YOGA mulai diminati masyarakat kampus. Olah pikiran dan hati ini diakui bisa memacu prestasi belajar mahasiswa.
BAGI banyak kalangan di Indonesia, yoga berarti sebuah perpaduan antara olahraga dan meditasi. Bagi awam sekali pun, dalam benak mereka akan terpikir berbagai gerakan melipat tubuh, dibarengi aturan pernafasan tertentu dan konsentrasi yang teratur.
Yoga dikenal di Indonesia, sejak akhir 1970-an, ketika seorang pengajarnya dari India datang ke Jakarta. Kini, kegiatan ini telah sangat berkembang, juga menjadi daya tarik bagi pelanggan berbagai sanggar senam yang mengajarkannya. Untuk yang satu ini orang mengenalnya sebagai Asana Yoga. Kata yoga, sebenarnya memiliki arti yang lebih dalam. Dari bahasa asalnya Sansekerta, yoga berarti kembali kepada Tuhan seutuhnya.
Yoga ternyata kini sudah merambah ke dunia kampus. Di Bandung, puluhan mahasiswa Universitas Parahyangan, sejak 2001 telah mendirikan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bagi peminat yoga. Hanya saja, berbeda dengan yang diajarkan di sanggar-sanggar senam, para mahasiswa yang berkampus di Jl Cimbeuleuit ini memilih untuk mempraktekkan yoga versi lain, yakni Atman Yoga.
Yang satu ini, sekalipun masih tidak menghilangkan jati dirinya dari negeri asalnya India, namun inovasinya sudah dilakukan oleh seorang putra Indonesia.
Adalah Irmansyah Effendi Msc, yang menjadi Bapak Atman Yoga di seluruh dunia. Pada 1997 silam, setelah berpuluh-puluh tahun melakukan pencarian terhadap jati diri, pria ini berhasil menemukan Atman Yoga. Kini, teknik temuannya sudah menyebar ke 52 negara di dunia.
Jika Yoga berarti kembali kepada Tuhan, maka Atman, yang juga diambil dari bahasa Sansekerta memiliki arti roh (diri sejati). Penggabungan Atman Yoga berarti teknik untuk mencapai yoga melalui kesadaran Atman.
Di Unpar, pimpinan kampus ini mempercayakan salah satu ruangannya untuk UKM Atman Yoga. Sekretariat yang berada di Ruang Piala terletak berdampingan dengan Gedung Serba Guna ini sangat terbuka, juga bagi mereka yang ingin mengenal tentang Atman Yoga.
Pada hari-hari tertentu, Senin dan Rabu sore, sebanyak 20 anggota Atman Yoga terus menggembleng diri. Suasana sejuk dan kekerabatan yang kental sangat kentara saat mereka berlatih.
"Di sini kita mengajarkan soal hati. Bagaimana caranya kita bisa mencapai hati dan menggunakannya secara lebih baik," kata Ketua UKM Atman Yoga Dicky Hanindyo.
Sekali pun diidentikkan dengan suatu agama tertentu, Atman Yoga sebenarnya bersifat lintas agama. Inti kegiatannya hanya mengajarkan bagaimana menggunakan hati dan selebihnya berdoa menurut agama masing-masing. "Justru banyak yang mengaku setelah mengikuti Atman Yoga mereka menjadi lebih khusyuk ketika sembahyang," tambah Dicky.
Seorang anggota Atman Yoga asal Bali, Ni Luh Ketut Septiaryani memastikan jika seseorang sudah mengenal hatinya, ia akan lebih banyak tersenyum kepada sesamanya. Dalam kehidupan pun, seorang pribadi akan menjadi lebih tenang.
Ini terbukti dari pengalamannya sendiri. "Dulu ada beberapa orang yang tidak suka kepada saya, dan itu bikin saya merasa tidak nyaman. Setelah masuk Atman Yoga, saya belajar menjadi lebih tenang. Jadi, kalau ada orang yang sinis, saya hanya tersenyum dengan tulus dari hati," ujarnya.
Konsep Atman Yoga yang ingin membuka jalan ke hati bisa jadi terdengar aneh dan di luar bayangan. Tetapi, ini memang harus dirasakan dengan hati.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia lebih banyak menggunakan otak untuk berpikir dan sering mengabaikan hati nurani. Dengan berlatih Atman Yoga, sementara otak diistirahatkan, dan mencoba meraih hati. "Semua orang bisa menggunakan hatinya, asal tahu caranya. Atman Yoga hanya fasilitas untuk mempergunakan hati lebih baik," jelas Dicky.
Sebagai gambaran, latihan dasar Atman Yoga dimulai dengan melakukan meditasi. Duduk tegak, agar energi makro mengalir melalui cakra mahkota di kepala sampai dengan cakra dasar. Saat bersamaan tangan diposisikan di tengah dada. Santai sambil memejamkan mata, bertujuan agar dominasi otak berkurang. Lepaskan semua pikiran dan senyum kepada hati. Rasakan hati sebagai sesuatu energi yang tenang dan damai.
Yang menarik dari Atman Yoga adalah proses healing, yaitu mengalirkan energi reiki ke seluruh tubuh agar lebih tenang dan sehat. Caranya sama dengan dasar Atman Yoga. Hanya saja ada satu orang pasien dan ada beberapa penyalur energi.
Saat proses healing, pasien akan merasakan kesemutan di daerah-daerah sensitif seperti kepala, tangan, dan kaki. Ini wajar karena healing membuang energi negatif dalam tubuh dan membersihkannya, agar hati menjadi bersih. "Ada orang yang baru sekali di-healing sudah merasa lebih tenang. Tapi ada juga yang butuh berkali-kali, tergantung seberapa keras otaknya, dalam artian sering digunakan berpikir, tegang atau stres. Tetapi rata-rata sepuluh kali datang ke UKM bisa merasa lebih tenang," jelas Dicky.
Pria berkacamata minus ini tidak hanya berpromosi. Ia sendiri mengalami banyak perubahan setelah mengikuti Atman Yoga. "Dulu saya orangnya temperamental banget, tapi sekarang menjadi lebih mudah tersenyum dan memasrahkan semuanya kepada Tuhan," kata Dicky.
Dari segi prestasi belajar pun Dicky dan Ketut membenarkan adanya peningkatan. "Ini karena di Atman Yoga kita diajarkan untuk lebih fokus," tutur Dicky.
Ketut menambahkan, "Kalau dari segi kesehatan, saya merasakan sekali manfaatnya. Dulu hampir tiap dua minggu sekali saya kena tifus, tetapi setelah tingkat satu hingga saat ini nggak pernah lagi."
Di sisi lain, sekalipun sudah diakui sebagai bagian dari organisasi kampus, keberadaan Atman Yoga di Unpar ternyata juga tidak berlangsung mulus. Ada banyak hambatan, juga bentrok dengan berbagai kepentingan lain. Alasan untuk menganaktirikan UKM ini juga klise, yakni dianggap kurang berprestasi, karenanya kurang diperhatikan.
"Dulu kita berlatih setiap hari Senin dan Rabu di Ruang Piala, tapi karena ada beberapa UKM lain yang lebih diutamakan ingin memakai ruangan itu, kita mengalah. Kita masih menunggu ruangan yang dijanjikan di Student Centre," tambahnya.
Pembangunan Student Centre Unpar yang dijadwalkan selesai pada akhir Januari ternyata molor, belum selesai sampai sekarang. UKM ini pun belum mendapat ruangan yang tetap untuk berlatih. Meski begitu, kondisi itu tidak mematahkan semangat mereka untuk berlatih. Alternatif tempat berlatih pengganti pun dilakukan di pondokan teman dan di Hotel Jayakarta. (Dita Astarie/SG/EM/S-3)