
Hanya saja, ia menilai, serangkaian kegiatan tersebut hanya kurang
diekspos, terutama oleh media massa.
Selain itu, padepokan pencak silat di Taman Mini Indonesia Indah
(TMII) yang juga menjadi lokasi markas Pengurus Besar (PB) IPSI,
terlihat kurang siap dalam menerima pengunjung yang bermaksud
mendapatkan informasi tentang silat.
Tidak lengkapnya data perkembangan mengenai silat, peletakan arsip
yang tidak diatur secara baik membuat pihak pengelola padepokan
justru terlihat sedikit kewalahan dalam melayani pengunjung.
Ketika ditanya mengenai data perguruan dan jumlah anggota pencak
silat yang ada di Indonesia sampai 2008, pihak perpustakaan IPSI
mengakui bahwa tidak menyimpan data tersebut, dan menyarankan
bertemu pihak pengurus.
Selain itu, buku–buku yang disarankan dibaca pengunjung adalah
literatur yang justru disusun pengurus IPSI pada 1987, sehingga
tidak aktual lagi.
"Cukup sulit untuk mengetahui jumlah perguruan, termasuk jumlah
anggotanya. Hal ini disebabkan tidak semua pengurus ingin
mendaftarkan perguruannya ke IPSI. Tentu hal ini mempersulit dalam
hal pendataan," kata salah seorang karyawan padepokan dan museum
pencak silat di TMII.
Muali menyetujui pernyataan pihak museum. Menurut dia, memang banyak
perguruan yang didirikan, tetapi mereka enggan mendaftarkan
perguruannya lantaran berbagai alasan.
"Perguruan Beksi tradisional ini sendiri memang berada di bawah
naungan IPSI, tetapi tidak terlalu banyak berinteraksi dengan
pengurus IPSI," katanya.
Menurut Muali, sekarang ini silat sudah jauh berkembang dari segi
peminat, dan banyak cara juga ditempuh demi kemajuan silat sendiri.
Dan, salah satunya adalah didirikannya Forum Pecinta Silat Indonesia
yang (FPSI) dipimpin oleh mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang
juga mantan Ketua PB IPSI, Edy Nalapraya, sebagai wadah dan sarana
sosialisasi.
"Saya berharap, silat bisa terus eksis dan berkembang tidak hanya di
tingkat DKI Jakarta dan nasional, tetapi agar silat juga bisa
mendunia," ujarnya menambahkan. (*)
COPYRIGHT © 2008
--- In silatindonesia@yahoogroups.com, silatbogor <no_reply@...>
wrote:
>
> Ngobrol2 dengan para sesepuh di sahabatsilat dan juga kawan-kawan
> lainnya mengenai tidak populernya silat di Indonesia bisa juga
bukan
> salah masyarakat umum akan tetapi salah kita juga terutama bagi
yang
> mengaku suka, seneng, gemar, cinta, pemerhati silat di Indonesia
> terutama kita2 yang punya akses global yaaaa tentunya anggota
sahabat
> silat di forum ini.
>
> Indikasinya yang mudah di lihat adalah masih kurangnya temen2 di
> sahabat silat ini mempromosikan situs atau forum sahabatsilat.com
dan
> silatindonesia.com, promosi situs bisa di lakukan dengan mulut ke
> mulut atau bagi yang punya blog bisa melink blognya ke alamat situs
> komunitas kita ini.
>
> atau bagi yang punya perguruan sebagai murid atau guru atau guru
besar
> bisa juga di informasikan kepada temen2nya atau muridnya. nah
dengan
> mempromosikan situs komunitas sahabat silat maka tentunya ini
adalah
> satu kemajuan bagi kita bersama untuk mempopulerkan situs kita
> termasuk di dalamnya.
>
> Jangan kuatir situs ini adalah millik kita bersama dan bahkan sejak
> muncul pertama kali secara resmi pada tahun 2005 maupun pada era
> 1998-2002 situs komunitas ini sudah bisa membuktikan bahwa situs
ini
> tidak memblog atau memihak satu perguruan ataupun organisasi secara
> komersial, jadi istilah kata situs ini sudah murni menjadi situs
yang
> membawa misi dan visi yang berorientasi netral dan ingin mengangkat
> seluruh aspek dari silat.
>
> Hal yang paling terpenting bagi saya adalah, memang sangat di
> sayangkan Link kedua situs ini masih belum banyak, hal ini
disebabkan
> karena anggota milis ataupun forum yang belum banyak memberikan
> konstribusi menyebarkan link atau memberikan informasi ke situs2
lain
> ataupun ke blog2 lainnya. padahal bila saja setiap anggota memasang
> logo ataupun minimal memasang link situs kita ini maka kemungkinan
> banyak orang yang akan mengetahui keberadaan situs kita ini.
>
> Perkiraan saya sih pesilat online yang ada saat ini mencapai angka
> 1000 orang, 50% adalah pesilat yang hanya aktif di lingkungan
> perguruannya saja, nah andai saja meraka bisa membuka opini mereka
> maka jelas silat akan semakin kaya dengan anggota yang semakin
banyak.
>
> semoga tulisan saya ini bisa di cerna dengan baik, dan semoga kita
> tetap semangat.
>
>
> Salam Merdeka
>
> INDONESIA MERDEKA!!!
>