Located in New Manila, The Magnolia Residences provides easy access to schools like St. Paul University, Xavier School, Immaculate Conception Academy and La Salle Greenhills as well as hospitals such as St. Luke’s and Cardinal Santos. Its proximity to the LRT II line makes traveling to different parts of the metropolis a breeze. The location also facilitates access to main roads leading to key urban hubs like Cubao, Makati and Ortigas.
Building amenities and features
Tower B amenities • Lap pool • Sun deck function area • Zen garden • BBQ pit • Jogging path • Game room • Multi-purpose room
Amenities for future residential towers
Library, fitness center, badminton court, multi-purpose room, children’s pool, wading pool with jacuzzi, tree house, open fitness deck children’s indoor and outdoor playgrounds
Typical residential features • Balconies in selected 2-bedroom and 3-bedroom units • Utility room with toilet for selected 2-bedroom and 3-bedroom units • Granite countertop with overhead and under counter kitchen cabinets • Bedroom closets • Provisions for: - Individual electric and water meters - Cable TV
line - Telephone line - Electrical power for owner-supplied window-type air conditioners - Multi-point water heater line (excluding water heater) for toilet - Electrical load provision (50 amp for electric range and 30 amp for refrigerator) • Ventilation for kitchen and toilets • Intercom per unit connected to the security / reception counter • Automatic smoke detectors and fire alarm with sprinkle system in all units • Entrance panel door with viewer.
Building
facilities / services • Entrance lobby with reception / security counter • Three (3) elevators (2 passenger elevators and 1 service elevator) • CCTV monitoring of selected common areas • Annunciator panel with emergency speaker on all floors • Standby power generator for common areas and selected outlets in the residential unit • Automatic smoke detectors and fire alarm with sprinkler system in all common areas • Fire exits • 4 levels of parking
the units are all concrete using ready mix cement. column and beams using combination of 16mm and 20mm deformd bars, the sala, dining and kitchen will be using granite tiles, cabinets are custom made with mahogany varnish finishd, for the 2 bedroom units(units 3,4,5) bedroom floors will be parquet desing tiles. for the 3 bedroom units(units 1,2)bedroom floors would be laminated wood finish. all bedroom partition will be concrete. long span roof. steel railing on concrete stairs with wood plank steps. garage is plain cement finish. all toilet and bath using standard tiles and standard water closets. maindoor is solid
panel door toilet doors are PVC doors, bedroom doors are standard bedroom doors. Unit 1 being fronting the street has an extra 20sqm lot area that can be used for commercial purpose like water store, pawnshop, dental clinic etc that's why is it 500,000.00 more than the price of unit2.
walking distance from main road Aurora Blvd.
a minute away from Immaculate Concepcion Academy Schools
2 minutes away from Jubilee Christian Acadamy
15 mins away from ICA & Xavier School & La Salle Greenhills
a minute away from Magnolia ice cream house
5 mins away from GATEWAY MALL
10 mins away from SM Centerpoint Mall
15mins away from Trinoma
near Betty Go Belmonte LRT Station
near new manila area
it has a main gate entrance for the protection of the homeowners
target structure complete up to 3rd floor by july. turnover october
UNITS 3 & 4 SOLD Unit 3 & 5 LA=45sqm, FA=90sqm, 3sty, 2br, 3tb, 1cg, mr, sala/dining/kitch/bedrooms/t&b tiles flooring = UNIT 3 & 4 SOLD AT 3M
Unit 5 corner lot for sale at 3.2M with bigger floorspace
terms of payment: 25% downpayment, another 25% by august & 50% payment in full upon turn over. (forms of payment is negotiable)
incase ur asking about loan:
you can get a loan from the bank and terms of monthly payment will be determined by them. its a transaction between u & the bank.
we dont have inhouse financing
For more details: PLS CONTACT: MARGA 09228727178 OR 09178449379 TELEFAX: 7277247
I would like to send you this link about the Badminton PHILIPPINE GRAND PRIX GOLD 2009. It include free videos from Semi Finals to Final on Saturday 04 July --> Sunday 05 July 2009.
the units are all concrete using ready mix cement. column and beams using combination of 16mm and 20mm deformd bars, the sala, dining and kitchen will be using granite tiles, cabinets are custom made with mahogany varnish finishd, for the 2 bedroom units(units 3,4,5) bedroom floors will be parquet desing tiles. for the 3 bedroom units(units 1,2)bedroom floors would be laminated wood finish. all bedroom partition will be concrete. long span roof. steel railing on concrete stairs with wood plank steps. garage is plain cement finish. all toilet and bath using standard tiles and standard water closets. maindoor is solid panel door toilet doors are PVC doors, bedroom doors are standard bedroom doors. Unit 1 being fronting the street has an extra 20sqm lot area that can be used for commercial purpose like water store, pawnshop, dental clinic etc that's why is it 500,000.00 more than the price of unit2.
walking distance from main road Aurora Blvd.
a minute away from Immaculate Concepcion Academy Schools
2 minutes away from Jubilee Christian Acadamy
15 mins away from ICA & Xavier School & La Salle Greenhills
a minute away from Magnolia ice cream house
5 mins away from GATEWAY MALL
10 mins away from SM Centerpoint Mall
15mins away from Trinoma
near Betty Go Belmonte LRT Station
near new manila area
it has a main gate entrance for the protection of the homeowners
target structure complete up to 3rd floor by july. turnover october
UNITS 3,4 &5 SOLD Unit 3 to 5 LA=45sqm, FA=90sqm, 3sty, 2br, 3tb, 1cg, mr, sala/dining/kitch/bedrooms/t&b tiles flooring = UNIT 3 & 4 AT 3M & UNIT 5 AT 3.2M
terms of payment: 25% downpayment, another 25% by august & 50% payment in full upon turn over. (forms of payment is negotiable)
incase ur asking about loan:
you can get a loan from the bank and terms of monthly payment will be determined by them. its a transaction between u & the bank.
we dont have inhouse financing
For more details: PLS CONTACT: MARGA 09228727178 OR 09178449379 TELEFAX: 7277247
Tanpa
terasa 6 haripun berlalu sudah sejak hari pertama penyelanggaraan turnamen
Djarum Indonesia Open SS 2009. Meskipun penampilan atlet-atlet Indonesia tidak
sedahsyat tahun-tahun sebelumnya, kehadiran para atlet kelas dunia dihadapan
publik Istora akan menggoreskan kenangan tersendiri di dalam memori para
penggemarnya. Dua tahun yang lalu tim Indonesia yang diwakili oleh Pelatnas
mampu meloloskan satu wakilnya ke babak final meskipun akhirnya hanya mampu
menjadi yang kedua.
Kali
ini merah putih yang hanya diwakili oleh pemain professional, Taufik Hidayat
juga tak mampu berbuat banyak saat ditantang oleh jagoan Malaysia, Lee Choong
Wei (1). Senasib dengan Indonesia adalah tim China yang berhasil menempatkan 4
wakil di 4 nomor yang berbeda. Namun di laga pamungkas hanya Zheng Bo/Ma Jin
yang mampu naik podium dan mempersembahkan yang terbaik untuk negaranya.
Ganda
Campuran, Zheng/Ma Sang Pembunuh Raksasa
Setelah
menghempas NoLyn (1) dan Thomas/Kamilla (4) di laga sebelumnya, duet Zheng
Bo/Ma Jin kembali membuktikan konsistensinya saat menantang peraih emas
Olimpiade Beijing 2008, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung (2). Meskipun sempat terjadi
saling mengejar angka, duo Lee secara umum menguasai jalannya pertandingan di paruh
awal set pertama dengan skor 10-7 akibat pengembalian bola Zheng Bo yang
terlalu melabar dan banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan Ma Jin khususnya
saat mengolah bola di depan net.
Setelah
menyakan angka di titik 10, Zheng/Ma mendapatkan momrntum kebangkitan keduanya
untuk berbalik unggul 13-10 dengan bola-bola potong dan smash Zheng Bo serta
penempatan yang akurat dari Ma Jin. Perjuangan satu demi satu angka yang diraih
melalui reli-reli panjang pun akhirnya terjadi di level ini hingga kedudukan
imbang 15-15. Dua kesalahan Hyo Jung di depan net dan bola tanggung Yong Dae
yang dimanfaatkan dengan baik oleh Ma Jin mengubah skor 18-15. Serangan
beruntun dari Zheng Bo kembali membuat duet China meluncur 19-16. Lee Hyo Jung
sempat menambah 1 poin dari bola mengambang Ma Jin di atas net namun
pengembaliannnya yang tidak sempurna dan gagal melewati net serta penempatan
bola Zheng Bo di sudut belakang lapangan akhirnya menutup set ini untuk
Zheng/Ma 21-17.
Di
set kedua, duet China seperti kehilangan momentum terbaiknya dan tidak fokus
dalam permainan. Beberapa kali bola Zheng/Ma gagal melewati net dan jatuh
melebar keluar lapangan. Tak menyia-nyiakan kesempatan ini, duo Lee langsung
menutup jeda interval set kedua dengan kemenangan telak 11-3. Bola-bola
tanggung Zheng Bo dan ‘service fault’ yang acapkali dilakukannya semakin
membuat duo tirai bambu kian tertinggal 5-16 dan 7-17. Serobotan Yong Dae yang
gagal melewati net setelah sebelumnya mampu memetik angka melalui smash
kerasnya mengantarkan ganda Korea pada skor kritis 18-8. Penempatan akurat Yong
Dae di tengah lapangan, drop shot Zheng Bo yang gagal melewati dinding net
serta adu drive yang ditutup oleh kesalahan Ma Jin memaksa rubber set dengan
keunggulan duo Lee 21-8.
Pasangan
China akhirnya kembali berhasil pada irama permainan mereka yang sebenarnya di
set ketiga. Sebaliknya, duet negeri
ginseng justru banyak melakukan kesalahan sendiri khususnya Lee Hyo Jung yang
beberapa kali gagal menyebrangkan bola melewati net. Memimpin 5-1 di awal set,
Zheng/Ma terus meluncur dan menyentuh jeda interval pertama kali, 11-7. Duo Lee
sempat bangkit dan menekan pasangan China sehingga Zheng Bo seringkali tidak
sempurna dalam mengembalikan bola. Ma Jin yang juga terkadang kurang cermat
saat beradu drive di depan net membuat kedudukan kembali setara di titik 14.
Kesalahan
beruntun yang dilakukan Hyo Jung dan Yong Dae membuat ZhengMa ‘leading’ 17-14
namun adu reli drive-drive pendek di depan net dengan dipadu netting bola-bola
sulit menguntungkan tandem Korea untuk memperkecil selisih poin menjadi 16-17.
Penempatan yang cerdik dari Ma Jin, pukulan ‘backhand’ Hyo Jung yang menyangkut
di net serta serobiotan Hyo Jung yang terburu-buru dan akhirnya gagal melewati
net memastikan gelar pertama bagi kubu China 21-16.
Saat
diwawancarai usai pertandingan, Ma Jin sempat mengeluhkan luka di kaki kirinya
yang sudah mulai terasa sejak set pertama dan memburuk di set kedua. “Selain
karena faktor Ma Jin, set kedua memang sengaja kami lepas karena kami mengalami
penuruan stamina yang luar biasa usai set pertama. Setelah menyimpan tenaga,
kami kembali berusaha tampil sempurna untuk merebut set ketiga”, jelas Zheng Bo
saat ditanya perihal kekalahan mereka.
“Kunci
kemanangan kami sebanarnya ada 3. Yang pertama memang standar kualitas di China
yang cukup tinggi untuk bisa terus dipadukan, yang kedua adalah karena kami
merasa sangat percaya diri untuk menang dan yang ketiga kami termasuk pasangan
baru sehingga banyak lawan yang belum mempelajari kekuatan kami” jawab Zheng Bo
panjang lebar. “Kemenangan ini akan menambah kepercayaan diri kami untuk
pertandingan selanjutnya. Target kami berikutnya adalah Kejuaraan Dunia”
tambahnya kemudian. Saat ditanya mengenai aura Istora yang berbeda dengan
turnamen super series lainnya Zheng Bo mengaku sudah mulai terbiasa dengan
kondisi tersebut karena sebelumnya saat bersama Gao Ling dirinya juga
menghadapi situasi yang sama.
Ma
Jin sendiri mengaku tidak ada persiapan khusus kecuali latihan sehari-hari
bersama Zheng Bo. Mengenai posisinya yang saat ini harus menggantikan nama
besar pemain ganda terbaik China, Gao Ling, Ma Jin pun tidak mau terlalu ambil pusing.
“Saya cuma bermain dengan gaya saya sendiri. Saat ini saya masih muda dan tidak
mau ada beban dan berpikiran banyak tentang hal tersebut. Hal ini justru akan
saya jadikan motivasi untuk kedepannya”, ungkap pemain kelahiran 7 Mei 1988 ini
dengan santai.
Tunggal
Putri, Bersinarnya Sang Bintang India
Harus
diakui bahwa saat ini China mendominasi sektor putri tidak hanya di tunggal
namun juga ganda. Kalaupun ada pemain yang mampu mendobrak esksistensi mereka
cahayanya tidak akan berpendar lama dan langsung meredup kembali. Tine
Rasmussen di usianya yang sudah mendekati kepala tiga merupakan salah satu nama
yang sanggup mematahkan hegemoni para pemain China. Untuk kelas Asia Tenggara,
nama Wong Mew Choo sempat melejit ketika dirinya berhasil menjuarai turnamen
China Open SS 2007 dengan mendepak 3 pemain senior China sekaligus di hadapan
publiknya sendiri, Zhu Lin, Zhang Ning dan Xie Xingfang. Namun sayangnya
seiring dengan cedera lutut yang dialaminya, prestasinya pun menjadi kian meredup.
Setelah
pada tahun lalu Maria Kristin secara mengejutkan mampu meloloskan diri ke babak
final dengan menjegal langkah Zhang Ning, tahun ini kejutan rupanya datang dari
dara 19 tahun asal India, Saina Nehwal (6). Tunggal peringkat 8 dunia itu hanya
membutuhkan waktu kurang dari setahun untuk masuk dalam elit 10 dunia dan
namanya mulai mendapat sosrotan publik paska kemenangannya atas Zhu Lin di
babak perempatfinal China Masters SS tahun lalu dan Kejuaraan Dunia Junior 2008
dengan menundukkan Sayaka Sato asal Jepang di babak final.
Kehilangan
fokus permainan di set pertama dan berakibat banyaknya kesalahan sendiri yang
dilakukannya membuat Saina tertinggal jauh 4-9 dan 7-14 di set pertama.
Serangan tajam Wang Linyang gagal
dikembalikan oleh Saina membuatnya terus unggul hingga 19-9 sebelum akhirnya
menutup set ini dengan mudah 21-12. Hasil ini sempat menciutkan semangat publik
Istora yang sejak awal pertandingan memberikan dukungan penuh kepada Saina. Tidak ada yang istimewa dari dara ini di set
pertama sehingga kekhawatiran akan nasibnya berujung sama dengan tunggal
Indonesia Maria Febe semakin tergambar saat memasuki set kedua.
Setelah
mengambil nafas dua menit sembari mendapatkan wejangan dari sang pelatih, para
penonton mulai terkesima dengan Saina ketika gadis India ini mampu mengambil
setiap bola sulit yang diberikan Wang Lin dengan pengembalian yang sempurna.
Bahkan tekanan yang dilakukan oleh Wang Lin acapkali menjadi senajat makan tuan
yang akhirnya justru menambah keunggulan bagi Saina. Riuh rendah sorakan
penonton sembari meneriakkan nama “IN-DI-A” semakin menambah seru jalannya
pertandingan di set kedua. Tertinggal 1-4 di awal set, Saina mampu bangkit
dengan permainan netting yang sempurna dan drop shot yang tajam hingga
kedudukan 5-5. Adu netting yang akhirnya dikembalikan melebar kebelakang oleh
Wang Lin dan smash keras Saina yang cukup keras membuatnya unggul lebih dulu
9-7 dan 11-8 saat jeda interval.
Adu
bola-bola pendek di depan net yang ditutup oleh smash Wang Lin dan serobotan
Wang Lin yang menempatkan bola jauh kebelakang membuat tunggal China ini
kembali menyeimbangkan angka di titik 11. Saina kembali unggul 15-12 ketika
penegmbalian Wang Lin setelah beradu netting selalu melebar ke luar lapangan
dan smash Saina yang gagal dikembalikannya dengan sempurna. Pengamatan yang
tidak cermat dari Wang juga membuat Saina lebih mudah untuk mengumpulkan poin
setelah berkali-kali lob belakang dan ‘placing’ Saina selalu dilepas dan
dianggap keluar oleh Wang.
Wang
Lin kembali mendapatkan meomentum keduanya di titik 16-16 ketika bola-bola Wang
Lin yang teralalu menukik gagal dikembalikan oleh Saina di depan net. Bahkan
pemain muda China tersebut sempat unggul 17-16 ketika pengembalian Saina
terlalu melebar kebelakang. Penempatan drop Shot Saina yang akurat kembali
menyamakan skor di angka 17. Tiga poin beriring dari smash Saina dan bola drive
Wang Lin yang terlalu melebar mengantarkan Saina pada match point 20-17. Lob
Wang Lin ke bagian belakang lapangan setelah berada netting sempat
memperpanjang nafas tunggal negeri panda tersebut namun adu drive yang
diselesaikan dengan bola potong Wang Lin yang ternyata keluar memaksakan rubber
set untuk Saina 21-18.
Kepercayaaan
sang ratu Bombay tersebut akhirnya benar-benar bangkit di set ketiga. Setelah
tertinggal 2-5 dan 5-7 di awal set Saina mampu membalikkan keadaan menjadi 12-7
ketika penempatan bola sulitnya dan drop shot silangnya sukses menembus
partahanan Wang Lin. Saina terus memaksa bermain reli dan akhirnya mampu
mampretahankan keunggulannya hingga kedudukan 15-8 dari bola-bola serangnya dan
‘defense’ yang luar biasa ketika harus mengejar bola-bola Wang Lin. Saina
akhirnya hanya memberikan 1 angka untuk Wang Lin ketika drop shot Wang Lin
berkali-kali menghujam lapangannya. Enam angka beruntun yang dikoleksinya
penempatan dan akurasi serangan serta 2 ‘lucky shot’ hasil guliran bola di
bibir net memastikan gelar pertama Sania di ajang Super Series, 21-9.
“Saya
hampir tidak percaya dengan kemenangan ini. Benar-benar masih sulit
membayangkannya”, ungkap Saina berseri. “Target awal saya cuma ronde pertama”
akunya malu saat ditanya oleh pers perihal targetnya sebelum berangkat ke
Indonesia. “Saya ketemu Petya di ronde pertama dan saat ini penampilannya
sangat baik. Beberapa kali dia selalu mampu mengalahkan saya. Apalagi jalan
saya ke babak-babak berikutnya tidaklah mudah”, cerita Saina. Mengenai
kekalahan telaknya di set pertama, Saina mengaku memang kehilangan fokus
pertandingan. “Saya benar-benar belum ‘in’ waktu itu. Pikiran saya terpecah,
apalagi melihat suasana lapangan yang luar biasa. Oleh sebab itu saya hanya
menganggapnya sebagai ‘warming up’ dan benar-benar mengalami penurunan semangat
saat itu”, tambah Saina panjang lebar.
“Kuncinya
di kepercayaan diri”, sahut Saina singkat. “Saat ini tidak banyak tunggal putri
yang bisa bersaing dengan pemain China. Hanya Tine yang mampu membendung mereka”
papar Saina. “Dukungan penonton juga berpengaruh besar terhadap kemenangan
saya. Apalagi tadi ada suporter yang khusus membawa bendera India untuk saya”
lanjutnya kemudian. “Kemenangan ini akan menjadi motivasi saya di turnamen
selanjutnya. Saya akan berusaha tampil yang terbaik khususnya saat Kujuaraan
Dunia 2009 yang akan dilangsungkan di negara saya”, tutur Saina bersemangat.
Atik
Jauhari yang mendampingi anak didiknya saat ditanya oleh pers mengaku tidak membebani
target apapun terhadap Saina.”Saya Cuma minta dia bermain lebih bagus dari
Singapore Open minggu kemarin. Eh tidak disangka ternyata malah bisa merebut
gelar juara”, jelas Atik. “Saya ingin memasukkan Saina ke peringkat 5 dunia
tahun depan, tapi sepertinya target saya akan terepenuhi lebih cepat” tandasnya
kemudian. Mengenai tips kemenangan Saina di set kedua setelah kekalahan telak
di set pertama, Atik hanya menjawab “Saina memang mengalami kemajuan pesat
akhir-akhir ini. Defense, smash, drop shot dan nettingnya berkembang jauh lebih
lebik. Set pertama jiwa Saina memang tidak dilapangan, di set kedua saya minta
dia untuk main reli dan saya yakin Saina pasti bisa menang klo diajak reli”,
jelasnya dengan nada optimis.
Perihal
hasil buruk yang dituai oleh srikandi Indonesia, Atik juga ikut berkomentar “Di
India kondisinya jauh lebih sulit. Bulutangkis itu belum popular dan hanya
untuk kalangan menengah ke atas. Orang tua di India lebih suka anaknya belajar
di sekolah daripada turun ke lapangan. Jika mereka yakin dengan peluang bakat
anaknya, barulah berani untuk professional di bulutangkis dengan menaggil guru
sekolah ke rumah”. “Di sana pelatih seperti dewa ketiga, setelah kedua orang
tua. Mereka benar-benar tunduk dan patuh kepada pelatih. Makanya mereka selalu
disiplin dalam latihan. Saya rasa disiplin jugalah yang harusnya menjadi kunci
bagi atlet Indonesia jika ingin berhasil” tuturnya kemdian.
“Saya
sudah 27 tahun mengabdi untuk tim Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, PBSI
juga pernah meminta saran dari saya untuk kebangkitan pemain Indonesia dan saya
selalu memberikan nasihat. Dan jika memang dibutuhkan, saya siap untuk
senantiasa memberikan sumbangsih bagi Indonesia” jelas Atik saat ditanya apakah
dirinya bersedia untuk menggantikan posisi pelati tunggal putri di Pelatnas.
Ganda
Putri, Malaysia Runtuhkan Hegemoni China
Duet
peringkat 1 dunia, Wong Pei Tty/Chin Eei Hui kembali menunjukkan konsistensi
permainan mereka setelah di babak sebelumnya memetik kemenangan atas dua ganda
terkuat dunia, Lee Hyo Jung/Lee Kyung Won dan Cheng Wen Hsing/Chien Yu Chin.
Duet China yang menempati unggulan ke-2, Cheng Shu/Zhao Yunlei akhirnya gagal
menambah koleksi gelar bagi tim China di turnamen ini. Wong/Chin tampil tak
hanya sempurna dalam hal ‘defense’ akan tetapi juga unggul dari sisi serangan
dan permanan netting.
Di
set pertama, Chin Eei Hui yang kali ini tampil minim ‘unforced error’ mampu
unggul 12-6 dan 18-11 dari kesalahan sendiri yang dilakukan oleh
Cheng/Zhao.Pertandingan yang merupakan antiklimaks dari tandem terbaik China
ini berhasil dimanfaatkan wakil Malaysia untuk memetik kemenangan 21-16 di set
pertama. Perolehan poin yang lebih ketat dengan malului reli-reli panjang
antara kedua pasangan kembali tersaji di set kedua. Cheng/Zhao yang tak mampu
keluar dari tekanan dan banyak melakukan kesalahan sendiri akhirnya kembali
tertinggal 7-12 di apruh awal set kedua.
Sempat
memperkecil selisih poin menjadi 12-13 dan 13-14 dari bola-bola potong Zhao
Yunlei dan beberapa kesalahan sendiri Wong Pei Tty, duo China kembali kedodoran
13-17 dari penempatan bola-bola Chin Eei Hui yang sulit dijangkau. Kesalahan
beruntun Wong/Chin di depan net, menambah koleksi poin Cheng/Zhao menjadi 16-17
namun 4 angka beruntun yang diraihWong/Chin dari ‘placing’ dan smash Wong Pei
Tty, serta smash Cin Eei Hui yang tidak mampu diantisipasi oleh Cheng Shu
akhirnya menutup set ini 21-16 untuk kejayaan sang negeri jiran.
Tunggal
Putra, Taufik Gagal Pecahkan Rekor
Ambisi
untuk memecahkan rekor 6 kali juara Indonesia Open atas nama Ardy B Wiranata
dan Susy Suanti rupanya gagal diwujudkan oleh tunggal asal Pangalengan ini. Di
tantang oleh unggulan teratas, Lee Choong Wei, Taufik yang mendapat dukungan
dari segenap pengunjung Istora rupanya masih belum mampu meredam keuletan
pemain terbaik dunia tersebut.
Di
awal set pertama, Taufik masih mampu meladeni serangan dan tekanan Lee dengan
menyamakan kedudukan di angka 5. Namun seiring dengan berjalannya waktu,
banyaknya bola-bola Taufik yang tak mampu melewati net dan pengembaliannya yang
melebar ke luar lapangan mengubah 9-5 dan 11-7 untuk Choong Wei saat jeda
interval set pertama. Bola tanggung Taufik setelah adu drive di depan net juga
memudahkan Lee untuk menutup set ini. Smash dan lob serangnya mampu membuat Lee
unggul 12-9. Delapan poin beruntun yang dibukuan oleh Lee dari pengembalian ‘eror’
Taufik akhirnya memudahkan Lee untuk merebut set ini dengan kemenangan telak
21-9.
Penampilan
Taufik di awal set kedua ketika membuahkan poin demi poin kembali memicu semangat
para pendukungnya. Unggul 7-1 rupanya tidak mampu dimanfaatkan oleh peraih
medali emas Olimpiade tersebut untuk mendapatkan momentum ‘second winning’-nya.
Smash dan bola serobotan Lee di depan net akhirnya mampu membuatnya menyamakan
kedudukan dia angka 7 dan berbalik unggul 10-8. Taufik kembali menyamakan angka
di titik 11 dari permainan nettingnya yang super tipis dan backhand smash yang
cukup keras.
Setelah
tertinggal 11-13 dan 12-15 dari smash Lee yang dikembalikan ‘out’ oleh Taufik,
tunggal merah putih tersebut kembali memperkecil selisih angka menjadi 14 -15
dari beberapa kesalahan sendiri Choong Wei dan smash-smash keras Taufik. 6
angka berturut-turut yang dikumpulkan Lee dari smash silangnya dan pengembalian
melebar Taufik akhirnya menyudahi set ini sekaligus memastikan gelar kedua bagi
negeri jiran, 21-14.
Lee
Choong Wei yang diwawancarai usai pertandingan mengakui bahwa Taufik memiliki
kelemahan di depan net pada hari ini. “Saya hanya mencoba untuk fokus di
pertandingan, meskipun sempat tertinggal di awal set kedua” paparnya dengan
bahasa melayu yang cukup fasih. Mengenai kesempatan karir Taufik di masa yang
akan datang, Lee tidak mau berkomentar. “Kita sudah berteman baik sejak lama.
Saat ini dominasi China di tunggal putra cukup kuat, mungkin kita berdua
diantaranya yang mempunyai kesempatan untuk menandingi mereka” ungkap tunggal
terbaik dunia yang sejak bulan depan akan dilatih oleh Hendrawan ini. “Saat ini
saya masih dilatih oleh Rashid, ada banyak hal yang bisa saya pelajari dari
Hendrawan, salah satunya adalah masalah disiplin” ungkapnya kemudian.
Ganda
Putra, Jung/Lee Pupuskan Ambisi Fu/Cai
Duel
yang tak kalah serunya adalah pada partai terakhir antara wakil Korea, Jung Jae
Sung/Lee Yong Dae (6) yang menjamu unggulan ke-5, Fu Haifeng/Cai Yun. Fu/Cai
menjadi harapan terakhir tim China untuk menambah gelar setelah dari 4 wakil
yang bertanding di partai puncak, China hanya mampu mengoleksi satu gelar.
Permainan reli-reli drive cepat yang disajikan oleh kedua pasangan menjadi
tontonan yang cukup seru bagi para pengunjung Istora. Duet Jung/Lee yang lebih
mengandalkan kecepatan serangan dan bola-bola pendek, mampu menekan Fu/Cai dan ‘leading’
14-8. Meskipun sempat memperkecil selisih poin menjadi 14-16 dari penempatan
bola akurat Cai Yun, duo China masih sulit untuk mebendung gempuran Jung/Lee
dan kembali tertinggal 14-19.
Tidak
hanya memiliki pertahanan yang sempurna, pasangan Korea khusunya Yong Dae juga
cukup jeli untuk melihat setiap peluang yang ada ketika akan melancarkan serangan.
Servis panjang Fu yang sempat menipu ganda Korea akhirnya mengubah kedudukan
menjadi 15-19. Adu drive yang ditutup oleh kegagalan Fu di depan net serta net
silang Cai Yun yang gagal melewati dinding net setelah berkali-kali menekan
Yong Dae namun selalu mampu dikembalikan oleh ‘si anak ajaib’ tersebut akhirnya
menyudahi set ini untuk tandem negeri ginseng, 21-15.
Perseteruan
di set kedua berlangsung lebih intens dengan selisih 1-3 poin. Fu/Cai yang
sudah mampu mengembangkan permainan mereka akhirnya mampu mengimbangi serangan
dan tekanan dari pasangan Korea. Tertinggal 1-4, Fu/Cai mampu menyemakan
kedudukan di titik 5 dan berbalik unggul 11-9. Smash beruntun pasangan China
yang selalu mampu dikembalikan oleh ganda Korea akhirnya menjadi suatu
tontongan yang apik ketika Jung/Lee mampu menciptkan momen untuk balik
menyerang dan akhirnya menghasilkan poin. Setelah kedua pasangan berbagi angka
sama hingga skor 16-16, Jung/Lee lebih dulu menyentuh skor 18-16 dari permainan
drive cepat di depan net yang gagal dikembalikan oleh Fu dan penempatan Jung
Jae Sung di depan net.
Pengembalian
melebar Lee Yong Dae dan Jung Jae Sung kembali memunculkan asa untuk ganda
China 18-18. Tiga angka beruntun dari adu netting yang di kembalikan ‘out’ oleh
Fu Haifeng, bola tanggung Fu yang di selesaikan sempurna oleh smash Yong Dae
dan smash keras Yong Dae kea rah baseline sudut kanan lapangan menutup
kesempatan bagi duet China , 18-21. Cai Yun yang merasa kesal dengan hasil ini
sempat mematahkan raketnya sebelum bersalaman dengan atlet terkait dan para
official.
Usai
pertandingan Jae Sung hanya mengakui bahwa kunci kemenangan mereka kali ini
adalah permainan bola-bola cepat di depan net. “China mungkin bermain di bawah ‘pressure’
teruatama di set kedua, mereka banyak mealakukan kesalahan sendiri”, urai Jae
Sung. Mengenai tingkat kesulitan permainan, Jung/Lee mengaku bahwa pertahanan
China lebih sulit ditembus namun untuk tingkat kesulitan maka partai semifinal
lah yang lebih sulit. “Tadi di kedua kita sempat mendapat ‘bad call’ dan faktor
tesrebut merupakan hal yang paling kritis khususnya bagi Yong Dae. Namun
meskipun kehilangan momentum, kita akhirnya encoba untuk fokus kembali”, papar
Jung kemudian.
Fu/Cai
yang juga sempat ditemui usai pertandingan hanya menjawab pendek perihal
kekalahan mereka, “Korea memang tampil lebih baik, kami kalah cepat dari
mereka. Tapi kami tetap akan terus mencoba di Kejuaraan Dunia nanti” (FEY).
Tim
tuan rumah akhirnya hanya meloloskan 3 wakilnya ke babak semifinal turnamen
Indonesia Open SS 2009. Harapan publik Istora sempat pupus saat menyaksikan
penampilan favorit juara Nova/Liliyana yang tidak mampu meladeni permainan duo
China. Namun kabar gembira tersaji di sektor putra. Sony DK dan Taufik Hidayat
akhirnya berhasil menyusul KiNdra ke 4 besar dan memastikan gelar runner up untuk negeri
tercinta.
Ganda
Putra, KiNdra Tantang Junge/Lee
Jalan
terjal kembali akan dihadapi oleh duet peraih emas Olimpiade Beijing 2008,
Markis/Hendra di babak semifinal setelah pada tadi sore keduanya berhasil
menundukkan kompatriotnya, Alvent/Hendra AG melewati pertarungan dua set 21-19,
21-11. KiNdra sempat tertekan dari serangan-serangan yang dibeberkan oleh duet
VenDra di set pertama. Penempatan bola-bola sulit serta pertahanan yang cukup
baik dari duet professional tersebut membuat KinDra beberapa kali justru
melakukan kesalahan sendiri. Namun berkat motivasi semangat dari para penonton,
keduanya mampu bangkit di poin kritis set pertama dan akhirnya memenangkan game
ini. Di set kedua, VeNdra justru mengendorkan tempo permainan sebaliknya KiNdra
mampu balik menekan dan menghasilkan poin demi poin.
Di
lapangan yang berbeda, meskipun harus berjibaku mental menghadapi sorakan public
Istora, unggulan ke-3 Koo Kien Keat/Tan Boon Heong juga meloloskan diri ke
babak semifinal setelah berhasil memupuskan harapan Indonesia lainnya, Luluk
Hadiyanto/Joko Riyadi yang sehari sebelumnya mampu bermain cemerlang atas duo
Inggris, Nathan/Anthony, tandem terbaik Malaysia tersebut harus melewati
pertarungan rubber set 21-11, 17-21, 21-11 dalam waktu 47 menit. Banyaknya
kesalahan sendiri yang dilakukan oleh LuJo di set ke-3 saat mengantisipasi
bola-bola drive di depan net memudahkan Koo/Tan untuk merebut set ketiga.
Semifinalis
lainnya juga ditempati oleh ganda terkuat dari Korea dan China. Jung Jae
Sung/Lee Yong Dae yang menempati unggulan ke-6 tanpa banyak kesulitan
mematahkan perlawanan wakil negeri jiran, Mohd Fairuz/Mohd Zakry 21-10, 21-15
sedangkan Fu Haifeng/Cai Yun (5) juga masih terlalu tangguh untuk duo Amerika,
Tony Gunawan/Howard Bach. Dalam waktu kurang dari 30 menit, Fu/Cai mampu
mengukir kemenangan 21-14, 21-14.
Ganda
Campuran, NoLyn Tersingkir
Penampilan
yang mengecewakan dari duet peringkat 2 dunia, Nova/Lily kembali terurai di
babak 8 besar turnamen Indonesia Open SS ketika dipertemukan dengan duo peringkat
7 dunia, Zheng Bo/Ma Jin (5). Serangan beruntun dari Zheng Bo serta ‘blocking’
yang sempurna dari Ma Jin di depan net dipadu dengan kesempurnaannya dalam
melakukan bola-bola ‘placing’ yang tidak terjangkau. Pertahanan yang sempurna
dari Zheng/Ma juga beberapa kali sulit ditembus oleh NoLyn sehingga membuat
keduanya justru pad akhirnya melakukan kesalahan sendiri. Meski reli-reli
panjang dari keduanya seringkali terlihat Zheng/Ma akhirnya mampu memetik
kemenangan 21-17, 21-18 yang sekaligus menambah daftar kegagalan NoLyn atas
pasangan China setelah pada pekan sebelumnya mereka juga bertekuk kepada Xie
Zhongbo/Zhang Yawen di semifinal Singapore SS 2009.
Langkah
Zheng/Ma sayangnya gagal diikuti oleh rekan satu timnya, Xie Zhongbo/Zhang
Yawen (6). Setelah hanya puas menjadi runner up turnamen Singapore SS 2009,
Xie/Zhang kali ini tidak mampu melayani kesolidan permainan unggulan Denmark,
Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl. Olahan bola Juhl di depan net berharmoni
dengan smash-smash keras Thomas Laybourn mampu menghantam duet peraih mahkota
Indonesia SS 2006 ini 21-11, 21-16, Sebaliknya, Xie/Zhang tidak hanya memiliki
pertahanan yang rapuh, smash-smash dan pengembalian Xie Zhongbo seringkali
gagal menyebrangi net dan menghasilkan ‘unforced error’ yang justru
menguntungkan bagi kubu Denmark.
Selain
meloloskan Thomas/Kamilla ke-4 besar, Denmark juga masih memungkinkan untuk
menggelar All Danish Final jika pasangan Joachim/Christinna (7) mampu membuat
kejutan dengan menggulingkan peringkat 1 dunia, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung di
laga semifinal hari ini. Joachim/Christinna yang mendapat dukungan penuh dari publik
Istora sempat kedodoran di akhir set pertama, 20-22. Namun di dua set
berikutnya, peraih mahkota turnamen Denmark Open SS 2008 tersebut akhirnya
mampu menuai kemenangan atas Han Sang Hoon/Jang Ye Na 21-17, 21-16. Sebagai
apresiasi bagi para pendukungnya, Joachim sempat melempar raket, kaos dan jam
tangannya untuk deperbutkan secara gratis. Sedangkan pada pertandingan lainnya,
duo Lee juga tanpa mengeluarkan banyak keringat akhirnya mencatat kemenangan
dari pasangan gado-gado, Robert Blair/Imogen Bankier 21-12, 21-18.
Tunggal
Putra, Duel Taufik Paling Emosional
Selain
KiNdra yang melaju ke semifinal, merah putih juga memastikan dua arjunanya ke
babak semifinal dan keduanya akan saling berseteru untuk memperebutkan satu
tiket final. Meskipun tidak tampil dalam performa terbaiknya, Sony akhirnya
mampu melangkahi wakil Hongkong tersisa, Chan Yan Kit melalui rubber set 18-21,
21-17, 21-10. Di set pertama Sony yang tidak memiliki pertahanan sempurna
beberapa kali gagal mengembalikan bola serang dari Chan. Meskipun perseteruan
keduanya berlangsung ketat di dua set awal, beberapa kesalahan sendiri yang
dilakukan oleh Sony memudahkan Chan untuk mengeleksi poin demi poin.
Pertandingan
yang paling emosional adalah antara dua sahabat lama sekaligus musuh bebuyutan
di lapangan, Taufik Hidayat (5) dan tunggal terbaik Eropa, Peter Gade (2). Ketatnya
persaingan antara pemain senior ini membuktikan kualitas mereka sebagai bagian
dari para atlet papan atas kelas dunia dari awal set pertama hingga set ketiga.
Angka demi angkapun tidak diperoleh dengan mudah dan diraih ketat poin demi
poin oleh kedua tunggal yang sempat menduduki peringkat satu dunia ini. Memanfatkan
bola tanggung dan kesalahan sendiri dari lawan setelah adu reli yang cukup
panjang mengisyaratkan tingginya kualitas permainan dari keduanya.
Susul
menyusul perolehan poin dan selisih 1-2 angka tersaji dari awal set pertama
hingga kedudukan 16-14 untuk Indonesia. Taufik akhirnya mampu memperjauh
kepemimpinannya hingga skor 17-14 dan 18-15 dari penempatan bola yang akurat di
area yang kosong. Namun Gade tidak hanya berhenti dan menyarah begitu saja. Smsh-smash
kerasnya yang sulit diantisipasi oleh Taufik mampu memperkecil selisih poin
menjadi 18-19. Di titik genting ini mental juara Taufik tak menyia-nyiakan bola
tanggung Gade di atas net, 20-19. Smash keras Taufik dari pengembalian tanggung
Gade menyudahi set ini untuk keunggulan peringkat 6 dunia tersebut 21-19.
Kesalahan
beruntun yang dilakukan oleh Taufik di depan net menyebabkan dirinya langsung
tertinggal 5-11 di paruh awal set kedua. Perlahan Gade semakin jauh
meninggalkan Taufik 17-8 ketika bola-bola pengembalian Taufik di bagian
belakang lapangan Gade seringkali tidak cermat dan melebar. Tak terkejar, Gade
dengan mudah menyelesaikan set ini 21-8
Kejar
mengejar angka yang cukup intens kembali tersaji di set ketiga. Meski Taufik sempat
unggul 11—7 saat jeda interval dari bebrapa kesalahan Gade di depan net, angka
kedua pemain ini kembali berimbang di titik 11 ketika ketika pengembalian dan
penempatan bola Taufik di bagian baseline beberapa kali melebar jauh. Dari
titik ini susul menyusul poin dari kesalahan sendiri yang dilakukan oleh lawan
hingga memasuki skor kritis 18-18 semakin membuat emosional public Istora kian
memuncah. Angka satu demi satu yang dikumpulkan oleh masing-masing pemain
selalu diakhiri dengan deraian tepuk tangan atau umpatan tanda kekesalan.
Taufik
unggul 20-18 dari penempatan bola Taufik di area baseline dan adu netting yang
diantisipasi dengan pengembalian ‘out’ Peter Gade. Dua ‘unforced error’ Taufik saat menempatkan
bola di area belakang lapangan nyaris membuyarkan impian peraih emas Olimpiade
Athena 2004 tersebut. Potongan bola Gade yang terlalu bernafsu dan akhirnya
menyangkut di net serta adu bola-bola drive dan netting yang dilembalikan
melebar oleh Peter memastikan langkah Taufik ke 4 besar, 22-20.
Dengan
hasil ini Taufik berhak untuk menantang Sony dan memperebutkan satu tiket ke
partai puncak. Saat ditemui dalamn konferensi pers usai melaksanakan
pertandingan Taufik mengaku bahwa partai 72 menit yang baru saja dijalaninya
merupakan pertandingan terbaik yang dialaminya kembali selama karir
badminton-nya yang sempat meredup di beberapa tahun terakhir. “Pertandingan
tadi seharusnya tersaji di partai final” ungkap Taufik. “Kalau boleh memilih
sebenarnya saya tidak mau bertemu dengan Peter dan kalaupun bertemu seharusnya
di partai paling akhir soalnya tadi lihat sendiri diantara kita kalau udah
ketemu pasti ga ada yang mau mengalah”, tambahnya kemudian.
Pertarungan
Taufik-Peter menang selalu berjalan alot dalam rubber set game. Pertemuan
terakhir mereka di perempatfinal All England 2009 juga harus dilaluinya dengan
3 set. “Set ke-2 tadi sempat grogi, pengen mengakhiri cepet-cepat” jawab Taufik
saat ditanya perihal kekalahan telaknya di set kedua. Menganai penampilannya di
Istora kali ini untuk memperjuangkan gelar ke-7 nya Taufik mengaku sangat
senang bisa bermain di Indonesia. “Senang bisa main di Istora, keluarga saya
dan istri saya juga bisa nonton”, jawabnya. Menyikapi suasana public Istora
yang sangat berbeda dari turnamen lainnya, Taufik menanggapi positif bahwa
pengaruh penonton bisa memberikan semangat kepada dirinya seperti di saat-sata
kritis tadi.
Perihal
pertemuannya dengan Sonny, Taufik tidak mau sesumbar yakin akan kemenangannya. “Saya
sudah 6 bulan tidak bertemu dan main bersama, jadi sulit untuk memprediksi kekuatan
masing-masing”, jelasnya. “Kalau ketemu teman sendiri sewaktu masih di
Pelatnas, kadang 10% kekuatan kita terasa berkurang. Mereka sudah tau kekuatan
dan kelemahan saya” papar Taufik. “Makanya kalau ketemu Sony atau Simon, kadang
saya menang tapi kadang saya juga dikalahkan mereka” lanjutnya kemudian. “Ya
lihat besok sajalah, yang penting kan sudah dipastikan satu wakil Indonesia ke
final, entah saya atau Sony” tandas Taufik seraya tersenyum.
Di
partai semifinal lainnya, jagoan Malaysia Lee Choong Wei (1) akan dijamu oleh
wakil China, Chen Jin (6). Choong Wei melumpuhkan perlawanan Park Sung Hwan
21-9, 21-13 sedangkan Chen Jin di luar dugaaan mampu menghempas kompatriotnya,
Lin Dan (3) 18-21, 21-17, 21-4.
Tunggal
Putri, Menunggu Kejutan Saina
Bintang
bersinar India, Saina Nehwal (6) kembali memancarkan di tahun keduanya dalam
turnamen Indonesia SS. Saina menjadi satu-satunya wakil non China di babak
semifinal yang mampu menggagalkan aksi All Chinese Final. Setelah melewati
pertarungan melelahkan, pemain muda India tersebut akhirnya mampu melibas wakil
negeri ginseng, Hwang Hye Youn, 21-7, 13-21, 21-15. Namun untuk bisa melaju ke
partai puncak, Saina harus mampu menyingkirkan andalan China, Lu Lan (7) untuk
bertemu pemenang antara Xie Xingfang (8) dan Wang Lin (3).
Lu
Lan sendiri melanggang setelah berjuang ketat menundukkan rekan senegaranya,
Wang Yihan (2), 21-10, 11-21, 22-20. Sementara itu Xingfang sempat dibuat ketar
ketir ketika meladeni tunggal Jepang Sayaka Sato. Setelah sempat tertinggal di
awal set, Xie beruntung akhirnya menyamakan kedudukan dan meraih kemenangan
22-20. Di set kedua, Xie menguasai jalannya pertandingan dan unggul telak
21-13. Pada partai pamungkas, Wang Lin (3) juga masih menang level dari
satu-satunya wakil merah putih yang tersisa, Maria Febe. Pertarungan yang
diaharapkan akan berlangsung ketat setelah menyaksikan kemenangan telak Febe
atas Aditi Mutatkar di babak sebelumnya ternyata justru berlangsung tak menarik
dengan banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan oleh wakil klub Djarum
tersebut saat mengembalikan bola-bola di depan net. Hal ini meudahkan Wang Lin
untuk membukukan kemenangan 21-11, 21-10.
Ganda Putri, All Asian Affair
Kesuksesan
Lee Hyo Jung bersama Lee Yong Dae di nomor campuran sayangnya tidak mampu
diikuti oleh pariah perak Olimpade Beijing 2008 tersebut di sektor ganda putri.
Ditantang oleh unggulan teratas asal Malaysia, Wong Pei Tty/Chin Eei Hui, duo
Lee akhirnya menyerah dalam perseteruan 3 set, 21-14, 9-21, 21-18. Rapuhnya
pertahanan dari duo Korea ini dan banyaknya kesalahan sendiri yang mereka
lakukan di set ketiga memudahkan langkah Wong/Chin untuk merebut tiket
semifinal. Namun meskipun duo Lee tersandung langkahnya di 8 besar, kubu Korea
masih bisa menggantungkan harapan mereka pasa duet Ha Jung Eun/Kim Min Jung (4)
harus berjuang keras melalui reli-reli panjang menyudahi perlawanan duet ‘coba-coba’
Bulgaria-Rusia, Petya Nedelcheva-Anastasia Russkikh 21-19, 21-19. Kurangnya konsistensi
dari duo Petya/Anastasia ketika mereka berhasil unggul di poin-poin akhir
membuat Ha/Kim mampu mengejar ketrtinggalannya dan akhirnya memetik kemenangan.
Wakil
negeri jiran Wong/Chin akan ditantang oleh unggulan ke-3, Chin Yu Chin/Cheng
Wen Hsing yang mengubur impian pasangan satu timnya, Chang Hsin Yun/Chou Chia
Chi 21-11, 19-21, 21-11 sedangkan Ha/Kim harus bermain maksimal untuk merampas
tiket dari unggulan ke-2, Cheng Shu/Zhao Yunlei yang menang 3 set atas senior
mereka, Zhang Yawen/Zhao Tingting, 21-17, 10-21, 21-13 (FEY).
Tim tuan rumah akhirnya berhasil
meloloskan 7 wakilnya ke babak 8 besar turnamen Indonesia Open 2009 setelah di
babak perdelapan final hari ini beberapa pemain merah putih mampu menciptakan
kejutan tak terduga. Namun runner up turnamen ini setahun yang lalu, Simon
Santoso (8) harus tersisih lebih awal saat di tantang oleh jagoan Korea, Park
Sung Hwan.
Pertandingan hari ketiga turnamen
Indonesia SS 2009 sudah mulai dibanjiri oleh penonton. Beberapa diantarabya
bahkan harus rela mengantri dari pagi namun tidak beruntung mendapatkan tiket
masuk. Tunggal pelatnas, Adriyanti Firdasari mengawali pertarungan di lapangan
2 menghadapi andalan China, Wang Lin. Meladeni permainan taktis Wang Lin
tentunya bukanlah hal yang mudah bagi Firda. Beberapa kali Firda tampak
berjibaku di lapangan untuk mengantisipasi bola-bola dari tunggal China
tersebut. Dalam tempo 17 menit, Firda akhirnya menyerah 13-21.
Namun rupanya selama pertandingan
Firda tak mampu bermain maksimal akibat cedera engkel kaki kanan yang
dialaminya saat menghadapi tunggal Belanda, Yao Jie di babak pertama kemarin.
Akibat tetap ngotot menantang Wang Lin, cedera yang dialami oleh Firda akhirnya
kambuh lagi. Setelah menjalani perawatan darurat di pinggir lapangan, pelatih
Marleve Mainaky akhirnya member isyarat kepada wasit untuk tidak melanjutkan pertandingan
sehingga Wang Lin dinyatakan lolos ke babak perempatfinal.
“Saya
sebenarnya sudah pakai obat penahan rasa sakit. Cuma setelah set pertama saya
sudah tak tahan lagi. Agak kecewa juga dengan keadaan ini. Tapi yang lebih
mengecewakan saya karena cedera ini saya alami di saat pertandingan”, papar
tunggal putri kedua Indonesia tersebut. “Beruntung cederanya tidak serius.
Dokter hanya meminta saya untuk istirahat 1-2 minggu. Saya yakin kalau tidak
cedera akan ramai pertandingan tadi” sambungnya setelah menjalani perawatan
yang lebih intensif di ruan medis. Ini bukan merupakan cedera pertama yang
dialami oleh Firda. Sebelumnya, Firda juga pernah mengalami masalah pada lutut
kanannya.
Selain Wang Lin, China juga
berhasil mendominasi sektor tunggal putri dengan meloloskan 3 wakil lainnya.
Unggulan ke-8, Xie Xingfang tanpa banyak kesulitan menyingkirkan wakil Belanda,
Rachel Van Cutsen 21-6, 21-15 sedangkan Wang Yihan (2) menjungkalkan dara muda
Thailand, Porntip Buranaprasertsuk, 21-16, 21-5. Duel antara pemain China yang
diharapkan akan berjalan seru ternyata berlangsung tidak seperti yang
diharapkan. Unggulan ke-7, Lu Lan yang mengalami nasib buruk di turnamen
Singapore SS pekan lalu, kali ini mampu bernafas lega saat berhasil menundukkan
sang juara bertahan, Zhu Lin, 21-13, 21-11.
Empat tempat lainnya juga diisi
oleh para pemain berdarah Asia. Saina Nehwal (6) harus berjuang keras 18-21,
21-7, 21-19 untuk menyingkirkan Juliane Schenk yang sedangan berada dalam
performa terbaiknya. Maria Febe akhirnya menjadi satu-satunya tumpuan Indonesia
di sektor ini setelah membukukan kemanangan telak atas lawannya, Aditi
Mutatkar, 21-8, 21-5. Kekalahan Wang Chen (4) atas Hwang Hye Youn akhirnya
memupuskan harapan kejutan dari pemain naturalisasi China untuk berjaya yang
kedua kalinya. Sempat memaksa rubber set 21-14 setelah tertinggal 19-21, Wang
Chen akhirnya harus mengakui ketangguhan Hye Youn 14-21 di partai pamungkas.
Duel antara dua pemain kualifikasi Sayako Sato dan Kim Moon Hi akhirnya
dimenangkan oleh tunggal negeri sakura 21-15, 21-18.
Keberuntungan para pemain
Indonesia sedikit lebih baik di sektor tunggal putra. Meskipun Simon Santoso
(8) gagal mengulang prestasinya setahun yang lalu setelah ditundukkan tunggal
terbaik Korea, Park Sung Hwan 16-21, 17-21, Indonesia masih memiliki harapan
untuk meraih gelar dari Sony Dwi Kuncoro (4) dan Taufik Hidayat (5). Sony mampu
bermain lebih tenang saat menyingkirkan Wong Choong Hann 8-21, 12-21 sedangkan
Taufik harus berjibaku 3 set untuk mengimbangi permainan ulet wakil Thailand,
Boonsak Ponsana. “Saya bermain lebih senang hari ini disbanding kemarin. Kini
saya agak fokus, jadi saya bisa bermain lebih sabar dan tenang”, kata Sonny.
Unggul 21-17 di set pertama,
Boonsak mampu bangkit dan meladeni perolehan angka Taufik di paruh akhir set
ketiga hingga skor kritis 19 sama. Di titik ini Boonsak mendapatkan ‘second
winning’ dengan kemenangan 21-19. Permainan reli-reli panjang Boonsak ruapanya
justru menghabiskan stamina peraih gelar Singapore SS 2007 itu di set ke-3.
Setelah tertinggal jauh 6-11 dan 8-13, Boonsak semakin sulit untuk mengejar
Taufik dan akhirnya menyerah 10-21.
Peter Gade yang menuai kemenangan
atas tunggal fenomenal Vietnam, Nguyen Tien Minh 13-21, 21-19, 21-14 akhirnya
menjadi satu-satunya wakil Denmark di sektor ini setelah sebelumnya unggulan
ke-7, Joachim Persson gagal melumpuhkan perlawanan bintang Hongkong, Chan Yan
Kit 22-24, 13-21.
Di nomor berpasangan merah putih
hanya menyisakan wakil di sektor ganda putra dan campuran. Dua ganda Indonesia
yang ditantang oleh para utusan China juga harus memetik kekalahan atas
lawan-lawannya. Kolaborasi Fran Kurniawan/Pia Zebadiah gagal meredam permainan
Xie Zhongbo/Zhang Yawen (6) dan menyerah 16-21, 15-21. Sedangkan Vita Marissa
yang baru saja menggandeng Hendra AG juga tak dapat berbuat banyak ketika
dijamu oleh juara Singapore SS 2009, Zheng Bo/Ma Jin (5). Hendra/Vita dipaksa
bertekuk dua set langsung 16-21, 12-21.
“Kami baru berpasangan selama
sebulan terakhir. Kami belum padu dan masih banyak yang harus dibenahi”, kata
AG dalam jumpa pers seusai pertandingan. “Pasangan China ini kelasnya sudah
seperti senior kami, Nova/Liliyana”, sambungnya kemudian.
Nova Widhianto/Liliyana Natsir
sebagai favorit teratas akhirnya menjadi satu-staunya tumpuan public Istora setelah
keduanya memetik kemenangan atas duet Korea, Yoo Yeon Seong/Kim Min Jung,
21-17, 21-17. Namun untuk meraih tiket semifinal bukanlah hal yang mudah bagi
peraih juara dunia 2005 dan 2007 ini. Zheng Bo/Ma Jin yang pekan lalu
menghentikan duet Lee Hyo Jung/Lee Yong Dae di partai semifinal Singapore Open
SS akan menjadi jalan terjal mereka berikutnya.
Kejutan terbesar di nomor ini
adalah tumbangnya unggulan ke-8, Sudket/Saralee atas pasangan gado-gado
Inggris-Skotlandia, Robert Blair/Imogen Bankier. Setelah bersitegang selama
hampir 1 jam, Robert/Imogen akhirnya unggul 21-19, 11-21, 21-11. Selain itu dua
tunggal Eropa yang juga ikut melaju ke 8 besar adalah dua pasangan Denmark, Thomas
Laybourn/Kamilla Rytter Juhl (4) dan Joachim Fischer/Christinna Pedersen (7).
Keduanya melibas dua wakil Asia, Mohd Razif/Woon Khe Wei 21-13, 21-19 dan Ko
Sung Hyun/Ha Jung Eun 21-13, 21-16.
Nasib baik rupanya masih menaungi
kubu merah putih di sektor ganda putra. Nomor yang selalu menjadi kebanggaan
Indonesia ini berhasil meloloskan 3 wakilnya ke babak perempatfinal. Duet
Markis Kido/Hendra Setiawan yang sempat dibuat ketar ketir saat menghadapi
hijarahan Indonesia yang berbendera Singapura, Hendri Kurniawan/Hendra Wijaya
akhirnya melaju ke babak selanjurnya setelah mendapatkan ‘keajaiban’ di set
ketiga. Menang telak 21-11 di set pertama ternyata tidak lantas memuluskan
jalan KiNdra di set kedua. Duo Hendri/Hendra yang menekan KiNdra sejak awal set
kedua membuat pasangan Indonesia tak mampu bangkit dari tekanan dan banyak melakukan
kesalahan sendiri. Pertahanan yang sempurna dari pasangan Singapura membuatnya
terus ‘leading’ dari awal hingga akhir set, 21-18.
Kekalahan KiNdra seolah-olah
suedah berada di depan mata dan ketegangan terlihat jelas di wajah keduanya ketika
mereka kembali tertinggal jauh 4-11 saat jeda interval, 6-14 dan mendekati
angka kritis 10-15. Namun justru di titik inilah KiNdra mendapatkan kesempatan
kedua untuk berbalik menang dan mengalahkan pasangan kakak beradik tersebut.
Berkat dukungan dari segenap pengunjung Istora, perlahan KiNdra mampu bangkit
dan balik menekan Hendri/Hendra meskipun tandem negeri singa tersebut memiliki
pertahanan yang luar biasa. Perlahan namun pasti, KiNdra mengumpulkan poin demi
poin dari bola-bola serang dan kesalahan sendiri pasangan Singapura hingga
kedudukan 16-18. Hendri/Hendra yang tersusul dalam perolehan poin justru
akhirnya banyak melakukan ‘unforced error’ dari bola ‘out’ atau menyangkut di
net dan harus mengalami kekalahan menyesakkan setelah KiNdra mengoleksi 5 poin
beruntun dengan menutup set ini, 21-18.
"Di set kedua lawan sudah menemukan irama
permainanya dan saya banyak mati sendiri," kata Hendra usai pertandingan. “Saat
mereka bermain baik, kami malah tidak siap”, lanjutnya kemudian. Sementara Kido
mengaku sempat terpikir akan kalah dalam laga itu. “Pola pertahanan saya sangat
jelek sehingga kerap menjadi sasaran serangan lawan”, jelas Kido. “Beruntung
kami bisa mengejar karena dukungan penonton tentunya,” lanjutnya.“Dukungan
penonton mampu menjaga semangat saya dan itu terlihat dari smash-smash saya,”
tambahnya.
Langkah KiNdra juga diikuti oleh dua wakil non Pelatnas, Luluk/Joko dan
Alvent/Hendra. Luluk/Joko di luar dugaan mampu menghempas juara Singapore Open
SS 2009, Anthony Clark/Nathan Robertson 21-16, 24-22. Sedangkan VeNdra harus
berjibaku 3 set untuk meredam ketangguhan Hwang Ji Man/Shin Baek Cheol 20-22,
21-17, 21-11. Luluk/Joko sendiri merasa terkejut dengan raihan prestasi
keduanya. Selain harus mengurusi keperluan sendiri, karena tidak memiliki manajer,
pasangan ini juga tak banyak melakukan persiapan. “Kami sebenarnya agak
terkejut karena berhasil lolos karena kami hanya persiapan satu bulan dan itu
sebenarnya sangat kurang,” jelas Joko.Bahkan beberapa waktu yang lalu, keduanya telat untuk mendaftarkan diri
ke turnaman Philipina Open. “Karena semuanya sendiri, kami jadi telat daftar
kesana”, tandas Joko kemudian.
Dua ganda Indonesia lainnya, Anggun/Rendra dan
Rian/Yonathan sayangnya gagal mengikuti langkah senior mereka ke babak
selanjutnya. ARen yang sempat menyajikan perlawanan sengit di set kedua
akhirnya harus mengakui kesolidan duo Amerika, Tony Gunawan/Howard Bach, 8-21,
22-20, 15-21 sedangkan RiYo masih sulit untuk mengimbangi permainan taktis
peraih perak Olimpiade Beijing 2008, Fu Haifeng/Cai Yun (5) dan harus menyerah
14-21, 11-21.
Wakil tirai bambu lainnya, Guo Zhendong/Xu Chen juga
sempat memberikan perlawanan sengit kepada unggulan ke-3 asal Malaysia, Koo
Kien Ket/Tan Boon Heong. Sempat unggul 21-16 di set pertama, keduanya gagal
meredam bola-bola serag Koo/Tan dan tertinggal 14-21 di set kedua. Meskipun
Koo/Tan mampu menguasai jalannya pertandingan di set ketiga, tandem terbaik
negeri jiran tersebut harus berjuang maksimal karena beberapa kali perolehan
angka mereka berhasil di susul oleh Guo/Xu. Setelah sempat tersamakan di titik
19 dan 20, Koo/Tan akhirnya mmapu menyudahi set ini lebih dulu 22-20.
Sektor yang paling kontras dengan hasil di tahun
sebelumnya adalah ganda putri. Tahun 2008, Vita/Lily mampu mepersembahkan gelar
untuk Indonesia namun pada kali ini, tidak ada satu pasang pemainpun yang lolos
mampu meloloskan diri ke babak delapan besar. Andalan merah putih yang menuai
kejutan pekan sebelumnya di turnamen Singapore Open SS, Grace/Nitya, kali ini
harus puas tersingkir lebih awal. Sempat memukau dengan menekan tandem China, Cheng
Shu/Zhao Yunlei di set pertama 23-21, permainan keduanya tak lagi berkembang di
dua set berikutnya. Meski reli-reli panjang sempat terjadi, GraNi akhirnya
harus mengakui kegigihan unggulan kedua tersebut 11-21, 8-21.
Hasil kurang memuaskan juga diraih pasangan non
pelatnas, Nadya Melati/Natalia Poulokan. Ditantang oleh ‘ganda coba-coba’ Petya
Nedelcheva/Anastasia Russkikh, NaNa harus tumbang dua set langsung 17-21,
20-22. Ikut gugur bersama mereka adalah duet Anneke/Annisa yang dikalahkan
unggulan ke-3, Chien Yu Chin/Cheng Wen Hsing 12-21, 18-21 setelah sempat unggul
di pertengahan set kedua.
Selain Cheng/Zhao, negeri panda juga menempatkan
unggulan ke-6, Zhang Yawen/Zhao Tingting ke babak 8 besar. Selaras dengan
China, Korea juga masih bisa menggantungkan harapan mereka pada Ha Jung Eun/Kim
Min Jung dan Lee Kyung Won/Lee Hyo Jung (7). Ha/Kim mencatat kemenangan atas
duet Jerman-Kanada, Nicole Grether/Charmaine Reid 21-19, 21-9 sedangkan duo Lee
harus bertarung rubber set untuk menekuk Pan Pan/Tian Qing 21-19, 16-21, 21-16
(FEY).
Tim tuan rumah akhirnya berhasil
meloloskan 7 wakilnya ke babak 8 besar turnamen Indonesia Open 2009 setelah di
babak perdelapan final hari ini beberapa pemain merah putih mampu menciptakan
kejutan tak terduga. Namun runner up turnamen ini setahun yang lalu, Simon
Santoso (8) harus tersisih lebih awal saat di tantang oleh jagoan Korea, Park
Sung Hwan.
Pertandingan hari ketiga turnamen
Indonesia SS 2009 sudah mulai dibanjiri oleh penonton. Beberapa diantarabya
bahkan harus rela mengantri dari pagi namun tidak beruntung mendapatkan tiket
masuk. Tunggal pelatnas, Adriyanti Firdasari mengawali pertarungan di lapangan
2 menghadapi andalan China, Wang Lin. Meladeni permainan taktis Wang Lin
tentunya bukanlah hal yang mudah bagi Firda. Beberapa kali Firda tampak
berjibaku di lapangan untuk mengantisipasi bola-bola dari tunggal China
tersebut. Dalam tempo 17 menit, Firda akhirnya menyerah 13-21.
Namun rupanya selama pertandingan
Firda tak mampu bermain maksimal akibat cedera engkel kaki kanan yang
dialaminya saat menghadapi tunggal Belanda, Yao Jie di babak pertama kemarin.
Akibat tetap ngotot menantang Wang Lin, cedera yang dialami oleh Firda akhirnya
kambuh lagi. Setelah menjalani perawatan darurat di pinggir lapangan, pelatih
Marleve Mainaky akhirnya member isyarat kepada wasit untuk tidak melanjutkan pertandingan
sehingga Wang Lin dinyatakan lolos ke babak perempatfinal.
“Saya
sebenarnya sudah pakai obat penahan rasa sakit. Cuma setelah set pertama saya
sudah tak tahan lagi. Agak kecewa juga dengan keadaan ini. Tapi yang lebih
mengecewakan saya karena cedera ini saya alami di saat pertandingan”, papar
tunggal putri kedua Indonesia tersebut. “Beruntung cederanya tidak serius.
Dokter hanya meminta saya untuk istirahat 1-2 minggu. Saya yakin kalau tidak
cedera akan ramai pertandingan tadi” sambungnya setelah menjalani perawatan
yang lebih intensif di ruan medis. Ini bukan merupakan cedera pertama yang
dialami oleh Firda. Sebelumnya, Firda juga pernah mengalami masalah pada lutut
kanannya.
Selain Wang Lin, China juga
berhasil mendominasi sektor tunggal putri dengan meloloskan 3 wakil lainnya.
Unggulan ke-8, Xie Xingfang tanpa banyak kesulitan menyingkirkan wakil Belanda,
Rachel Van Cutsen 21-6, 21-15 sedangkan Wang Yihan (2) menjungkalkan dara muda
Thailand, Porntip Buranaprasertsuk, 21-16, 21-5. Duel antara pemain China yang
diharapkan akan berjalan seru ternyata berlangsung tidak seperti yang
diharapkan. Unggulan ke-7, Lu Lan yang mengalami nasib buruk di turnamen
Singapore SS pekan lalu, kali ini mampu bernafas lega saat berhasil menundukkan
sang juara bertahan, Zhu Lin, 21-13, 21-11.
Empat tempat lainnya juga diisi
oleh para pemain berdarah Asia. Saina Nehwal (6) harus berjuang keras 18-21,
21-7, 21-19 untuk menyingkirkan Juliane Schenk yang sedangan berada dalam
performa terbaiknya. Maria Febe akhirnya menjadi satu-satunya tumpuan Indonesia
di sektor ini setelah membukukan kemanangan telak atas lawannya, Aditi
Mutatkar, 21-8, 21-5. Kekalahan Wang Chen (4) atas Hwang Hye Youn akhirnya
memupuskan harapan kejutan dari pemain naturalisasi China untuk berjaya yang
kedua kalinya. Sempat memaksa rubber set 21-14 setelah tertinggal 19-21, Wang
Chen akhirnya harus mengakui ketangguhan Hye Youn 14-21 di partai pamungkas.
Duel antara dua pemain kualifikasi Sayako Sato dan Kim Moon Hi akhirnya
dimenangkan oleh tunggal negeri sakura 21-15, 21-18.
Keberuntungan para pemain
Indonesia sedikit lebih baik di sektor tunggal putra. Meskipun Simon Santoso
(8) gagal mengulang prestasinya setahun yang lalu setelah ditundukkan tunggal
terbaik Korea, Park Sung Hwan 16-21, 17-21, Indonesia masih memiliki harapan
untuk meraih gelar dari Sony Dwi Kuncoro (4) dan Taufik Hidayat (5). Sony mampu
bermain lebih tenang saat menyingkirkan Wong Choong Hann 8-21, 12-21 sedangkan
Taufik harus berjibaku 3 set untuk mengimbangi permainan ulet wakil Thailand,
Boonsak Ponsana. “Saya bermain lebih senang hari ini disbanding kemarin. Kini
saya agak fokus, jadi saya bisa bermain lebih sabar dan tenang”, kata Sonny.
Unggul 21-17 di set pertama,
Boonsak mampu bangkit dan meladeni perolehan angka Taufik di paruh akhir set
ketiga hingga skor kritis 19 sama. Di titik ini Boonsak mendapatkan ‘second
winning’ dengan kemenangan 21-19. Permainan reli-reli panjang Boonsak ruapanya
justru menghabiskan stamina peraih gelar Singapore SS 2007 itu di set ke-3.
Setelah tertinggal jauh 6-11 dan 8-13, Boonsak semakin sulit untuk mengejar
Taufik dan akhirnya menyerah 10-21.
Peter Gade yang menuai kemenangan
atas tunggal fenomenal Vietnam, Nguyen Tien Minh 13-21, 21-19, 21-14 akhirnya
menjadi satu-satunya wakil Denmark di sektor ini setelah sebelumnya unggulan
ke-7, Joachim Persson gagal melumpuhkan perlawanan bintang Hongkong, Chan Yan
Kit 22-24, 13-21.
Di nomor berpasangan merah putih
hanya menyisakan wakil di sektor ganda putra dan campuran. Dua ganda Indonesia
yang ditantang oleh para utusan China juga harus memetik kekalahan atas
lawan-lawannya. Kolaborasi Fran Kurniawan/Pia Zebadiah gagal meredam permainan
Xie Zhongbo/Zhang Yawen (6) dan menyerah 16-21, 15-21. Sedangkan Vita Marissa
yang baru saja menggandeng Hendra AG juga tak dapat berbuat banyak ketika
dijamu oleh juara Singapore SS 2009, Zheng Bo/Ma Jin (5). Hendra/Vita dipaksa
bertekuk dua set langsung 16-21, 12-21.
“Kami baru berpasangan selama
sebulan terakhir. Kami belum padu dan masih banyak yang harus dibenahi”, kata
AG dalam jumpa pers seusai pertandingan. “Pasangan China ini kelasnya sudah
seperti senior kami, Nova/Liliyana”, sambungnya kemudian.
Nova Widhianto/Liliyana Natsir
sebagai favorit teratas akhirnya menjadi satu-staunya tumpuan public Istora setelah
keduanya memetik kemenangan atas duet Korea, Yoo Yeon Seong/Kim Min Jung,
21-17, 21-17. Namun untuk meraih tiket semifinal bukanlah hal yang mudah bagi
peraih juara dunia 2005 dan 2007 ini. Zheng Bo/Ma Jin yang pekan lalu
menghentikan duet Lee Hyo Jung/Lee Yong Dae di partai semifinal Singapore Open
SS akan menjadi jalan terjal mereka berikutnya.
Kejutan terbesar di nomor ini
adalah tumbangnya unggulan ke-8, Sudket/Saralee atas pasangan gado-gado
Inggris-Skotlandia, Robert Blair/Imogen Bankier. Setelah bersitegang selama
hampir 1 jam, Robert/Imogen akhirnya unggul 21-19, 11-21, 21-11. Selain itu dua
tunggal Eropa yang juga ikut melaju ke 8 besar adalah dua pasangan Denmark, Thomas
Laybourn/Kamilla Rytter Juhl (4) dan Joachim Fischer/Christinna Pedersen (7).
Keduanya melibas dua wakil Asia, Mohd Razif/Woon Khe Wei 21-13, 21-19 dan Ko
Sung Hyun/Ha Jung Eun 21-13, 21-16.
Nasib baik rupanya masih menaungi
kubu merah putih di sektor ganda putra. Nomor yang selalu menjadi kebanggaan
Indonesia ini berhasil meloloskan 3 wakilnya ke babak perempatfinal. Duet
Markis Kido/Hendra Setiawan yang sempat dibuat ketar ketir saat menghadapi
hijarahan Indonesia yang berbendera Singapura, Hendri Kurniawan/Hendra Wijaya
akhirnya melaju ke babak selanjurnya setelah mendapatkan ‘keajaiban’ di set
ketiga. Menang telak 21-11 di set pertama ternyata tidak lantas memuluskan
jalan KiNdra di set kedua. Duo Hendri/Hendra yang menekan KiNdra sejak awal set
kedua membuat pasangan Indonesia tak mampu bangkit dari tekanan dan banyak melakukan
kesalahan sendiri. Pertahanan yang sempurna dari pasangan Singapura membuatnya
terus ‘leading’ dari awal hingga akhir set, 21-18.
Kekalahan KiNdra seolah-olah
suedah berada di depan mata dan ketegangan terlihat jelas di wajah keduanya ketika
mereka kembali tertinggal jauh 4-11 saat jeda interval, 6-14 dan mendekati
angka kritis 10-15. Namun justru di titik inilah KiNdra mendapatkan kesempatan
kedua untuk berbalik menang dan mengalahkan pasangan kakak beradik tersebut.
Berkat dukungan dari segenap pengunjung Istora, perlahan KiNdra mampu bangkit
dan balik menekan Hendri/Hendra meskipun tandem negeri singa tersebut memiliki
pertahanan yang luar biasa. Perlahan namun pasti, KiNdra mengumpulkan poin demi
poin dari bola-bola serang dan kesalahan sendiri pasangan Singapura hingga
kedudukan 16-18. Hendri/Hendra yang tersusul dalam perolehan poin justru
akhirnya banyak melakukan ‘unforced error’ dari bola ‘out’ atau menyangkut di
net dan harus mengalami kekalahan menyesakkan setelah KiNdra mengoleksi 5 poin
beruntun dengan menutup set ini, 21-18.
"Di set kedua lawan sudah menemukan irama
permainanya dan saya banyak mati sendiri," kata Hendra usai pertandingan. “Saat
mereka bermain baik, kami malah tidak siap”, lanjutnya kemudian. Sementara Kido
mengaku sempat terpikir akan kalah dalam laga itu. “Pola pertahanan saya sangat
jelek sehingga kerap menjadi sasaran serangan lawan”, jelas Kido. “Beruntung
kami bisa mengejar karena dukungan penonton tentunya,” lanjutnya.“Dukungan
penonton mampu menjaga semangat saya dan itu terlihat dari smash-smash saya,”
tambahnya.
Langkah KiNdra juga diikuti oleh dua wakil non Pelatnas, Luluk/Joko dan
Alvent/Hendra. Luluk/Joko di luar dugaan mampu menghempas juara Singapore Open
SS 2009, Anthony Clark/Nathan Robertson 21-16, 24-22. Sedangkan VeNdra harus
berjibaku 3 set untuk meredam ketangguhan Hwang Ji Man/Shin Baek Cheol 20-22,
21-17, 21-11. Luluk/Joko sendiri merasa terkejut dengan raihan prestasi
keduanya. Selain harus mengurusi keperluan sendiri, karena tidak memiliki manajer,
pasangan ini juga tak banyak melakukan persiapan. “Kami sebenarnya agak
terkejut karena berhasil lolos karena kami hanya persiapan satu bulan dan itu
sebenarnya sangat kurang,” jelas Joko.Bahkan beberapa waktu yang lalu, keduanya telat untuk mendaftarkan diri
ke turnaman Philipina Open. “Karena semuanya sendiri, kami jadi telat daftar
kesana”, tandas Joko kemudian.
Dua ganda Indonesia lainnya, Anggun/Rendra dan
Rian/Yonathan sayangnya gagal mengikuti langkah senior mereka ke babak
selanjutnya. ARen yang sempat menyajikan perlawanan sengit di set kedua
akhirnya harus mengakui kesolidan duo Amerika, Tony Gunawan/Howard Bach, 8-21,
22-20, 15-21 sedangkan RiYo masih sulit untuk mengimbangi permainan taktis
peraih perak Olimpiade Beijing 2008, Fu Haifeng/Cai Yun (5) dan harus menyerah
14-21, 11-21.
Wakil tirai bambu lainnya, Guo Zhendong/Xu Chen juga
sempat memberikan perlawanan sengit kepada unggulan ke-3 asal Malaysia, Koo
Kien Ket/Tan Boon Heong. Sempat unggul 21-16 di set pertama, keduanya gagal
meredam bola-bola serag Koo/Tan dan tertinggal 14-21 di set kedua. Meskipun
Koo/Tan mampu menguasai jalannya pertandingan di set ketiga, tandem terbaik
negeri jiran tersebut harus berjuang maksimal karena beberapa kali perolehan
angka mereka berhasil di susul oleh Guo/Xu. Setelah sempat tersamakan di titik
19 dan 20, Koo/Tan akhirnya mmapu menyudahi set ini lebih dulu 22-20.
Sektor yang paling kontras dengan hasil di tahun
sebelumnya adalah ganda putri. Tahun 2008, Vita/Lily mampu mepersembahkan gelar
untuk Indonesia namun pada kali ini, tidak ada satu pasang pemainpun yang lolos
mampu meloloskan diri ke babak delapan besar. Andalan merah putih yang menuai
kejutan pekan sebelumnya di turnamen Singapore Open SS, Grace/Nitya, kali ini
harus puas tersingkir lebih awal. Sempat memukau dengan menekan tandem China, Cheng
Shu/Zhao Yunlei di set pertama 23-21, permainan keduanya tak lagi berkembang di
dua set berikutnya. Meski reli-reli panjang sempat terjadi, GraNi akhirnya
harus mengakui kegigihan unggulan kedua tersebut 11-21, 8-21.
Hasil kurang memuaskan juga diraih pasangan non
pelatnas, Nadya Melati/Natalia Poulokan. Ditantang oleh ‘ganda coba-coba’ Petya
Nedelcheva/Anastasia Russkikh, NaNa harus tumbang dua set langsung 17-21,
20-22. Ikut gugur bersama mereka adalah duet Anneke/Annisa yang dikalahkan
unggulan ke-3, Chien Yu Chin/Cheng Wen Hsing 12-21, 18-21 setelah sempat unggul
di pertengahan set kedua.
Selain Cheng/Zhao, negeri panda juga menempatkan
unggulan ke-6, Zhang Yawen/Zhao Tingting ke babak 8 besar. Selaras dengan
China, Korea juga masih bisa menggantungkan harapan mereka pada Ha Jung Eun/Kim
Min Jung dan Lee Kyung Won/Lee Hyo Jung (7). Ha/Kim mencatat kemenangan atas
duet Jerman-Kanada, Nicole Grether/Charmaine Reid 21-19, 21-9 sedangkan duo Lee
harus bertarung rubber set untuk menekuk Pan Pan/Tian Qing 21-19, 16-21, 21-16
(FEY).
Tim tuan rumah akhirnya berhasil
meloloskan 7 wakilnya ke babak 8 besar turnamen Indonesia Open 2009 setelah di
babak perdelapan final hari ini beberapa pemain merah putih mampu menciptakan
kejutan tak terduga. Namun runner up turnamen ini setahun yang lalu, Simon
Santoso (8) harus tersisih lebih awal saat di tantang oleh jagoan Korea, Park
Sung Hwan.
Pertandingan hari ketiga turnamen
Indonesia SS 2009 sudah mulai dibanjiri oleh penonton. Beberapa diantarabya
bahkan harus rela mengantri dari pagi namun tidak beruntung mendapatkan tiket
masuk. Tunggal pelatnas, Adriyanti Firdasari mengawali pertarungan di lapangan
2 menghadapi andalan China, Wang Lin. Meladeni permainan taktis Wang Lin
tentunya bukanlah hal yang mudah bagi Firda. Beberapa kali Firda tampak
berjibaku di lapangan untuk mengantisipasi bola-bola dari tunggal China
tersebut. Dalam tempo 17 menit, Firda akhirnya menyerah 13-21.
Namun rupanya selama pertandingan
Firda tak mampu bermain maksimal akibat cedera engkel kaki kanan yang
dialaminya saat menghadapi tunggal Belanda, Yao Jie di babak pertama kemarin.
Akibat tetap ngotot menantang Wang Lin, cedera yang dialami oleh Firda akhirnya
kambuh lagi. Setelah menjalani perawatan darurat di pinggir lapangan, pelatih
Marleve Mainaky akhirnya member isyarat kepada wasit untuk tidak melanjutkan pertandingan
sehingga Wang Lin dinyatakan lolos ke babak perempatfinal.
“Saya
sebenarnya sudah pakai obat penahan rasa sakit. Cuma setelah set pertama saya
sudah tak tahan lagi. Agak kecewa juga dengan keadaan ini. Tapi yang lebih
mengecewakan saya karena cedera ini saya alami di saat pertandingan”, papar
tunggal putri kedua Indonesia tersebut. “Beruntung cederanya tidak serius.
Dokter hanya meminta saya untuk istirahat 1-2 minggu. Saya yakin kalau tidak
cedera akan ramai pertandingan tadi” sambungnya setelah menjalani perawatan
yang lebih intensif di ruan medis. Ini bukan merupakan cedera pertama yang
dialami oleh Firda. Sebelumnya, Firda juga pernah mengalami masalah pada lutut
kanannya.
Selain Wang Lin, China juga
berhasil mendominasi sektor tunggal putri dengan meloloskan 3 wakil lainnya.
Unggulan ke-8, Xie Xingfang tanpa banyak kesulitan menyingkirkan wakil Belanda,
Rachel Van Cutsen 21-6, 21-15 sedangkan Wang Yihan (2) menjungkalkan dara muda
Thailand, Porntip Buranaprasertsuk, 21-16, 21-5. Duel antara pemain China yang
diharapkan akan berjalan seru ternyata berlangsung tidak seperti yang
diharapkan. Unggulan ke-7, Lu Lan yang mengalami nasib buruk di turnamen
Singapore SS pekan lalu, kali ini mampu bernafas lega saat berhasil menundukkan
sang juara bertahan, Zhu Lin, 21-13, 21-11.
Empat tempat lainnya juga diisi
oleh para pemain berdarah Asia. Saina Nehwal (6) harus berjuang keras 18-21,
21-7, 21-19 untuk menyingkirkan Juliane Schenk yang sedangan berada dalam
performa terbaiknya. Maria Febe akhirnya menjadi satu-satunya tumpuan Indonesia
di sektor ini setelah membukukan kemanangan telak atas lawannya, Aditi
Mutatkar, 21-8, 21-5. Kekalahan Wang Chen (4) atas Hwang Hye Youn akhirnya
memupuskan harapan kejutan dari pemain naturalisasi China untuk berjaya yang
kedua kalinya. Sempat memaksa rubber set 21-14 setelah tertinggal 19-21, Wang
Chen akhirnya harus mengakui ketangguhan Hye Youn 14-21 di partai pamungkas.
Duel antara dua pemain kualifikasi Sayako Sato dan Kim Moon Hi akhirnya
dimenangkan oleh tunggal negeri sakura 21-15, 21-18.
Keberuntungan para pemain
Indonesia sedikit lebih baik di sektor tunggal putra. Meskipun Simon Santoso
(8) gagal mengulang prestasinya setahun yang lalu setelah ditundukkan tunggal
terbaik Korea, Park Sung Hwan 16-21, 17-21, Indonesia masih memiliki harapan
untuk meraih gelar dari Sony Dwi Kuncoro (4) dan Taufik Hidayat (5). Sony mampu
bermain lebih tenang saat menyingkirkan Wong Choong Hann 8-21, 12-21 sedangkan
Taufik harus berjibaku 3 set untuk mengimbangi permainan ulet wakil Thailand,
Boonsak Ponsana. “Saya bermain lebih senang hari ini disbanding kemarin. Kini
saya agak fokus, jadi saya bisa bermain lebih sabar dan tenang”, kata Sonny.
Unggul 21-17 di set pertama,
Boonsak mampu bangkit dan meladeni perolehan angka Taufik di paruh akhir set
ketiga hingga skor kritis 19 sama. Di titik ini Boonsak mendapatkan ‘second
winning’ dengan kemenangan 21-19. Permainan reli-reli panjang Boonsak ruapanya
justru menghabiskan stamina peraih gelar Singapore SS 2007 itu di set ke-3.
Setelah tertinggal jauh 6-11 dan 8-13, Boonsak semakin sulit untuk mengejar
Taufik dan akhirnya menyerah 10-21.
Peter Gade yang menuai kemenangan
atas tunggal fenomenal Vietnam, Nguyen Tien Minh 13-21, 21-19, 21-14 akhirnya
menjadi satu-satunya wakil Denmark di sektor ini setelah sebelumnya unggulan
ke-7, Joachim Persson gagal melumpuhkan perlawanan bintang Hongkong, Chan Yan
Kit 22-24, 13-21.
Di nomor berpasangan merah putih
hanya menyisakan wakil di sektor ganda putra dan campuran. Dua ganda Indonesia
yang ditantang oleh para utusan China juga harus memetik kekalahan atas
lawan-lawannya. Kolaborasi Fran Kurniawan/Pia Zebadiah gagal meredam permainan
Xie Zhongbo/Zhang Yawen (6) dan menyerah 16-21, 15-21. Sedangkan Vita Marissa
yang baru saja menggandeng Hendra AG juga tak dapat berbuat banyak ketika
dijamu oleh juara Singapore SS 2009, Zheng Bo/Ma Jin (5). Hendra/Vita dipaksa
bertekuk dua set langsung 16-21, 12-21.
“Kami baru berpasangan selama
sebulan terakhir. Kami belum padu dan masih banyak yang harus dibenahi”, kata
AG dalam jumpa pers seusai pertandingan. “Pasangan China ini kelasnya sudah
seperti senior kami, Nova/Liliyana”, sambungnya kemudian.
Nova Widhianto/Liliyana Natsir
sebagai favorit teratas akhirnya menjadi satu-staunya tumpuan public Istora setelah
keduanya memetik kemenangan atas duet Korea, Yoo Yeon Seong/Kim Min Jung,
21-17, 21-17. Namun untuk meraih tiket semifinal bukanlah hal yang mudah bagi
peraih juara dunia 2005 dan 2007 ini. Zheng Bo/Ma Jin yang pekan lalu
menghentikan duet Lee Hyo Jung/Lee Yong Dae di partai semifinal Singapore Open
SS akan menjadi jalan terjal mereka berikutnya.
Kejutan terbesar di nomor ini
adalah tumbangnya unggulan ke-8, Sudket/Saralee atas pasangan gado-gado
Inggris-Skotlandia, Robert Blair/Imogen Bankier. Setelah bersitegang selama
hampir 1 jam, Robert/Imogen akhirnya unggul 21-19, 11-21, 21-11. Selain itu dua
tunggal Eropa yang juga ikut melaju ke 8 besar adalah dua pasangan Denmark, Thomas
Laybourn/Kamilla Rytter Juhl (4) dan Joachim Fischer/Christinna Pedersen (7).
Keduanya melibas dua wakil Asia, Mohd Razif/Woon Khe Wei 21-13, 21-19 dan Ko
Sung Hyun/Ha Jung Eun 21-13, 21-16.
Nasib baik rupanya masih menaungi
kubu merah putih di sektor ganda putra. Nomor yang selalu menjadi kebanggaan
Indonesia ini berhasil meloloskan 3 wakilnya ke babak perempatfinal. Duet
Markis Kido/Hendra Setiawan yang sempat dibuat ketar ketir saat menghadapi
hijarahan Indonesia yang berbendera Singapura, Hendri Kurniawan/Hendra Wijaya
akhirnya melaju ke babak selanjurnya setelah mendapatkan ‘keajaiban’ di set
ketiga. Menang telak 21-11 di set pertama ternyata tidak lantas memuluskan
jalan KiNdra di set kedua. Duo Hendri/Hendra yang menekan KiNdra sejak awal set
kedua membuat pasangan Indonesia tak mampu bangkit dari tekanan dan banyak melakukan
kesalahan sendiri. Pertahanan yang sempurna dari pasangan Singapura membuatnya
terus ‘leading’ dari awal hingga akhir set, 21-18.
Kekalahan KiNdra seolah-olah
suedah berada di depan mata dan ketegangan terlihat jelas di wajah keduanya ketika
mereka kembali tertinggal jauh 4-11 saat jeda interval, 6-14 dan mendekati
angka kritis 10-15. Namun justru di titik inilah KiNdra mendapatkan kesempatan
kedua untuk berbalik menang dan mengalahkan pasangan kakak beradik tersebut.
Berkat dukungan dari segenap pengunjung Istora, perlahan KiNdra mampu bangkit
dan balik menekan Hendri/Hendra meskipun tandem negeri singa tersebut memiliki
pertahanan yang luar biasa. Perlahan namun pasti, KiNdra mengumpulkan poin demi
poin dari bola-bola serang dan kesalahan sendiri pasangan Singapura hingga
kedudukan 16-18. Hendri/Hendra yang tersusul dalam perolehan poin justru
akhirnya banyak melakukan ‘unforced error’ dari bola ‘out’ atau menyangkut di
net dan harus mengalami kekalahan menyesakkan setelah KiNdra mengoleksi 5 poin
beruntun dengan menutup set ini, 21-18.
"Di set kedua lawan sudah menemukan irama
permainanya dan saya banyak mati sendiri," kata Hendra usai pertandingan. “Saat
mereka bermain baik, kami malah tidak siap”, lanjutnya kemudian. Sementara Kido
mengaku sempat terpikir akan kalah dalam laga itu. “Pola pertahanan saya sangat
jelek sehingga kerap menjadi sasaran serangan lawan”, jelas Kido. “Beruntung
kami bisa mengejar karena dukungan penonton tentunya,” lanjutnya.“Dukungan
penonton mampu menjaga semangat saya dan itu terlihat dari smash-smash saya,”
tambahnya.
Langkah KiNdra juga diikuti oleh dua wakil non Pelatnas, Luluk/Joko dan
Alvent/Hendra. Luluk/Joko di luar dugaan mampu menghempas juara Singapore Open
SS 2009, Anthony Clark/Nathan Robertson 21-16, 24-22. Sedangkan VeNdra harus
berjibaku 3 set untuk meredam ketangguhan Hwang Ji Man/Shin Baek Cheol 20-22,
21-17, 21-11. Luluk/Joko sendiri merasa terkejut dengan raihan prestasi
keduanya. Selain harus mengurusi keperluan sendiri, karena tidak memiliki manajer,
pasangan ini juga tak banyak melakukan persiapan. “Kami sebenarnya agak
terkejut karena berhasil lolos karena kami hanya persiapan satu bulan dan itu
sebenarnya sangat kurang,” jelas Joko.Bahkan beberapa waktu yang lalu, keduanya telat untuk mendaftarkan diri
ke turnaman Philipina Open. “Karena semuanya sendiri, kami jadi telat daftar
kesana”, tandas Joko kemudian.
Dua ganda Indonesia lainnya, Anggun/Rendra dan
Rian/Yonathan sayangnya gagal mengikuti langkah senior mereka ke babak
selanjutnya. ARen yang sempat menyajikan perlawanan sengit di set kedua
akhirnya harus mengakui kesolidan duo Amerika, Tony Gunawan/Howard Bach, 8-21,
22-20, 15-21 sedangkan RiYo masih sulit untuk mengimbangi permainan taktis
peraih perak Olimpiade Beijing 2008, Fu Haifeng/Cai Yun (5) dan harus menyerah
14-21, 11-21.
Wakil tirai bambu lainnya, Guo Zhendong/Xu Chen juga
sempat memberikan perlawanan sengit kepada unggulan ke-3 asal Malaysia, Koo
Kien Ket/Tan Boon Heong. Sempat unggul 21-16 di set pertama, keduanya gagal
meredam bola-bola serag Koo/Tan dan tertinggal 14-21 di set kedua. Meskipun
Koo/Tan mampu menguasai jalannya pertandingan di set ketiga, tandem terbaik
negeri jiran tersebut harus berjuang maksimal karena beberapa kali perolehan
angka mereka berhasil di susul oleh Guo/Xu. Setelah sempat tersamakan di titik
19 dan 20, Koo/Tan akhirnya mmapu menyudahi set ini lebih dulu 22-20.
Sektor yang paling kontras dengan hasil di tahun
sebelumnya adalah ganda putri. Tahun 2008, Vita/Lily mampu mepersembahkan gelar
untuk Indonesia namun pada kali ini, tidak ada satu pasang pemainpun yang lolos
mampu meloloskan diri ke babak delapan besar. Andalan merah putih yang menuai
kejutan pekan sebelumnya di turnamen Singapore Open SS, Grace/Nitya, kali ini
harus puas tersingkir lebih awal. Sempat memukau dengan menekan tandem China, Cheng
Shu/Zhao Yunlei di set pertama 23-21, permainan keduanya tak lagi berkembang di
dua set berikutnya. Meski reli-reli panjang sempat terjadi, GraNi akhirnya
harus mengakui kegigihan unggulan kedua tersebut 11-21, 8-21.
Hasil kurang memuaskan juga diraih pasangan non
pelatnas, Nadya Melati/Natalia Poulokan. Ditantang oleh ‘ganda coba-coba’ Petya
Nedelcheva/Anastasia Russkikh, NaNa harus tumbang dua set langsung 17-21,
20-22. Ikut gugur bersama mereka adalah duet Anneke/Annisa yang dikalahkan
unggulan ke-3, Chien Yu Chin/Cheng Wen Hsing 12-21, 18-21 setelah sempat unggul
di pertengahan set kedua.
Selain Cheng/Zhao, negeri panda juga menempatkan
unggulan ke-6, Zhang Yawen/Zhao Tingting ke babak 8 besar. Selaras dengan
China, Korea juga masih bisa menggantungkan harapan mereka pada Ha Jung Eun/Kim
Min Jung dan Lee Kyung Won/Lee Hyo Jung (7). Ha/Kim mencatat kemenangan atas
duet Jerman-Kanada, Nicole Grether/Charmaine Reid 21-19, 21-9 sedangkan duo Lee
harus bertarung rubber set untuk menekuk Pan Pan/Tian Qing 21-19, 16-21, 21-16
(FEY).
Memasuki hari kedua perhelatan
turnamen bulutangkis terakbar di Indonesia, kejutan demi kejutan pun sudah
harus dituai oleh beberapa nama pemain unggulan. Sindrom poin kritis pun
menjadi isu terhangat yang harus disiagai oleh setiap pemain dengan ketegaran
dan ketenangan mental jika ingin meraih hasil maksimal. Tidak hanya Zhou Mi
yang baru saja mengantongi gelar Super Series di Singapura pada pekan lalu
harus terjungkal di angka kritis, sederet pemain tuan rumah pun harus menelan
pil pahit karena karena gagal dalam beradu mental.
Harus diakui bahwa faktor mental
mempunyai pengaruh yang sangat signifikan dalam setiap pertandingan. Tidak
hanya saat menghadapi poin-poin akhir, menjaga stabilisasi mental dalam
semangat dan motivasi bertanding juga harus mampu diwujudkan oleh setiap pemain
dari awal hingga akhir pertandingan. Berlaga di kandang sendiri tidak lantas
membuat mental para atlet Indonesia menjadi ‘baja’ karena dukungan segenap
pengunjung Istora. Salah salah, dukungan dan supporter penonton bisa menjadi
boomerang terampuh yang membuat suasana hati semakin kisruh. “Ada positif dan
negatifnya, mas” ungkap Sony Dwi Kuncoro saat diminta pendapatnya mengenai
dukungan dari publik Istora.
Tumbangnya unggulan pertama asal
Hongkong, Zhou Mi dari dara muda 18 tahun asal negeri sakura, Sayaka Sato
mengawali kejutan babak pertama turnamen ini. Sato yang baru saja mengawali
karirnya sebagai salah satu anggota tim nasional Jepang di awal tahun ini
tampil maksimal dengan minim kesalahan sendiri dan agresif dalam menyerang.
Zhou Mi yang tidak mampu beradaptasi dengan cepat di lapangan tertinggal 11-21
di set pertama. Sato sempat mengendorkan serangannya di set kedua sebaliknya
Zhou Mi sudah berhasil mengatur ritme permainannya dan merebut set ini 21-16.
Di set ketiga, kejar mengejar angka yang cukup seru berakhir dititik kritis.
Beberapa antisipasi yang salah dari Zhou Mi di zona kritis akhirnya menutup set
ini untuk Sato 21-19.
Di lapangan yang berbeda, andalan
Indonesia yang menjadi runner up turnamen ini setahun yang lalu, Maria Kristin
juga harus mengalami nasib serupa. Banyaknya kesalahan sendiri yang dibuat
peraih perunggu Olimpiade Beijing ini menutup set pertama dengan kekalahan
17-21 atas tunggal China, Xie Xingfang. Di set kedua, pola permainan Maria
mampu berkembang dan mengimbangi perolehan angka Xie namun menginjak saat angka
kritis 19-19, beberapa ‘unforced error’ Maria akhirnya mendatangkan poin demi
poin bagi peraih perak Olimpiade Beijing 2008 tersebut. Meski sempat memaksakan
‘deuce’ di angka 20 dan 21, Maria akhirnya tumbang 21-23.
''Set
pertama tadi banyak buang poin'', kata Maria. Di set kedua Maria sebenarnya
sudah bermain dengan tepat. ''Tapi di poin-poin akhir salah strategi, harusnya
melakukan servis pendek, malah diangkat jadinya kita kena serang”, sambungnya
dengan nada kecewa. Dari dua kali pertemuannya dengan Xingfang, Maria belum
pernah memenangkannya. ''Saya ingin mengalahkannya, mungkin lain kali”, jawab
Maria optimis.
Xie Xingfang sendiri mengaku cukup beruntung bisa memenangkan pertandingan. “Cukup
ketat, tadi saya tidak terlalu bagus dalam kecepatan, untungnya bisa menang,'' jelas
Xingfang. Saat ditanya mengenai publik Istora yang mendukung penuh Maria,
Xingfang mengaku tidak terpengaruh. ''Saya sudah terbiasa main di sini dengan
situasi seperti itu”, paparnya. ''Mungkin dia mendapat tekanan'', tandas
Xingfang saat diatanya mengenai penampilan Maria yang menurutnya kali ini
banyak melakukan kesalahan sendiri.
Unggulan
lainnya yang gagal melenggang ke 16 besar adalah tunggal Perancis, Pi Hongyan
(5). Menghadapi tunggal terbaik PB Djarum, Maria Febe, Pi gagal mengulang
kesuksesannya setahun yang lalu saat berhasil menundukkan Febe di babak pertama. Hampir
dalam tempo 1 jam, Febe memumpuskan harapan Pi 24-22, 6-21, 21-15. Kekalahan
ini merupakan kali kedua dalam 2 minggu terakhir dimana Pi harus berkemas
pulang lebih awal di laga perdananya. Langkah Febe juga diikuti oleh wakil
Pelatnas lainnya, Adriyanti Firdasari yang melibas hijarahan pemain China
lainnya, Yao Jie, 21-14, 21-16.
Andalan Djarum lainnya, Maria
Elfira yang juga ditantang oleh mantan pemain China, Wang Chen (4) sayangnya
gagal mengikuti langkah Febe ke babak kedua setelah takluk 12-21, 15-21. Wang
akhirnya menjadi satu-satunya wakil Hongkong yang tersisa di sektor putri
setelah rekannya Yip Pui Yin gagal mengatasi wakil Jerman, Juliane Schenk
14-21, 16-21. Dua pemain muda Kim Moon Hi dan Porntip Buranaprasertsuk juga
membuak prestasi besar dengan menghentikan laju para pemain senior, Wong Mew
Choo dan Xing Aiying. Kim hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk
membungkam Mew Choo 21-18, 21-17 sedangkan Porntip menjegal Xing 21-13, 21-16
Di sektor tunggal putra masih
belum terjadi kejutan yang berarti meskipun beberapa unggulan mendapat
perlawanan yang cukup ketat dari para pesaingnya. Beberapa diantaranya juga
harus melewati rubber game sebelum akhirnya memenangkan pertandingan. Simon
Santoso (8) yang ditantang oleh jagoan nomor 3 Denmark, Jan O Jorgensen harus
berjuang 3 set sebelum memetik kemenangan 16-21, 21-8, 21-19. Beruntung di
akhir set ke-3 Simon mampu mengatur mental untuk bermain lebih sabar dan tidak
terpicu emosinya. Andre Kurniawan Tedjono yang menantang kekasih dari Xie
Xingfang, Lin Dan (1) rupanya harus bernasib sama dengan Maria Kristin yang
gagal di poin-poin kritis set kedua. Tertinggal 13-21 di awal set, Andre yang
mendapat dukungan penuh dari public Istora tak mampu meredam sindrom poin
kritis di set kedua dan kalah menyesakkan 20-22.
Penonton yang sempat getar getir
saat menyaksikan Sony Dwi Kuncoro (4) kalah 13-21 di set kedua setelah menang
21-15 di set pertama akhirnya bisa bernafas dengan lega ketiga Sony mampu
keluar dari tekanan di set ke-3 dan berbalik unggul untuk merebut set ini
21-18. Pebulutangkis flamboyant, Taufik Hidayat yang sangat ditunggu-tunggu
aksinya oleh para penonton akhirnya mampu bermain maksimal dengan memupuskan harapan
tunggal Inggris, Andrew Smith21-10,
21-15.
Pertikaian mental antar pemain
semakin terlihat jelas pada partai Muhammad Rijal/Debby Susanto menghadapi
runner up All England 2009, Ko Sung Hyun/Ha Jung Eun. Unggul 21-18 di set
pertama, Rijal/Debby nyaris mengakhiri set kedua setelah unggul 20-17 terelebih
dulu. Sindrom angka kritis untuk yang kesekian kalinya akhirnya mampu
memupuskan harapan duo asal Djarum ini 21-23. Degenerasi mental keduanya
semakin terlihat di set ketiga ketika mereka tak mampu keluar dari tekanan dan
seringkali menjadi sasaran serang dari pasangan Korea. Tidak mampu
mempertahankan momentum, Rijal/Debby akhirnya menyerah 21-16.
Flandy Limpele/Anastasia Russkikh
yang membuka laga awal babak pertama rupanya masih kalah solid dari pasangan
Korea, Yoo Yeon Seong/Kim Min Jung. Sempat menang 21-18 di set kedua,
semifinalis turnamen Korea SS 2009 ini akhirnya harus mengakui ketangguhan
Yoo/Kim 18-21, 16-21 di dua set berikutnya. Hasil berbeda justru diraih oleh
mantan pasangan Flandy, Vita Marissa. Vita yang kali ini menggandeng Hendra
Aprida Gunawan menghnetikan laju wakil Malaysia, Mohd Fairuz/Wong Pei Tty
21-19, 21-16. Duo Polandia yang sempat menjadi buah bibir ketika menekuk
pasangan China, Xu Chen/Zhao Yunlei kali ini justru gagal mengatasi tandem Korea,
Han Sang Hoon/Jang Ye Na dan menyerah 25-23, 18-21, 15-21.
Dua andalan Indonesia yang
mewakili Pelatnas, Fran Kurniawan/Pia Zebadiah dan Nova Widhianto/Liliyana
Natsir juga mencatat kemenangan atas lawan-lawannya. Fran/Pia menang mudah atas
duta Belanda, Ruud Bosch/Paulien Van Dooremalen 21-8, 21-15 sedangkan NoLyn
yang sempat mendapat perlawanan ketat di awal set pertama akhirnya mampu
memenangkan duel mental 22-20 dan 21-13. Langkah kedua pasangan ini tidak mampu
diikuti oleh wakil Pelatnas lainnya, Devin/Lita. Ditantang oleh peringkat 1
Eropa, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl, DevTa akhirnya bertekuk 21-14,
9-21, 10-21.
Kekalahan terbanyak dari kubu
Indonesia selain teralami di sektor tunggal putri juga tersaji di sektor ganda
putra. Unggulan ke-7, Bona/Ahsan yang sempat bermain taktis di set pertama saat
menjamu Anthony/Nathan dengan mencatat kemenangan 21-15, tidak berhasil
mempertahankan momentum kemenangan mereka dan kandas 16-21, 10-21 di dua set
berikutnya. Kekalahan ini semakin menambah daftar kekalahan mereka atas duet
fenomenal asal Inggris tersebut. Mengikuti jejak BoAh adalah duet Edo/Lingga
yang gagal mengatasi unggulan ke-5, Fu Haifeng/Cai Yun 14-21, 6-21 serta
Wifqi/Afiat yang berhasil ditundukkan oleh kakak beradik Singapura, Hendri/Hendra
14-21, 21-16, 13-21.
Di babak kedua, Hendri/Hendra
kembali akan ditantang oleh unggulan teratas, Markis/Hendra yang menghempas
Michael Fuchs/Ingo Kindervater 21-10, 21-14. Tandem Pelatnas lainnya,
Rian/Yonathan juga berhasil menundukkan utusan Jerman lainnya, Kristof
Hopp/Johanes Schoettler 21-17, 21-19.
Selain para pemain Pelatnas,
merah putih juga meloloskan tiga wakil lainnya di nomor ini. Runner up turnamen
Malaysia SS 2009, Alvent/Hendra kembali membuat gebrakan dengan menyingkirkan
andalan Malaysia, Choong tan Fook/Lee Wan Wah (8) setelah sempat tertinggal
16-21 di awal set pertama dan paruh awal set kedua. Namun berkat kegigihan
motivasi keduanya, VenDra akhinya mampu bangkit dan merebut dua set berikutnya
21-18, 21-17. Menyusul langkah mereka adalah Luluk/Joko yang melibas
semifinalis Singapore Open SS, Chen Hong Ling/Lin Yu Lang 21-11, 21-18 dan
Anggun/Rendra yang menekuk duo negeri kincir, Ruud Bosch/Keon Ridder 21-13,
21-15.
Runner up turnamen Singapore SS
2009, Grace/Nitya kembali mendapat kesempatan untuk menantang peringkat
tertinggi ganda China, Cheng Shu/Zhao Yunlei setelah berhasil mematahkan
perlawanan kompatriotnya, Pia/Debby 21-14, 21-15. Grace mengaku lebih siap dan
optimis menantang Cheng/Zhao karena skor pertandingan yang berimbang dari
keduanya. Bahkan di pertemuan terakhir pada turnamen Denmark SS 2009, GraNi
mampu membuat kejutan dengan menumbangkan keduanya di babak kedua, 21-15,
21-16. Dengan bercermin pada prestasi mereka di turnamen sebelumnya dan
mundurnya Shendy/Meli (8) maka GraNi dipastikan akan menjadi tumpuan harapan
Indonesia di sektor ini.
Di laga sebelumnya, Indonesia
juga sudah melolsokan dua wakilnya ke babak 16 besar. Duet Anneke/Annisa yang
minim jam terbang ternyata di luar dugaan mampu menaklukkan jagoan Malaysia, Ng
Hui Lin/Woon Khe Wei 21-14, 21-15. Sedangkan Nadya Melati/Natalia Poulokan
melumpuhkan jagoan Inggris Jenny/Gabby setelah melewati rubber set 21-13,
18-21, 21-18. Jo Novita yang kembali berduet bersama Rani Mundiasti sepertinya
kurang mendapat porsi latihan yang cukup selama di Jakarta setelah sempat
hijarh ke Kanada untuk menjinakkan pasangan gado-gado, Imogen Bankier/Donna
Kellogg. Hanya dalam tempo kurang dari 30 menit, keduanya menyerah 12-21, 18-21
(FEY).
Ketatnya aroma persaingan
turnamen Djarum Indonesia Open SS 2009 sudah mulai dirasakan oleh para pemain
khususnya wakil dari sang tuan rumah. Peningkatan kualitas itu teruji setelah
pada pergelaran hari pertama kemarin (16/6) para pejuang Indonesia yang tahun
lalu dengan mudah mendapatkan ‘free ticket’ ke babak utama kali ini harus
berjibaku di babak kualifikasi. Minimnya pengalaman bertanding membuatsebagian besar diantaranya harus berkemas
lebih awal.
Menutup laga di hari perdana
turnamen yang mengambil tema ‘Jadilah Saksi Kedahsyatannya’ ini Indonesia sudah harus kehilangan sebagian
besar wakilnya di babak kualifikasi. Minimnya jam terbang para pemain level dua
Pelanas dan mantan pemain Pelatnas ini tidak hanya membuat peringkat dan mental
mereka melorot tapi juga harus rela untuk merangkak dari babak kualifikasi.
Fransiska Ratnasari yang kali ini berada di bawah bendera Djarum, tahun lalu
menyajikan laga terbaiknya saat menantang Pia Zebadiah kali ini harus mengakui
keunggulan tunggal Jepang Sayaka Sato setelah bermain melelahkan selama 49
menit. Sempat trtinggal 16-21 di set pertama, Nana mampu bangkit dan memaksakan
rubber set21-18. Sayangnya di
detik-detik terakhir greget untuk menang tiba-tiba menciut dan kalah
menyesakkan 19-21.
Aprilia Yuswandari pun ikut
menjadi ‘korban’ dari apiknya permainan Sayaka. Setelah mengalahkan pemain Tangkas,
Melicia Kurniawan 15-21, 14-21 di pertandingan pembuka, April harus takluk
10-21, 21-17, 12-21 di tangan Sayaka. Unggulan kualifikasi lainnya, Kim Moon Hi
(3) juga harus memeras keringat lebih banyak untuk melibas bintang Singapura
Zhang Beiwen 21-15, 18-21, 21-12 dan pemain muda Pelatnas Linda Weni Fanetri
15-21, 21-13, 21-16. Satu-satunya srikandi Indonesia yang tersisa adalah Rizky
Amelia Pradipta yang diluar dugaan mampu menjungkalkan pemain berpengalaman
asal Malaysia, Anita Raj Kaur 19-21, 21-18, 21-15. Di laga babak 32 besar,
kematangan Amel akan ditantang oleh tunggal nomor 3 Belanda, Rachel Van Cutsen.
Hasil yang tak jauh berbeda juga
diaraih oleh sederet pemain tunggal putra. Tommy Sugiarto yang tahun lalu
melenggang mudah ke babak utama, kali ini harus kalah dua set dari tunggal
utama Ceko, Petr Koukal 19-21, 13-21. Nasib serupa juga dialami oleh Yunus
Alamsyah dan Hayom Rumbaka yang harus rontok di laga awal mereka. Alam yang
pada tahun lalu di bawah asuhan Hendrawan mampu tampilmemukau hingga babak kedua, kali ini harus
kalah kelas dari tunggal Kanada, Andrew Dabeka 11-21, 21-16, 14-21. Sedangkan
Hayom tak mampu membendung agresifnya permainan tunggal nomor 4 Denmark, Hans
Kristian Vittinghus di menit-menit akhir set ketiga. Setelah kalah 16-21 di set
pertama, Hayom mampu memaksakan rubber set dan unggul 21-15 di set kedua. Di
game penentua, Hayom justru harus tertinggal 19-21.
Kejutan terbesar di sektor
tunggal adalah tumbangnya bintang India, Anup Sridhar (4) atas pemain masa
depan Thailand, Tanongsak Saensomboonsuk 21-23, 21-12, 11-21. Padahal pada
minggu yang lalu, Anup mampu melaju hingga 8 besar dengan membuat ‘big
surprise’ sat menghempas jagoan Denmark, Peter Gade (2) dalam laga 3 set.
Bergugurannya wakil Indonesia di
sektor tunggal untungnya tidak diikuti oleh nomor ganda. Tantowi/Richi yang
menempati unggulan ke-3 kualifikasi mencatat kemenangan atas ganda
berpengalaman Taiwan, Lin Yu Lang/Chang Hsin Yun 21-16, 21-14. Sayangnya di
laga kedua mereka harus dikalahkan oleh kompatriotnya, Fran Kurniawan/Pia
Zebadiah 11-21, 17-21. Menyusul langkah Fran/Pia adalah kolaborasi Muhammad
Rijal/Debby Susanto yang memetik dua kemenangan atas wakil Korea, Kim Ki
Jung/Kim Mi Young 21-11, 21-13 dan ganda Amerika, Howard Bach/Mona Santoso 17-21,
21-18, 21-12.
Duet fenomenal Malaysia, Mohd
Fairuz/Wong Pei Tty kembali mencatat kemajuan pesat atas kolabrasi keduanya.
Setelah menundukkan pasangan gado-gado Adrian Liu/Jo Novita, 21-10, 21-7
keduanya berhasil membungkam tandem berpengalaman asal Taiwan, Lee Sheng
Mu/Chien Yu Chin melalui pertarungan mendebarkan 21-12, 12-21, 24-22.
Indonesia juga berhasil melosokan
satu wakilnya di sektor ganda putra ke papan 32 besar. Setelah lepas dari
Pelantas, Rendra Wijaya berhasil menggandeng Anggun Nugroho dan mencetak
kemenangan di dua laga perdana mereka. Ditantang oleh wakil Belanda Eric
Pang/Dicky Palyama, keduanya menang mudah 21-11, 21-16. Namun saat menghadapi
wakil Austria, Jurgen Koch/Peter Zauner, Anggun/Rendra harus berjuang maksimal
17-21, 21-12, 21-19 untuk melosokan diri ke babak utama.
Langkah ARen sayangnya tidak
mampu diikuti oleh duo Indonesia lainnya, Indra Viki/Ricky Widianto. Duo
kolaborasi yang terbentuk setelah Indra tidak lagi diberi kesempatan untuk
menguni Pelatnas sedangkan Ricky yang selama ini membela Singapura terbentur
oleh masalah kewarganegaraan. Menghadapi satu-satunya wakil ganda putra Korea
yang mampu bertahan hingga babak 16 besar Singapura Open SS ’09, keduanya
menyerah 12-21, 19-21. Hasil serupa juga diraih oleh pasangan Indonesia-Kanada
Gideon Markus/Adrian Liu yang ditundukkan oleh pemain nomor campuran India,
Diju Valiyaveetil yang kali ini menyanding Tim Dettmann asal Jerman 15-21,
18-21.
Tony Gunawan yang bertarung di
bawah bendera Amerika rupanya tidak main-main dengan niatnya untuk
membangkitkan kembali kejayaan badminton di negeri Paman Sam tersebut. Bersama
partner lamanya yang berdarah Vietnam, Howard Bach, keduanya membukukan diri ke
babak utama setelah berhasil mengencewakan quarterfinalis Singapore Open SS 2009,
Gan Teik Chai/Tan Bin Shen (4), 21-19, 21-15. Di laga sebelumnya, Tony/Howard
juga membuat prestasi besar dengan mengandaskan jagoan Thailand, Sudket
Prapakamol/Songphon Anugritayawon 24-26, 21-18, 21-17.
Merasa puas atau tidak, Indonesia
tahun ini harus pulang tanpa gelar di gelaran Super Series kelima tahun 2009.
Dengan hasil ini, Indonesia gagal mempertahankan tradisi gelar juara yang sudah
terpelihara sejak tahun 2004 hingga 2008.
Sabetan raket Luvent dan NoLyn di
tahun 2004 mampu mengantongi dua gelar bagi tim Indonesia. Setahun setelahnya,
giliran Taufik Hidayat dan Candra/Sigit yang menumbang 2 mahkota juara.
Berturut-turut selama 3 tahun dari 2006 hingga 2008, ganda campuran selalu
berhasil menyelamatkan tradisi gelar yang diraih oleh NoLyn, FlaVi dan akhirnya
setahun yang lalu NoLyn kembali berhasil merebut gelar mereka kembali. Meskipun
raihan dua gelar runner up di tahun ini tidak lebih baik dari catatan para duta
merah putih di 5 tahun sebelumnya, namun paling tidak ada bekal yang dapat di
evaluasi oleh para atlet, pelatih dan insan terkait guna tampil lebih maksimal
di turnamen berikutnya.
Ganda Putri, Tumbang Dengan Acungan
Jempol
Pertarungan antara duo srikandi
Indonesia, Grace/Nitya menghadapi unggulan ke-5, Zhang Yawen/Zhao Tingting
membuka perseteruan babak final. Reli-reli panjang khas ganda putri akhirnya
membuka set ini dengan keunggulan 4-2. Meskipun GraNi memiliki perkembangan
pesat dari sisi pertahanan dan variasi dalam megembalikan bola, beberapa
kesalahan sendiri yang masih dilakukan oleh tandem kedua Pelatnas ini membuat
ganda China berbalik unggul 6-4 dan 10-6. Bola tanggung dari Grace yang
diamnfaatkan dengan baik oleh Zhao, pengembalian bola Nitya yang melebar dan
olahan bola Zhao Tingting di area baseline mengubah kedudukan menjadi 13-8
untuk Zhang/Zhao.
Bola tanggung Zhao Tingting dan
dua kesalahan beruntun dari Zhang Yawen sempat memperkecil selisih poin menjadi
14-11 namun pengembalian Nitya yang melebar, bola tangggung Grace yang ditutup
dengan smash Zhao Tingting, serta netting tipis Grace yang tidak melewati net
akhirnya kembali membuat Zheng/Gao unggul 18-12. Pengembalian Zhao Tingting
yang melebar dan Zhang Yawen yang tidak mampu mengembalikan bola dengan
sempurna menambah angka bagi GraNi namun Nitya yang tidak siap menerima smash
gagal mengembalikan ‘placing’ Zhao di depan net, 14-19. Jumping smash Grace
yang gagal melewati net dan bola silang Zhao Tingting di area kosong akhirnya
menutup set ini untuk kubu China 21-14.
Di set kedua, GraNi kembali mampu
meladeni permainan reli pasangan China. Pukulan-pukulan sulit keduanya mampu
membuat Zhang/Zhao kelimpungan dalam mengejar bola. Angka demi angka yang
dikoleksi oleh pasangan China harus diraih melewati permainan reli panjang yang
melelahkan walaupun di akhir reli ganda Indonesia akhirnya melakukan kesalahan
sendiri. Duet negeri panda kembali unggul 6-2 dan 8-3 ketika ‘placing’ Zhao
Tingting dan serobotannya gagal dikembalikan oleh GraNi. Tiga kesalahan sendiri
yang dilakukan oleh Nitya yang gagal mengambalikan bola setelah terlibat
reli-reli panjang juga makin membuat kejayaan bagi Zhang/Zhao.
GraNi sempat mendapatkan ‘second
winning’ 8-7 ketika penempatan bola-bola Grace di area kosong sekitar baseline
dan di depan net tidak mampu dibalikkan oleh duo China. Namun selisih poin
kembali melebar 14-9 dengan penempatan bola-bola Zhao Tingting di depan net dan
variasi bola Nitya yang terlalu melebar. Smash beruntun Nitya, servis Grace
yang gagal dan smash Yawen yang gagal melewati net mengubah kedudukan menjadi
15-11. Di titik inilah Zhang/Zhao memaku pasangan merah putih dengan 4 angka
beriring yang mengantarkan mereka kepada angka kritis 19-11 yang dihasilkan
dari smash silang Nitya yang melebar, ‘placing di depan net Zhao Tingting dan
bola potong Zhang Yawen.
Indonesia kembali menambah dua
angka ketika Zhao Tingting gagal mengembalikan bola di depan net serta smash Grace
yang dikembalikan melebar oleh Zhao namun bola tanggung Nitya yang dipotong
oleh Zhao di depan net mengantarkan pasangan tirai bambu pada ‘match point’
20-13. Permainan netting yang dikembalikan melebar oleh Grace akhirnya
memastikan kemenangan Yawen/Tingting 21-13 yang sekaligus merupakan gelar
pertama bagi tim China.
Tunggal Putri, Zhou Mi Kukuhkan
Tahta 1 Dunia
Partai kedua antara dua singa
yang sudah malang melintang di event bulutangkis dunia menyajikan pertarungan
ketat di set pertama dan kedua. Setelah terlibat saling mengejar angka dari
awal set pertama hingga kedudukan setara di angka 5, Xie akhinya mampu unggul
jauh 9-5 ketika drop shot silang dan penempatan Xingfang mampu membuahkan poin
demi poin selain karena pengembalian backhand Zhou Mi yang gagal di depan net.
Zhou Mia akhirnya mampu memperkecil gap poin 10-12 ketika drop shot silangnya
gagal dikembalikan oleh Xingfang dan olahan bola Xie di depan net gagal
menghasilkan poin.
Selisih dua angka antara kedua
pemain ini berlanjut hingga kedudukan 13-11, 14-12 dan 15-13 dari hasil pukulan
smash dan penempatan yang akurat. Gap 1 poin bahkan sempat terjadi hingga skor
imbang 17-17 saat Zhou tampil lebih agresif dengan serangannya namun beberapa
kali juga melakukan penegmbalian yang teralalu melebar. Tiga angka beruntun
yang dikoleksi Zhou dari pengembalian Xingfang yang terlalu melebar saat
melakukan ‘placing’ di depan net, penegmbalian Xingfang yang terlalu lemah di
depan net, serta smashnya yang gagal melewat net, 20-17. Xingfang nyaris berhasil
memaksakan ‘deuce’ ketika bola smash dan serobotan Xingfang hanya mampu dilihat
begitu saja oleh Zhou Mi, 19-20. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan di atas
angin, Zhou akhirnya berinisiatif untuk menutup set ini dengan smash keras dari
bola tanggung Xie yang mengambang di atas net, 21-19.
Ketatnya persaingan kedua pemain
senior ini kembali tersaji di set kedua. Xingfang akhirnya berhasil mendahului
perolehan poin meskipun kemudian mampu di susul oleh Zhou Mi. Selisih 1-2 poin
sudah berlangsung dari awal set hingga jeda interval 11-9 dan 12-10 untuk Xie. Reli-reli panajang yang
ditutup oleh drop shot tajam atau penempatan bola yang tak terjangkau menjadi
senjata andalan kedua pemain ini untuk menghasilkan poin demi poin. Zhou sempat
menyamakan kedudukan di titik 12 ketika smash return Xie gagal melewati net dan
drop shot silang Zhou gagal dikembalikan oleh Xingfang.
Namun Xie seoleha-olah tak mau
melepaskan set ini dan bermain ngotot untuk terus memimpin 14-12 dan 15-13
ketika masing-masing pemain mengoleksi poin dari kesalahan lawannya. Setelah
gagal melakukan drop shot di depan net, Xingfang berhasil meluncur 18-14 dari
bola potong Xie di depan net serta ‘unforced error’ dari Zhou. Namun Zhou
kembali berhasil menyamakan angka di titik 18 dari smash keras Zhou Mi setelah
reli-reli panjang dengan memanfaatkan bola tanggung Xingfang. Merebut 3 angka
beruntun dari dorongan bola Xie ke area baseline, penempatan bola Zhou yang
gagal melampaui net, serta smash Xingfang yang tidak dikembalikan sempurna oleh
Zhou, Xingfang akhirnya memkasa rubber set 21-18.
Entah karena faktor stamina yang
menurun setelah berjibaku dengan reli-reli panjang di dua set sebelumnya atau
justru motivasi Xie yang sudah padam, pemain paling senior tim China tersebut
langsung tertinggal 2-7 karena kesalahan sendiri yang gagal mengembalikan bola.
Zhou Mi semakin jauh meluncur dan menggandakan skornya menjadi 14-5 ketika
smash dan drop shot Xie berkali-kali melebar dari lapangan permainan setelah
mendapat tekanan dari smash-smash silang Zhou yang cukup keras. Tiga poin dari smash
Zhou dan dua kesalahan Xie yang ragu-ragu dalam mengambalikan bola mengantar
Zhou pada angka kritis 17-6.
Bola-bola serobotan Xie dan
penempatannya di area baseline sempat memperkecil gap Xingfang menjadi 9-19. Smash
silang Xie kembali menambah 1 poin bagi peraih perak Olimpiade Beijing tersebut
namun drop shot dan smash silang Zhou Mi akhirnya menutup set ini untuk
memastikan gelar sekaligus tahtanya di peringkat satu dunia.
Ganda Putra, KiNdra Buyarkan
Tradisi Juara
Setelah tumbangnya NoLyn di laga
semifinal kemarin, peringkat teratas ganda putra, Markis/Hendra (1) untuk
mempetahankan tradisi gelar juara di Singapore SS yang terus berlanjut dari
tahun 2004 hingga 2008. Namun apa yang diharapkan ternyata jauh dari kenyataan
yang terjadi di lapangan. Penampilan antiklimaks KiNdra setelah di babak
semifinal menang mudah atas duo Denmark ternyata justru tak mampu membendung satu-satunya
wakil Eropa yang tersisa, Anthony Clark/Nathan Robertson. Gejala kekalahan KiNdra
sebenarnya sudah terlihat sejak awal set pertama ketika Kido yang seharusnya
mampu menjadi ‘playmaker’ justru tak tampil dalam performa terbaiknya dan
banyak melakukan kesalahan sendiri.
Gagal mengembalikan bola di depan
net membuat tandem Indonesia tertinggal 2-5 dan 3-9. Kido tidak hanya gagal
dalam melakukan serangan smash dan mengembalikan smash di depan net namun
justru saat melakukan servis yang seharusnya menjadi modal utama yang harus
dimiliki oleh seorang pemain. Penampilan KiNdra yang tidak ‘in’ dan jauh dari
yang diharapkan membuat setiap pukulan yang merka lakukan menjadi serba salah
dan selalu mebuahkan poin bagi lawan. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik
oleh Nathan/Anthony untuk terus menekan dan meluncur dengan perolehan angka
12-6 dan 17-9.
Sempat menambah dua angka dari
bola tanggung yang diselesaikan dengan baik oleh Kido, adu drive yang ditutup
oleh kesalahan sendiri dari Nathan Robertson dan smash Hednra di area baseline
mengubah kedudukan menjadi 12-18. Untuk kesekian kalinya, penempatan Nathan di
area baseline yang tidak terbendung, smash Nathan yang dibuang keluar oleh
Hendra dan backhand Markis yang gagal melampaui net akhirnya menutup set ini
dengan mudah untuk duo Inggris, 21-12.
Duo KiNdra tidak hanya kehilangan
hubungan yang solid dalam setiap pukulannya namun pertahanan keduanya yang
selalu sulit untuk ditembus kali ini justru tak berkutik menghadapi serangan
beruntun dari pasangan Inggris. Sebaliknya, Nathan tampil brilian dan tidak
menyiakan setiap kesempatan untuk melakukan serangan dan menekan pasangan
Indonesia. Berharap akan mendapatkan perubahan dari permainan KiNdra di set
kedua ternyata justru mbuahkan harapan kosong. Kekecewaan publik pendukung
Indonesia yang tetap setia memberi semangat kepada peraih emas Olimpiade
Beijing tersebut akhirnya harus kembali terurai ketika Kindra kembali
tertinngal 1-7 dan 2-10 di paruh awal set.
Bukan hanya Kido yang mengalami
degradasi permainan, Hendra pun akhirnya ikut tertular dan mulai melakukan
banyak kesalahan sendiri. Duet Anthony/Nathan terus meluncur dengan skor 14-5,
17-6 dan 19-7. Bahkan tidak hanya Anthony saja yang berhasil mengontrol
pertandingan di set ini, Anthony Clark pun sudah meningkatkan kepercayaan
dirinya untuk terus menekan dengan smash dan penempatan bola-bolanya di bagian
baseline. Penempatan bola Hendra yang membelah diantara kedua pasangan serta smash
beruntun sempat menambah angka pasangan Indonesia 9-19 namun smash beruntun
mengantarkan Inggris pada ‘match point’ 20-9. Kesalahan penegembalian Anthony di
depan net dan serobotan Hendra di area baseline kembali mengubah kedudukan
untuk merah putih namun untuk kesekian kalinya, servis Kido yang gagal melewati
net akhirnya menutup set ini dan memastikan gelar perdana duo Inggris 21-11.
Ganda Campuran, Yawen Gagal
Manfatkan Momentum
Pertarungan antara sesama wakil
China tersaji di partai keempat antara unggulan ke-5, Zheng Bo/Ma Jin
menghadapi Xie Zhongbo/Zhang Yawen (6). Harus diakui bahwa Yawen memiliki
stamina yang luar biasa setelah bermain cukup memeras tenaga menghadapi duo
srikandi Indonesia di laga pembuka namun tetap mampu bermain maksimal di dua
set awal menghadapi Zheng/Ma. Dari awal set hingga kedudukan 8-8, kedua
pasangan saling kejar mengejar dengan selisih 1 poin. Xie/Zhang akhirnya mampu
unggul 12-8 dan 13-9 ketika beberapa penempatan bola keduanya gagal
dikembalikan dengan baik oleh Zheng/Ma. Kesalahan sendiri dari Zheng/Ma juga
memudahkan Xie/Zhang untuk terus meraih poin demi poin.
Tekanan beruntun Zheng Bo lewat
smash-smash kerasnya dan penempatan bola akurat dari Ma Jin di depan net
mengubah kedudukan menjadi 18-15 untuk Zheng/Ma di angka-angka kritis. Namun
tak mau menyerah begitu saja, Xie/Zhang perlahan berhasil mengejar
ketertinggalannya dan menyamakan kedudukan di angka 19. Penempatan bola Yawen
di area baseline yang kosong dan smash Xie Zhongbo yang gagal dikembalikan oleh
Ma Jin di depan net akhirnya menutup set ini untuk Xie/Zhang 21-19.
Di set kedua, Xie/Zhang kembali
menunjukkan kedigjayaan mereka untuk unggul 8-1 dan 10-4 sebelum jeda interval
ketika beberapa kali adu reli tidak mampu dengan sempurna dibalikkan oleh
Zheng/Ma. Perlahan namun pasti, paska jeda interval Zheng/Ma berhasil
memperkecil selisih poin menjadi 9-14 dan 12-15 dan akhirnya tersamakan di
titik 15 ketika smash keras Zheng Bo dan serobotan Ma Jin berhasil mematahkan
perlawanan Xie/Zhang. Saling memimpin dan selisih 1 poin kembali terjadi hingga
skor 19 sama. Dua kesalahan sendiri Xie Zhongbo yang menyebabkan bola terlalu
melebar akhirnya memaksakan rubber set untuk keunggulan Zheng/Ma 21-19.
Stamina dan konsentrasi yang
menurun dari Xie/Zhang membuat keduanya banyak melakukan kesalahan sendiri di
set ke-3. Zheng Bo yang terus meningkat kepercayaan dirinya setelah memenangkan
duel kritis di set kedua terus menghujani tekanan bagi keduanya dengan
smash-smash keras. Keduanya meluncur dari 7-3 menjadi 15-5 dan 17-6. Dengan
sisa-sisa tenaga, Xie/Zhang mencoba untuk bangkit dan menysul 10-17 namun 3
angka beriring yang dikantongi oleh Zheng/Ma akhirnya mengantarkan keduanya
pada ‘match point’ 20-10 dan menutup set ini 21-11.
Tungga Putra, Tak Ada Kesempatan
Kedua
Keberuntungan ruapanya masih
belum berpihak kepada tunggal Thailand, Boonsak Ponsana untuk mengulang raihan
prestasi yang pernah dicapinya di turnamen ini dua tahun yang lalu. Ditantang
oleh wakil China, Bao Chunlai, Boonsak akhirnya menyerah setelah melewati
pertarungan rubber set. Di set pertama, Bao yang menguasai jalannya
pertandingan sempat tersusul di angka 14 ketika telah berhasil memimpin 9-4 dan
12-7. Boonsak yang pada awalnya sulit untuk mengantisipasi olahan bola Bao di
depan net dan beberapa kali melakukan kesalahan sendiri mampu tampil menekan
dengan smash-smash dan drop shot yang ditempatkan di daerah tak terjangkau.
Kematangan dan pengalaman Baolah yang akhirnya membuatnya kembali unggul 16-14,
19-16 dan menutup set ini 21-19.
Di set kedua, Bao tampil lebih
agresif namun seringkali tidak sabar dalam melayani bola-bola Boonsak.
Memanfatkan situasi ini, Boonsak mampu unggul 6-3 dan 11-8 saat jeda interval.
Meski sempat terkejar dan tersamakan kedudukannya, Bao kembali tertinggal
setelah beberapa kali melakukan kesalahan sendiri sedangkan sebaliknya Boonsak
tampil ‘smart’ dalam strategi penempatan bola. Memimpin dengan 17-13 dan 20-14,
tunggal terbaik negeri gajah putih tersebut akhirnya berhasil memaksakan rubber
set 21-16.
Boonsak kembali berjaya menguasai
paruh awal set ketiga dengan tampil menyerang namun tetap menggunakan strategi
penempatan bola dan olahan bola di depan net/. Leading dengan 4-2, 7-3 dan
10-6, Boonsak mampu mengontrol jalannya pertandingan di sepanjang awal set
ketiga ini. Namun karakter ulet pemain China kembali terjajal setelah jeda
interval dimana Bao mampu merebut 9 angka beruntun dan mengubah kedudukan dari
tertinggal 6-10 menjadi unggul 15-10. Memontum ini tidak disia-siakan oleh Bao
untuk bangkit dan terus mempertahankan keunggulannya. Meskipun kedua pemain
tampil maksimal dan minim dalam melakukan ‘unforced error’ Bao yang lebih
agresif dan letih tepat dalam melakukan serangan-serangan kejutan melaju dengan
skor 16-13 dan 17-14. Tiga angka beruntun yang dikoleksi Bao mengantarkannya
pada match point 20-14. Boonsak sempat menambah 1 angka sebelum Bao
menyelesaikan set ini lebih dulu 21-15 sekaligus mempersembahkan gelar ketiga
bagi tim naga tersebut.
“Paling tidak kita lebih baik
dari Malaysia, Denmark, dan Korea yang pulang tanpa gelar” ungkap salah seorang
pecinta badminton Indonesia yang ikut memadati Singapore Indoor Stadium saat
diminta untuk menanggapi raihan hasil tim Indonesia di turnamen Singapore SS
2009 yang baru saja usai dihelat. Dua gelar runner up dengan catatan yang
berbeda berhasil di sumbang oleh dua wakil Indonesia yang bertarung di babak
final. Meskipun ungkapan tersebut hanya sekedar pengobat kekecewaan atas
penampilan para jagoan mereka namun merah putih harus tetap bangkit untuk
menyongsong turnamen Super Series berikutnya yang akan digelar di Jakarta mulai
selasa (17/6) ini.
Meskipun hanya segelintir para
pendukung kubu Indonesia yang memadati Singapore Indoor Stadium untuk
menyaksikan secara langsung aksi para pebulutangkis kelas dunia, teriakan khas
IN-DO-NE-SIA sayup-sayup masih terdengar menyemangati atlet merah putih yang
tengah berjibaku di tengah lapangan meskipun kalah jumlah dari supporter negeri
bambu. Penampilan mengecewakan NoLyn di laga pembukasempat menggurat kekecewaan di hari para
pendukungnya namun motivasi kembali bangkit saat melihat dua wakil Indonesia
lainnya mampu bermain maksimal dan meloloskan diri ke partai puncak.
Meskipun telah memasuki babak
semifinal, kejutan demi kejutan ternyata masih setia mengiri pertandingan para
atlet dan kali ini menular kepada sektor ganda campuran. Dua unggulan teratas
finalis Olimpiade Beijing 2008 dipaksa menyerah kepada dua pasangan China yang
tampil lebih cemerlang. Meskipun mereka tampil di lapangan yang berbeda, namun
keduanya sama-sama mencatatkan kegagalan untuk melaju ke babak final.
Tidak ditayangkannya partai
pembuka di lapangan satu antara Nova/Lily (1) menghadapi duet China, Xie
Zhongbo/Zhang Yawen (6) oleh stasiun televisi nasional sempat membuat para
pecinta badminton tanah air merasa kecewa. Apalagi harus menerima kabar buruk
di akhir pertandingan tentang kegagalan mereka. Meskipun lebih banyak bermain
defensive di set pertama, NoLyn mampu memanfaatkan beberapa keteledoran
Xie/Zhang dalam mengembalikan bola. Setelah perseteruan ketat di awal set,
NoLyn akhirnya mampu terus memimpin 10-7 dan 11-8 saat jeda interval.
Penempatan bola NoLyn yang sulit untuk diantisipasi membuat poin terus mengalir
bagi kubu Indonesia meskipun dari beberapa tekanan yang dilancarkan oleh
smash-smash keras Xie Zhongbo juga menghasilkan poin demi poin bagi kubu China.
Unggul 15-12, 18-15 dan 19-16
nyaris membuat mimpi NoLyn menjadi sempurna ketika skor berubah ke ‘match point’
20-18. Namun beberapa ‘unforced error’ beruntun dari Nova di saat-saat yang
paling kritis ini seperti smash yang terlalu melebar atau gagal melewati net
tak disangka mengalir begitu mudah bagi Xie/Zhang untuk mengoleksi 4 angka
beriringan sekaligus menutup set ini 22-20.
Meskipun tekanan Xie/Zhang tidak
sedahsyat set pertama dan NoLyn sudah lebih mampu mengembangkan permainan
mereka yang sebenarnya. Meskipun senantiasa diserang oleh smash-smash keras
XIe/Zhang dan permainan drive-drive cepat, keduanya mampu memanfaatkan
penempatan bola yang akurat untuk menekan balik pasangan China dan mendapatkan
poin demi poin. Keduanya kembali unggul 6-3, 9-6 dan 11-7 sebelum jeda interval
set kedua. Lily yang beberapa kali tidak siap menerima smash dari lawan ternyata
mampu dimanfaatkan dengan baik oleh Xie/Zhang untuk menambah perbendahaaran
poin keduanya. Kegagalan beruntun dari pasangan Indonesia membuat kubu China
akhirnya mampu menyamakan kedudukan di titik 14 dan 15 serta balik memimpin
16-15.
Permainan memukau NoLyn di depan
net kembali menjadi kunci kemenangan duo terbaik Indonesia tersebut untuk
mendapatkan ‘second winning’ 18-16, 19-17 dan 20-18. Namun keberuntungan
rupanya masih belum berpihak kepada kubu Indonesia. Untuk kedua kalinya,
sindrom angka kritis persis menjangkiti NoLyn seperti yang terjadi di set
pertama. Memanfaatkan ‘unforced error’ dari ganda merah putih yang mengalami
tekanan, China akhirnya memastikan tiket babak final dengan merebut 4 poin
beruntun, 22-20.
Kejayaan pasangan China ternyata
tidak berhenti sampai disana. Di lapangan yang berbeda, duo Korea Lee Yong
Dae/Lee Hyo Jung (1) juga tampak kewalahan menghadapi unggulan ke-5, Zheng
Bo/Ma Jin. Permainan drive-drive cepat khas ganda campuran yang ditutup oleh
smash-smash keras sudah tersaji diantara kedua pasangan sejak babak-babak awal.
Gejala kekalahan peraih perak Olimpiade Beijing 2008 ini sudah terlihat sejak
awal set pertama saat keduanya berkali-kali gagal menyebrangkan bola di depan
net. Duo Lee langsung tertinggal 3-7 dan 6-11 saat jeda interval.
Drop shot tajam Zheng Bo beberapa
kali sempat menghasilkan poin bagi China karena gagal dikembalikan dengan
sempurna. Lee Yong Dae meskipun mahir dalam mengatur akurasi penempatan bola di
tempat tak terjangkau seringkali tidak berhasil menyerobot bola di depan net.
Keunggulan Zheng/Ma 15-8 terus mereka pertahankan hingga kedudukan 18-13 ketika
net silang dan pengembalian Hyo Jung terlalu melebar. Di sisi lain, Ma Jin juga
belum mampu bermain sempurna dan beberapa kali melakukan kesalahan sendiri.
Pengembaliannya yang gagal melewati net dan terlalu tanggung berhasil
dimanfaatkan pasangan Korea untuk mencuri angka demi angka.
Bola tanggung Zheng Bo yang
ditutup oleh smash Hyo Jung mengubah kedudukan menjadi 18-14. Namun 3 poin
beruntun dari smash keras Zheng Bo, penempatan bola Ma Jin di depan net setelah
kedua pasangan terlibat permainan reli panjang, serta lob serang yang gagal
diantisipasi oleh Yong Dae di area baseline akhirnya menutup set pertama 21-14
untuk pasangan China. Tekanan demi tekanan masih terus dilunsurkan oleh tandem
China di set kedua. 5 kesalahan beruntun Lee Hyo Jung saat mengembalikan bola
dan pengembalian yang terlalu melebar Lee Yong Dae membuat duo Zheng/Ma
lagnsung melaju 6-1.
Kesalahan sendiri yang dilakukan
oleh Ma Jin dan teknanan yang diberikan oleh Yong Dae membuat kedudukan berubah
menjadi 8-3. Reli-reli panjang yang memperlihatkan pertahanan yang sempurna
dari kedua pasangan akhirnya diselesaikan dengan penempatan bola yang tak
terjangkau atau kesalahan sendiri dari masing-masing pemain. Mencoba untuk
terus menekan, Zheng/Ma akhirnya menyentuh interval lebih dulu 11-7. Dari titik
ini, China berhasil memepertahankan gap 4 angka untuk terus ‘leading hingga
kedudukan 15-11. Bola-bola yang tanggung berhasil dimanfaatkan oleh duo Lee dan
strategi bermain pintar dengan penempatan bola di tempat yang kosong. Sementara
itu China mengeloksi poin demi poin dari kesalahan sendiri yang dilakukan oleh
Yong Dae maupun Hyo Jung.
Memasuki angka kritis 18-13,
akurasi pengembalian ZHeng Bo sedikit melemah namun sayangnya tidak mampu
dimanfaatkan oleh pasangan Korea karena ‘unforced error’ yang mereka lakukan
khususnya oleh Lee Hyo Jung juga terus menguntungkan bagi lawannya. Servis
error yang dilakukan oleh Ma Jin serta smash silang dan penempatan bola
sempurna dari Hyo Jung sempat memperkecil selisih poin Korea menjadi 16-18.
Namun untuk kesekian kalinya, Hyo Jung membuat kesalahan sendiri dengan membuang
bola terlalu melebar 16-20. Pengembalian Ma Jin yang tidak sempurna dan servis
Hyo Jung yang terlalu tinggi namuan ternyata jatuh tepat di dalam lapangan
kosong nyaris mengantarkan duo Lee pada momentum keduanya. Akan tetapi
kegagalan net silang Hyo Jung akhirnya memupuskan harapan peraih emas Olimpiade
2008 tersebut 18-21.
Ganda Putri, GraNi Tantang
Yawen/Tingting
Setelah kecewa dengan penampilan
NoLyn di laga sebelumnya, pendukung Indonesia akhirnya kembali bangkit saat
menyaksikan perlawanan Grace/Nitya menghadapi unggulan Denmark, Lena
Frier/Kamilla Rytter Juhl (8). Di sepanjang set pertama, dominasi Denmark
memang tak terbantahkan dengan terus menekan pasangan Indonesia hingga
menjelang akhir set. Agresivitas serangan keduanya nyaris membuayarkan impian
final GraNi sampai di titik paling menentukan, GraNi akhirnya mendapatkan
keberuntungan dengan ‘lucky winning’.
Penempatan bola yang akurat,
permainan di depan net serta momentum yang senantiasa dimanfaatkan dengan baik
oleh Lena Frier membuat pasangan Denmark menguasai sepenuhnya jalannya
pertandingan set pertama. Memimpin dengan 4-2, 8-6 dan menutup jeda interval
11-9 hanya dalam tempo 7 menit dengan ‘placing’ dan smash mereka sempat membuat
public Indonesia ragu apakah GraNi dapat membalikkan keadaan. Sebaliknya, Nitya
beberapa kali gagal dalam melakukan smash yang terbentur oleh dinding net.
Indonesia sempat memperkecil selisih poin menjadi 13-14 ketika Lena dan Kamilla
gagal mengembalikan bola dengan sempurna dan jumping smash Grace sukses
menembus pertahanan keduanya.
Namun kesalahan sendiri dari
Grace saat pasangan Denmark sudah mati langkah, penempatan bola silang Kamilla
dan bol tanggung Nitya yang diselesaikan dengan manis oleh Lena memaku
Indonesia pada skor 13-17. Pengembalian Kamilla yang gagal melewati net kembali
menambah angka bagi merah putih namun bola tanggung Grace dan pengembalian
Nitya yang terlalu melebar mengantarkan Denmark pada angka kritis 19-17. GraNi
rupanya tidak mau menyerah begitu saja di titik ini. Semangat keduanya mampu
memperkecil gap menjadi 17-19 ketika smash-smash keras dan servis Grace
berhasil membobol dan mengecoh pertahanan duo Denmark.
Kemenangan Denmark nyaris
terwujud saat serobotan Grace gagal melewati hadangan net, 20-17. Namun dua
kesalahan yang dilakukan oleh Juhl dan smash beruntun Grace akhirnya
mebuayarkan harapan mereka dan memaksakan ‘deuce’ 20-20. Pengembalin Lenda yang
terlalu melabar dan Kamilla yang gagal melewati net akhirnya mengantarkan GraNi
pada kemenangan 22-20.
Entah apa yang terjadi pada
pasangan Denmark di set kedua. Antiklimaks di penghujung set pertama rupanya
membuat keduanya patah semangat dan mengendorkan tempo permainan di set kedua.
Agresivitas Lena/Kamilla yang menurun juga ikut dibarengi oleh kurangnya
keakuratan pukulan mereka sehingga menguntungkan pasangan Indonesia untuk
mndominasi jalannya pertandingan set kedua. Kesalahan beruntun dari Lena di
depan net yang di set pertama tampil garang dengan terus menekan membuat
Indonesia unggul jauh 8-3 dan 11-4 saat jeda interval. Meskipun harus diakui
permainan Nitya juga tidak sempurna dan beberapa kali masih melakukan kesalahan
sendiri, penurunan kualitas pasangan Denmark memudahkan ganda Indonesia untuk
terus unggul 14-7.
Hal ini tidak hanya terlihat dari
pengembalian bola Lena/Kamilla yang selalu gagal namun juga servis Kamilla yang
seringkali tidak mampu melewati dinding net. GraNi langsung melaju pada
kedudukan kritis 17-11 dan 20-11. Servis Grace yang disalahkan oleh wasit
menambah angka bagi pasangan Denmark namun kesalahan sendiri yang dilakukan
Lena dalam mengembalikan bola akhirnya memastikan tiket partai puncak untuk
merah putih, 21-12.
Pada partai semifinal lainnya,
unggulan ke-5, Zhang Yawen/Zhao Tingting mendapatkan perlawanan yang cukup a
lot dari tandem nomor dua Korea, Ha Jung Eun/Kim Min Jung (3). Secara kualitas,
permainan kedua pasangan ini masih satu level berada di atas perseteruan yang
terjadi antara GraNi dan Lena/Kamilla. Ha/Kim tampil sempurna dengan ‘defense’
yang luar biasa dan minim kesalahan sendiri. Reli-reli panjang antara kedua
pasangan selalu menghiasi untuk meraih poin demi poin. Ketatnya pertahanan
pasangan Korea juga sempat membuat Zhang/Zhao akhirnya melakukan kesalahan
sendiri.
Ha/Kim sebenaranya menguasai
jalannya pertandingan set pertama. Keduanya unggul 8-3 dan 11-8 dari penempatan
bola yang akurat serta petahanan yang luar biasa. Bahkan bola-bola potong
keduanya di depan net juga membuat mereka unggul hingga poin kritis 17-12 dan
18-13. Di titik ini sayangnya Ha/Kim mulai kehilangan focus permainan dan
justru melakukan kesalahan sendiri. 5 angka beruntun yang dikoleksi Zhang/Zhao
akhirnya membuat mereka mampu menyetarakan kedudukan di angka 18. Keadaan
berubah menjadi dramatis ketika pasangan China berbalik unggul 20-19 karena
pengembalian Min Jung yang gagal melewati net dan smash Zhao Tingting yang
dikembalikan melebar oleh Ha Jung Eun. Meski sempat menyamakan kedudukan dan
memaksa ‘deuce’ 20-20, Ha/Kim akhirnya menyarah 20-22 ketika dua pengembalian
Ha Jung Eun dan Kim Min Jung terlalu melebar ke luar lapangan setelah terlibat
permainan reli yang cukup melelahkan.
Degradasi stamina besar-besaran
terjadi pada pasangan Korea setelah memasuki paruh akhir set kedua. Meeskpun
mereka menguasai pertandingan di paruh awal hingga titik 10-8, Zhang/Zhao
akhirnya mengontrol jalannya pertandingan dan balik memimpin 14-11 hingga
kedudukan 19-15. Zhao Tingting berhasil menjadi ‘playmaker’ dengan teknan
smash-smash kerasnya yang sulit diantisipasi oleh pasangan Korea. Meskipun
dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Ha/Kim mampu membendung serangan duo China,
variasi pukulan silang dan bola-bola serobot Zhao akhirnya mampu mematahkan
perlawanan pasangan Korea. Dua kesalahan beruntun Zhang Yawen mengubah
kedudukan menjadi 17-19. Namun tak mau menyia-nyiakan keunggulan mereka Zhang
Yawen terus mencoba menekan dan akhirnya membuahkan hasil 20-17. Smash silang
Ha Jung Eun sempat memperpanjang nafas Korea namun pengembalian melebar dari
Min Jung akhirnya menutup set ini 21-18.
Ganda Putra, KiNdra Tampil
Sempurna
Kemenangan para srikandi
Indonesia yang mengobati kekecewaan atas tumbangnya NoLyn akhirnya dilengkapi
dengan sempurna oleh penampilan tandem peringkat satu dunia, Markis/Hendra yang
menjegal unggulan ke-4, Lars Paaske/Jonas Rasmussen. Kido yang sempat terganggu
dengan cedera lututnya hari ini (15/6) mampu bermain maksimal dan menguasai
jalannya pertandingan. Olahan bola Hednra di depan net yang dipadukan dengan
smash-smash keras Kido dari area baseline mampu memberikan tekanan yang
signifikan bagi kedua pemain ganda veteran Denmark tersebut. Meskipun sempat
balik tertekan setelah unggul 8-2 dan nyaris terkejar 8-7, KiNdra kembali
meningkatkan tempo serangan dan mencari peluang dengan strategi penempatan
bola.
Keduanya langsung unggul jauh
16-7 ketika Lars/Jonas mulai kehabisan akal untuk menembus pertahan KiNdra yang
bermain dengan tempo cepat. Banyaknya kesalahan sendiri yang dilakukan oleh
Lars/Jonas juga memudahkan pasangan Indonesia untuk terus melaju hingga angka
kritis 20-11. Tak terkejar, KiNdra akhirnya menutup set ini dengan kejayaan
sempurna 21-12.
Di set kedua, agresivitas
pasangan Denmark lebih berkembang dan mulai meningkatkan tempo serangan. Namun
keakuratan pengembalian bola yang tidak sempurna membuat pasangan peringkat 4
dunia ini sulit untuk mengungguli perolehan poin KiNdra. Sebaliknya meskipun
tidak seagresif di set pertama, serangan KiNdra lebih taktis dan pintar dalam
mencari sela kosong di lapangan lawan. Permainan bola keduanya di depan net
juga terus membuat mereka unggul dari titik 10-4, 14-8 dan 17-11. Memasuki
angka kritis 19-13, KiNdra akhirnya menutup set ini dengan kemenangan 21-16. Di
partai puncak, KiNdra akan ditantang oleh ganda fenomenal Eropa yang menjadi
satu-satunya wakil Eropa di babak final, Anthony Clark/Nathan Robertson.
Keduanya berhasil meredam perlawanan peraih gelar New Zealand International
Challenge 2008, Chen Hung Lin/Lin Yu Lang, 21-19, 21-19.
Tunggal Putra, Menanti
Keberuntungan Kedua
Dua tahun yang lalu, tunggal
Thailand Boonsak Ponsana berhasil mencatatkan sejarah sebagai pemain
nonunggulan yang mampu melaju ke babak final dan akhirnya meraih gelar juara di
turnamen ini. Bahkan di babak semifinal, peringkat 19 dunia itu mampu
menjungkalkan nama besar Lin Dan sebelum akhirnya merampas gelar dari tunggal
China lainnya, Chen Yu di laga pamungkas. Tahun ini di turnamen yang sama Boonsak
mendapatkan kesempatan kedua untuk mengulang prestasinya dengan lawan yang
berbeda.
Meskipun harus berjuang keras
rubber set untuk menghentikan laju pemain terbaik Korea, Park Sung Hwan 19-21,
21-18, 21-13, Boonsak akhirnya berhasil mengantongi tiket final dan akan
dipertemukan dengan jagoan China, Bao Chunlai. Kesabaran dan permainan strategi
Boonsak ketika menghadapi Park akan kembali diuji konsistensinya oleh tunggal
ketiga China tersebut. Sedangkan Bao harus berjuang meraih gelar juara karena membutuhkan
banyak poin untuk mendongkrak peringkatnya agar masuk sebagai daftar unggulan
di Kejuaraan Dunia 2009. Di laga semifinal, Bao memetik kemenangan atas
kompatriotnya, Chen Jin (4) 21-19, 21-18.
Tunggal Putri, Perseteruan 2
Singa Senior Di Partai Puncak
Dua pemain beda generasi yang
sudah tidak memasuki usia muda dan kaya akan pengalaman akan tersaji di partai
final besok (15/6). Namun ibarat seekor singa, kedua pemain senior asal China
ini ternyata masih sangat disegani oleh lawan-lawannya karena kualitasnya yang
masih belum tergoyahkan. Peraih perak Olimpiade Beijing 2008, Xie Xingfang (8)
harus berjuang keras untuk menundukkan adik angkatannya, Jiang Yanjiao 17-21,
21-10, 21-19. Jiang yang berhasil menemukan performa terbaiknya justru gagal di
set ketiga ketika memimpin 17-15 justru berbalik tertinggal 18-20 dan sebelum
akhirnya menyerah 19-21.
Di laga semifinal lainnya,
unggulan teratas Zhou Mi masih belum tergoyahkan saat ditantang oleh peraih
mahkota Denmark SS 2008, Wang Lin. Wang sebenarnya menguasai jalannya
pertandingan set pertama dan unggul cukup jauh 17-12 setelah sempat tertinggal
3-10 di awal set. Namun berkat pengalamannya, Zhou Mi mampu mebalikkan keadaan
19-17 dan akhirnya menutup set ini 22-20.
Pada set kedua, dominasi Zhou Mi pun
tak terbantahkan. Kembali memimpin 6-2, 8-4 dan 14-9, Zhou akhirnya menyentuh
match point lebih dulu 20-11. Namun seolah-olah baru terbangun dari mimpinya,
Wang Lin tiba-tiba tampil menekan dan meningkatkan tempo serangan dansehingga
mendapatkan ‘second winnning’ dengan 7 angka beruntun 18-20. Zhou Mi yang
bermain lebih sabar akhirnya mampu menutup set ini 21-18 dan memastikan tiket
ke babak final untuk menantang Xie Xingfang (FEY).
Kejutan demi kejutan masih
menghiasai gelaran hari keempat turnamen Singapore Super Series yang telah
memasuki babak perempatfinal. Seolah tak mau ketinggalan dengan sektor tunggal,
kali ini para unggulan yang menjadi korban bertumbangan justru datang dari
sektor ganda putra dan putri. Malaysia menjadi salah satu negara yang kurang
beruntung di turnamen ini karena gagal menempatkan satupun wakilnya ke babak
semifinal. Padahal negeri jiran tersebut hadir dengan formasi terbaik serta
dukungan dari pemain peringkat atas dunia seperti Lee Choong Wei, Wong Pei
Tty/Chin Eei Hui dan Koo Kien Keat/Tan Boon Heong.
Duel ganda putri antara sesama
wakil China membuka babak perempatfinal di Singapore Indoor Stadium sore tadi
(13/6). Peringkat dua dunia, Cheng Shu/Zhao Yunlei ditantang oleh senior
mereka, Zhang Yawen/Zhao Tingting yang menempati unggulan ke-5. Perseteruan
yang diramalkan akan berlangsung ketat ternyata berjalan mudah untuk Zhang/Zhao
selama kurang lebih setengah jam dengan membukukan kemenangan 21-15, 21-13. Di
babak semifinal, duo China ini akan dipertemukan dengan unggulan ke-3 asal
Korea, Ha Jung Eun/Kim Min Jung yang harus berjibaku 3 set untuk menekuk ganda
muda Jepang, Mizuki Fujii/Reika Kakiiwa 21-13, 14-21, 21-17.
Kejutan terbesar yang juga
merupakan ‘match of the day’ di hari ini justru dipersembahkan oleh duet
Indonesia peringkat 20 dunia, Greysia Polii/Nitya Krishinda. Menantang unggulan
teratas yang sekaligus menempati tahta 1 dunia, Wong Pei Tty/Chin Eei Hui, duo
Indonesia yang sempat bermain grogi di awal set akhirnya mampu tampil maksimal
di dua set berikutnya. Wong/Chin yang menguasai jalannya pertandingan di set
pertama, memimpin dari titik 6-0 hingga 10-5. GraNi sempat memperkecil selisih
poin keduanya ketika mampu mengembangkan penempatan bola dan beberapa kesalahan
sendiri dari tandem Malaysia, 9-11. Namun setelah mendapat masukan dari sang
pelatih, Wong/Chin kembali mempertegas gaya bermain mereka dan tampil menekan,
18-11 dan 20-14. GraNi sempat menambah 3 angka sebelum Wong/Chin menutup set
ini lebih dulu 21-17.
Permainan GraNi yang lebih rileks
di set kedua ternyata ampuh mematahkan serangan-serangan yang dilancarkan oleh
duo negeri jiran. Memimpin 11-7 saat jeda interval dari bola-bola serang dan
penempatan yang akurat, GraNi terus berjaya 15-8 dan 19-13 ketika Chin Eei Hui
yang menjadi kunci kelemahan pasangan Malaysia beberapa kali melakukan
kesalahan sendiri. Sempat mencoba bangkit di saat kedudukan kritis 16-20,
Wong/Chin akhirnya harus rela menyerahkan set ini 16-21.
Awal set ketiga kembali berhasil
dikontrol oleh permainan solid ganda Malaysia dengan smash-smash serangnya.
Memimpin 7-4 dan 9-6, keduanya terus mendahului perolehan poin pasangan
Indonesia hingga kedudukan 12-10. Di titik inilah GraNi mendapatkan momentum
kemenangan mereka dengan memanfaatkan kejelian dalam penempatan bola dan
kecerobohan yang acapkali dilakukan Chin Eei Hui. Indonesia akhirnya
membalikkan keadaan 14-12 dan 17-14.
Permaianan GraNi yang juga memukau
di depan net membuat keduanya terus unggul 18-15, 19-16 dan 20-17. Wong/Chin
sempat menambah 2 poin dan nyaris memaksakan ‘deuce’ ketika GraNi sedikit
terburu untuk segera menyelesaikan set ini. Namun beruntung pasangan Indonesia
menyelesaikan set ini lebih dulu 21-19.
Lawan GraNi di empat besar adalah peringkat 9 dunia asal Denmark, Kamilla
Rytter Juhl/Lena Frier Kristainsen. Keduanya tampil meyakinkan saat membungkam
duo China, Pan Pan/Tian Qing, 22-20, 21-10. Sungguh suatu penampilan yang
inkonsistensi yang ditampilkan oleh ganda peringkat ‘bawah’ China ini, Pan
Pan/Tian Qing, setelah sehari sebelumnya mampu menjungkalkan peraih perak
Olimpiade, Lee Hyo Jung/Lee Kyung Won.
Zhang Yawen akhirnya membuka
peluang untuk menyandirkan gelar di sektor campuran bersama Xie Zhaongbo
setelah mereka tampil maksimal saat melewati hadangan unggulan Denmark, Thomas
Laybourn/Kamilla Ritter Juhl (3). Unggul 21-19 di set pertama setelah
tertinggal 7-11 dan 10-14, Xie/Zhang berhasil memanfaatkan beberapa kesalahan dari
pengembalian bola Thomas/Kamilla. Namun memasuki paruh akhir set kedua, tandem
Denmark kembali bangkit dan memaksa rubber set dengan kemenangan 21-17.
Strategi permainan kedua pasangan yang berubah total di set ketiga akhirnya
kembali di dominasi oleh duo China yang lebih optimal dalam menempatkan bola
dan netting yang sempurna. Memimpin jauh 9-3, 12-6 dan 16-8, Xie/Zhang akhirnya
tak terkejar dan mengakhiri set ini 21-16.
Denga hasil ini, keduanya berhak
untuk menantang sang juara bertahan sekaligus unggulan teratas, Nova/Lily yang
lebih dulu mengantongi tiket empat besar setelah menjinakkan dua bintang
bersinar asal Polandia, Robert Mateusiak/Nadiezda Kostiuczyk, 21-17, 21-8.
Semifinal lainnya akan mempertemukan unggulan ke-2, peraih emas Olimpiade Beijing
2008, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung dan duet China lainnya, Zheng Bo/Ma Jin (5).
Duo Lee harus berjuang ekstra ketat 3 set untuk menyingkirkan duet Thailand,
Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam (8).
Set pertama berhasil dikuasai
oleh pasangan Thailand meskipun hanya memimpin 1-3 poin. Dengan ketatnya
persaingan di set ini, dimana masing-masing pasangan mengandalkan penempatan
bola-bola sulit yang diselesaikan dengan sergapan smash akhirnya diselesaikan
dengan baik oleh Sudket/Saralee, 23-21. Meskipun baku hantam di set kedua tidak
seagresif perolehan poin di set pertama, namun kedua pasangan tetap tampil
ngotot di atas lapangan. Unggul 10-8 menjalang interval set kedua, duo Lee
terus berjaya dan memimpin perolehan poin hingga kedudukan 17-14 dan 20-16.
Berada di atas angin ternyata
membuat pasangan Korea sedikit lengah dan memberikan kesempatan kepada
Sudket/Saralee untuk mengembangkan permainan mereka. Hasilnya adalah 4 poin
beruntun berhasil dikoleksi oleh pasangan Thailand dan memaksa ‘deuce’ 20-20.
Titik yang seharusnya mampu menjadi kulminasi bagi Sudket/Saralee untuk
menghempas duo Lee sayangnya tidak mampu dimanfaatkan dengan sempurna untuk
memetik dua angka kemenangan. Setelah kedua pasangan kembali terlibat reli-reliseru, duo Lee akhirnya mendapatkan
keberuntungan untuk menutup set ini lebih dulu 22-20 sekaligus memaksakan
rubber set.
Set ktiga akhirnya menjadi
antiklimaks dari perjuangan pasangan Thailand. Kegagalan di set kedua setelah
tampil ngotot ternyata berimbas cukup besar terhadap permainan mereka di laga
pamungkas. Sudket/Saralee yang mulai keteteran dalam beradu netting di barisan
depan berkali-kali salah dalam mengantisipasi bola. Tertinggal jauh 2-8, 6-15
dan 18-8, keduanya akhirnya harus rela menyerahkan tiket semifinal kepada
tandem negeri ginseng dan menuai kekalahan 10-21. Sementara itu harapan China
lainnya, Zheng Bo/Ma Jin (5) tanpa perlu banyak menyeka keringat akhirnya
mengakhiri petualangan ganda nomor dua Denmark, Joachim Fischer/Christinna
Pedersen (4), 21-17, 21-14. Setelah tampil ngotot menghadapi DevTa di laga
sebelumnya, kali ini Joachim/Christinna tak dapat berbuat banyak untuk
mengembangkan permainan mereka.
Rontoknya para unggulan juga
menghiasi nomor ganda putra. Unggulan ke-2, Mathias Boe/Carsten Mogensen rupanya
masih belum menemukan momentum terbaik mereka saat ditantang peraih juara New
Zealand Inetrenational Challenge 2008, Chen Hung Ling/Lin Yu Lang. Keduanya
mampu tampil solid dan memetik kemenangan 21-17 di set pertama. Namun memasuki
awal set kedua, Boe/Nuller tampil tak rapid an banyak melakukan kesalahan
sendiri. Tertinggal 0-7, keduanya sempat memperkecil selisih piin 10-11 saat
jeda interval. Namun usai mendapat arahan sang pelatih, duo Taiwan kembali
meluncur 14-10 dan 16-11 hingga titik kritis 20-15 dan akhirnya memaksakan
rubber set 21-17.
Game ketigapun tak jauh berbeda
dengan set sebelumnya. Permainan agresif Chen/Lin ditambah ‘unforced error’
dari Boe/Nuller kembali membuat keduanya berada di atas angin 11-3 sat jeda
interval. Duet Taiwan terus memimpin 14-9, 16-11 hingga memasuki angka kritis
19-13. Tandem terbaik Denmark tersebut akhirnya baru menyadari kesalahan
strategi permainan mereka dan mencoba untuk meningkatkan tempo serangan namun
di saat yang terlambat. Meskipun sempat memperkecil selisih poin menjadi 19-20,
ganda Taiwan berhasil untuk menutup set ini lebih dulu 21-19. Hasil ini akan
membawa mereka ke semifinal untuk menantang jagoan Inggris, Nathan
Robertson/Anthony Clark. Ganda fenomenal Eropa ini berhasil menghentikan laju
kolaborasi baru negeri panda, Xu Chen/Guo Zhendong, 21-17, 21-18.
Indonesia juga masih berpeluang
meraih gelar di nomor ini lewat sabetan raket peringkat satu dunia, Markis
Kido/Hendra Setiawan (1). Meskipun kondisi Kido belum pulih sepenuhnya, ganda
peraih emas Kejuaraan Dunia 2007 ini akhirnya mampu menundukkan satu-satunya
wakil tuan rumah yang tersisa, Hendri Kurniawan/Hendra Wijaya melalui
pertarungan rubber set. Meskipun KiNdra mampu memimpin di paruh akhir set
pertama dengan keunggulan 19-16 dan 20-17, sindrom poin kritis dan kepiawaian
dua kakak adik asal Indonesia ini berhasil memaksakan ‘deuce’ dan mebalikkan
keadaan 22-20.
Konsistensi dan pengalaman KiNdra
akhirnya benar-benar teruji di sepanjang set kedua dan pada paruh akhir set
ketiga. Menguasai jalannya pertandingan dan perolehan poin, mereka akhirnya
merebut dua game terakhir, 21-17, 21-18 sekaligus memastikan tempat di
semifinal. Seteru KiNdra di 4 besar adalah ganda Denmark, Lars Paaske/Jonas
Rasmussen (4). Meskipun Jonas mengaku sedang tidak dalam kondisi terbainya
karena sakit yang sempat membuat mereka harus mengundurkan diri, veteran peraih
emas Kejuaraan Dunia 2003 ini akhirnya memutuskan untuk tetap memaksakan
permainan dan memetik kemenangan atas wakil Malaysia, Gan Teik Chai/Lin Woon Fui,
21-15, 21-17.
Satu-satunya kehilangan terbesar
yang harus dialami oleh merah putih di babak perempatfinal yang juga merupakan
kejutan terbesar di sektor tunggal putra adalah gagalnya Sony mempertahankan
keunggulannya atas pebulutangkis terbaik Korea, Park Sung Hwan seperti yang
sempat dilakukannya pada semifinal Sudirman Cup bulan Mei yang lalu. Sony yang
kali ini diungggulkan di posisi ketiga, sebenarnya sudah menguasai jalannya
pertandingan set pertama. Unggul 10-6, 14-10 dan 16-13 dengan smash silang dan
drop shot tajam andalannya, Sony justru mengendorkan serangannya di akhir set
dan berbalik tertinggal 17-19. Meskipun sempat menyetarakan kedudukan di angka
19, permainan ‘lambat’ Sony akhirnya memudahkan Park untuk mengakhiri set ini
21-19.
Paska jeda interval set kedua,
Sony semakin sulit untuk bisa memandingi permainan Park. Selisih poin yang
cukup jauh, 10-16, 12-18 dan 14-19 dari penempatan bola-bola sulit tunggal
Korea, Sony akhirnya harus memupuskan impiannya untuk melaju ke semifinal dan
menelan kekalahan 15-21. Tunggal Thailand, Boonsak Ponsana yang menekuk Simon
Santoso di laga sebelumnya akhirnya berhasil melumpuhkan sang kuda hitam, Anup
Sridhar hanya dalam waktu 27 menit, 21-11, 21-8. Penmapilan Anup yang jauh dari
performa terbaiknya seperti pada babak sebelumnya saat menghempas Peter Gade
(2), memudahkan Boonsak untuk mengambil set ini tanpa harus menyeka keringat
lebih banyak.
Sementara itu China memastikan 1
tempat di final setelah terjadi pertemuan dua tunggal negeri tirai bamboo tersebut,
Chen Jin (4) dan Bao Chunlai. Chen harus berjibaku 3 set untuk mengeliminir
tunggal nomor 3 Denmark, Jan O Jorgensen, 15-21, 21-17, 21-18 sedangkan Bao
Chunlai yang seyogyanya di prediksi akan mendapat tantangan hebat dari si
penakluk Lee Choong Wei, Nguyen Tien Minh, ternyata di luar dugaan bermain jauh
di bawah performa terbaiknya. Antiklimaks permainan Nguyen di laga
perempatfinal memudahkan Bao Chunlai untuk menaklukkannya, 21-16, 21-13.
Pesta para pemain China juga
terjadi di sektor tunggal putri. Tiga dari empat kursi yang tersedia di babak
semifinal akan ditempati oleh anak asuhan Li Yongbo tersebut. Duel antara
sesama pemain China tersaji di lapangan 3 antara peraih 3 gelar beruntun di tur
Eropa sesi pertama 2009, Wang Yihan (2) dan pemain angkatan atas yang rawan
dengan rawan dilanda cedera, Jiang Yanjiao. Sang senior akhirnya memupuskan
harapan Yihan lewat pertarungan dua set langsung, 21-17, 21-11. China akhirnya
memastikan satu tempat di final setelah unggulan ke-8 Xie Xingfang ikut memetik
kemenangan atas jagoan Thailand, Salakjit Ponsana, 21-17, 21-9. Di babak selanjutnya
kedua pemain China beda generasi ini akan saling unjuk gigi untuk memperebutkan
tiket ke parta puncak.
All China Final juga masih
memungkinkan terjadi ketika Wang Lin (3) meloloskan diri ke babak semifinal
dengan menekuk bintang India, Saina Nehwal (6). Meskipun harus berjibaku 3 set
selama kurang lebih 1 jam, peraih gelar turnamen Denmark SS 2008 tersebut akhirnya
mampu melumpuhkan Nehwal, 19-21, 21-19, 21-14. Saina yang sempat mendominasi jalannya
pertandingan set pertama justru kedodoran di set kedua dan paruh akhir set
ketiga.
Namun untuk bisa mewujudkan
partai sesama China, Wang Lin harus mampu mengulang prestasinya di final
Denmark Open 2008 dengan menundukkan unggulan teratas asal Hongkong, Zhou Mi
yang baru saja mendapatkan kesempatan untuk membela negara barunya di dalam
turnamen multievent pada tahun 2009 ini. Zhou Mi sendiri mendapatkan tiket 4
besar setelah berhasil melumpuhkan andalan Belanda, Judith Meulendijks, 23-21,
21-17. Judith yang mampu tampil ngotot di set pertama, harus mengkui kepiawaian
Zhou Mi untuk mengusai jalannya pertandingan di set kedua (FEY).
I would like to send you this link about the Badminton Aviva Singapore Open 2009. It include free videos from Semi Finals to Final on Saturday 13 June --> Sunday 14 June 2009.
Memasuki hari kedua turnamen
Singapore Open Super Series, stadium indoor masih menjadi saksi bisu dari
berjatuhannya satu demi satu para unggulan yang difavoritkan meraih gelar dalam
turnamen ini. Setelah tunggal putri dihentakkan di babak pertama, kali ini
giliran sektor tunggal putra yang mengalami banjir kejutan dengan
bertumbangannya dominasi para pebulutangkis papan atas dari pemain kuda hitam
yang tidak diunggulkan sebelumnya.
Di sesi pertandingan pagi hari
yang dibuka oleh perseteruan di nomor campuran, 7 dari 8 tempat yang disediakan
untuk para unggulan berhasil diisi dengan sempurna oleh masing-masing pasangan.
Tandem Polandia, Robert/Nadiezda yang berhasil memukau penonton dengan aksi
mereka di laga sebelumnya saat membekap unggulan ke-7 asal China, Xu Chen/Zhao
Yunlei hari ini kembali memetik kemenangan atas duet Malaysia, Koo Kien Keat/Ng
Hui Lin 21-17, 21-18. Untuk bisa melaju ke semifinal, keduanya butuh
keajaiban kedua guna menghentikan laju unggulan pertama, Nova/Lily di laga
perempatfinal jumat sore (12/6).
NoLyn yang sedang berada dalam
‘peak performance’ terbaiknya kali ini tampil lebih siap untuk mempertahankan
gelar keduanya setahun yang lalu setelah menghentikan duo Inggris yang acapkali
menjadi batu sandungan mereka, Anthony Clark/Donna Kellogg, 21-18, 21-11.
Langkah NoLyn ke quarterfinal sayangnya tidak diikuti oleh tandem Indonesia
lainnya, Devin/Lita yang gagal mengulang kesuksesan permainan keduanya
di semifinal Taipei Open GP Gold 2008. Menghadapi lawan yang sama, Joachim
Fischer/Cristinna Pedersen (4), DevTa sempat mengajukan perlawanan sengit di
set kedua 21-17 setelah tertinggal 9-21 di set pertama. Namun di set ketiga
yang seharusnya dapat menjadi kunci kemenangan, keduanya justru mengendorkan
serangan dan menyerah 10-21. Pertandingan ini mengingatkan kita pada kejuaraan
beregu Sudirman Cup bulan Mei yang lalu saat DevTa juga nyaris memetik
kemenangan atas Zheng Bo/Ma Jin. Namun di akhir set pertama dan ketiga,
keduanya justru bermain kurang sempurna untuk menutup set dengan lebih baik.
Para pemain tunggal putri China
masih mendominasi dan belum terpatahkan oleh lawan-lawannya. Wang Lin yang
tanpa kesulitan melibas tunggal terbaik Korea, Hwang Hye Youn 21-10, 21-10 akan
ditantang oleh dara India, Saina Nehwal (6) yang memupuskan harapan
satu-satunya wakil merah putih di sektor ini, Adrianti Firdasari, 21-18, 17-21,
21-17. Permainan memukau Firda di depan net dan dalam melakukan bola-bola
serang seharusnya mampu menjadi kunci kemenangannya di set kedua dan ketiga.
Namun setelah jeda interval set ketiga, pertahanan Firda mulai goyah dan beberapa
kali melakukan kesalahan sendiri sehingga membuahkan poin demi poin bagi Saina.
Langkah Wang Lin akhirnya diikuti
oleh sang senior Xie Xingfang (8) yang menekuk tunggal negeri sakura, Ai Goto
21-19, 21-14. Penjamu Xingfang di perempatfinal adalah pemain putrid terbaik
Thailand, Salakjit Ponsana yang sudah lebih dulu menenteng tiket 8 besar saat
menundukkan Rachel Van Cutsen 21-6, 20-22, 21-13. Perseteruan antara dua pemain
China beda generasi, Jiang Yanjiao dan Wang Yihan (2) akan memastikan satu tempat
di semifinal bagi negeri panda tersebut. Jiang menjinakkan wakil Bulgaria,
Petya Nedelcheva 23-21, 21-17 sedangkan Yihan memupuskan harapan wakil tuan
rumah, Xing Aiying, 21-16, 8-21, 21-7.
Satu-satunya perseteruan yan
tidak melibatkan para pemain China adalah pool teratas antara Zhou Mi (1) dan
Judith Meulendijks. Zhou mengalahkan tunggal nomor 2 Jerman, Juliane Schenk
21-14, 21-17 sedangkan Judith diluar dugaan tanpa banyak kesulitan menutup
keberuntungan ‘si dara ajaib’, Fu Mingtian 21-18, 21-13. Kedua pemain memiliki
tipe permainan yang hampir sama dengan lebih mengandalkan bola-bola akurat di
depan net dan minim dalam melakukan kesalahan sendiri. Kelebihan Judith yang
akhirnya mampu memetik kemenangan atas Fu karena lebih piawai dengan
mengkolaborasi alternative pukulan dengan smash-smash yang sulit terjangkau.
Setelah di babak pertama sector
tunggal putri mengalami banyak kejutan, kali ini giliran para pebulutangkis
unggulan tunggal putra yang mengalami nasib naas saat ditantang para pemain
‘kuda hitam’ yang tidak diunggulkan. Simon Santoso (6) akhirnya menjadi korban
pertama dari permainan apik tunggal negeri gajah, Boonsak Ponsana. Bermain
ragu-ragu dengan banyak melakukan kesalahan sendiri sejak paruh akhir set
pertama dan sepanjang set kedua, Simon harus terjembab dengan kekalahan telak
11-21, 7-21 hanya dalam tempo kurang dari 30 menit.
Beruntung tunggal Indonesia
lainnya, Sony Dwi Kuncoro (3) mampu mempertahankan ritme permainan terbaiknya
dengan menjegal pemain terbaik Taiwan, Hsieh Yu Hsing, 21-15, 21-15. Duel
klasik antara Sony dan musuh bebuyutannya, Park Sung Hwan akan kembali terulang
di babak perempatfinal setelah Park juga sama-sama mencatat kemenangan atas
tunggal Jepang, Kenichi Tago 21-16, 21-12. Perempatfinal lainnya akan mempertemukan
wakil China, Chen Jin (4) dan tunggal ketiga Denmark, Jan O Jorgensen. Chen Jin
menyudahi perlawanan tunggal Inggris Rajiv Ouseph 21-19, 21-16 sedangkan
Jorgensen harus menyeka keringat lebih banyak untuk menundukkan Eric Pang
18-21, 21-18, 21-15.
Kejutan terbesar di hari ketiga
ini yang juga menjadi ‘match of the day’ sepanjang perhelatan turnamen ini
adalah perseteruan antara unggulan teratas, Lee Choong Wei menghadapi kuda
hitam Vietnam, Nguyen Tien Minh.Pertarungan melelehkan antara keduanya memakan
waktu lebih dari 1 jam dalam rubber set yang sangat mendebarkan. Lee Choong Wei
awalnya dapat menguasai jalannya pertandingan di set pertama. Unggul jauh 9-3,
permainan alot Nguyen akhirnya mampu menyamakan kedudukan di angka 14. Bahkan
Nguyen sempat berbalik memimpin 18-14 dan 20-18. Berkat pengalamannya, Choong
Wei mampu memaksa ‘deuce’ di angka 20 dan 21 serta menyamakan kedudukan di
angka 22 setelah tertinggal 21-22. Meskipun serangan smash-smash tajam lebih
banyak dikalukan oleh Choong Wei, permainan Nguyen di depan net yang sempurna akhirnya
menutup set ini 24-22.
Pertarungan ketat dengan selisih
1-2 poin dan saling bergantian untuk mendahului kembali tersaji di set kedua.
Kedua pemain kali ini bermain lebih agresif dan saling melancarkan serangan.
Nguyen kembali unggul 19-17 dan 20-18 di titik kritis namun gagal menyelesaikan
set ini dengan baik sebelum akhirnya Lee berinisiatif menutup set ini lebih
dulu 22-20. Setelah jeda interval set ketiga, tunggal peringkat satu dunia asal
Malaysia tersebut sempat berada di atas angin dan unggul jauh 14-9 dan 16-12.
Namun kepiawannya dalam memberikan bola-bola tak terduga di depan net membuat
Nguyen kembali menyamakan kedudukan di angka 18 dan berbalik memimpin 20-18.
Lee sempat menambah 1 angka kembali namun tak mau mengulang kesalahan seperti
di set kedua, Nguyen akhirnya menutup set ini dan memastikan tiket ke-8 besar,
21-19.
Kejutan kedua juga berhasil di ukir
oleh bintang India, Anup Sridhar yang sempat berpijar di tahun 2007. Seperti tertular
semangat baru dari pertandingan Nguyen dan Choong Wei, Anup yang sempat absen
dan meredup di era tahun 2008 berhasil membungkam unggulan ke-2 asal Denmark,
Peter Gade 21-19, 16-21, 21-13. Sejak awal set pertama, kedua pemain sangat jarang
melakukan serangan smash-smash keras dan hanya mengandalkan permainan di depan
net dan penempatan bola-bola sulit. Anup yang menguasai jalannya pertandingan
set pertama sempat demam panggung kala Gade berhasil menyamakan kedudukan 15-15
setelah tertinggal jauh 6-12. Namun Anup berhasil mendapatkan momentum keduanya
dan berbalik memimpin 20-17 sebelum akhirnya menutup set ini.
Perubahan strategi yang
dilancarkan Gade sempat membuat Anup kagok dan berkali-kali gagal dalam
mengantisipasi bola. Kolaborasi serangan dan penempatan bola Gade akhirnya
membuatnya unggul di set kedua. Memasuki set ke-3, kedua pemain sama-sama
tampil ngotot dan saling berebut poin. Gade yang mampu memimpin sejak awal set
tiba-tiba mengendorkan serangannya setelah jeda interval 10-11. Gade sempat
tertinggal 11-13 sebelum akhirnya kembali menyamakan kedudukan di angka 13. Namun
entah apa yang terjadi pada kondisi fisik tunggal terbaik Eropa ini, sehingga Anup
dengan mudah mengeruk 8 poin beruntun dan menyelesaikan set ketiga lebih dulu
21-13.
Permainan yang juga memeras cukup
banyak energi namun sangat jarang terjadi akhirnya membuka perseteruan di nomor
ganda putra. Wakil Indonesia, Rian/Yonathan yang menantang unggulan ke-4,
Lars/Jonas berjibaku mati-matian di set pertama hingga kedudukan 30-28. Namun
sayangnya ketatnya persaingan kedua pasangan ini tidak lagi terlihat di dua set
berikutnya. Mengontrol penuh dengan serangan-serangan mereka, Lars/Jonas
akhirnya menang mudah di set kedua 21-12. Di set penentuan, RiYo kembali
berhasil menyajikan permainan atraktif dan memukau dengan smash dan ‘placing’
yang tak terduga. Kedunya unggul jauh 16-12 namun kelengahan dan beberapa ‘unforced
error’ membuat duo Denmark mampu mengoleksi 7 poin beruntun dan berbalik
memimpin 19-16. Di titik inilah antiklimaks dari pasangan Indonesia yang
akhirnya dipaksa bertekuk 17-21.
Satu-satunya yang menjadi
penyelamat Indonesia di nomor ini adalah tandem peringkat satu dunia, Markis/Hendra.
Meskipun kondisi cedera Kido sempat membuat kondisi permainan keduanya tidak
stabil namun berkat kegigihan semangat dan motivasi, KiNdra mampu meungguli
duet Jerman, Kristof Hopp/Johannes Johannes Schoettler. Sempat teringgal 21-19
di set kedua setelah menang 21-16 di set pertama, KiNdra akhirnya unggul telak
21-9 sekaligus memastikan tiket mereka ke perempatfinal. Di babak
perempatfinal, keduanya akan mendapat tantangan berat dari satu-satunya wakil
tuan rumah yang masih bertahan di quarterfinal. Hendri Kurniawan/Hendra Wijaya.
Duet kakak beradik asal Indonesia ini kembali menjungkalkan tandem veteran Malaysia,
Chan Chong Ming/Chew Choon Eng 21-19, 21-16 setelah di laga perdana juga berhasil
mengandaskan veteran Malaysia lainnya, Choong Tan Fook/Lee Wan Wah (8).
Malaysia akhirnya hanya
menyisakan Gan Teik Chai/Tan Bin Shen yang memetik kemenangan atas ganda
terkuat Taiwan, Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu 21-16, 21-15 setelah peringkat tiga
dunia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (3) di luar dugaan gagal menjinakkan tandem
fenomenal Inggris, Nathan Robertson/Anthony Clark. Unggul 21-13 di set pertama,
Koo/Tan justru akhirnya terjembab di paruh akhir set kedua dan ketiga. Meskipun
dari sisi kualitas serangan tandem terbaik Malaysia tersebut lebih diunggulkan
namun dari segi variasi pukulan dan penempatan bola di depan net,
Nathan/Anthony tampak lebih menguasai dan jalannya pertandingan di dua set
terakhir dan mencetak kemenangan 21-19, 21-14.
Kubu merah putih juga masih
menggantungkan harapan terakhir di nomor ganda putri lewat sandingan Greysia
Polii/Nitya Kreshinda. Meskipun di laga perempatfinal, keduanya akan mendapat
tantang terberat dari unggulan teratas, Wong Pei Tty/Chin Eei Hui namun di
pertandingan 16 besar, GraNi mampu tampil lepas dan tanpa beban saat menantang
jagoan tuan rumah, Yao Lei/Shinta Mulia Sari. Kematangan dari permianan dan
kesolidan tandem no. 2 Indonesia ini membuat mereka mampu menguasai jalannya
pertandingan dan meraih kejayaaan 21-12, 21-17.
Kejutan terbesar di nomor ganda
putri justru dating dari peraih perak Olimpiade Beijing 2008, Lee Kyung Won/Lee
Hyo Jung (4). Menghadapi tantangan dari ganda ‘paling bawah’ China, Pan Pan
Tian Qing, keduanya harus menyerah 18-21, 14-21. Kubu China juga masih
menguasai nomor ini dengan meloloskan 2 pasangan lainnya, Cheng Shu/Zhao Yunlei
(2) dan Zhang Yawen/Zhao Tingting (5) ke babak 8 besar (FEY).
Kejutan demi kejutan menghiasa
babak pertama turnamen Singapore Open SS 2009. Di sektor tunggal putri, dua
mantan pemain China yang diunggulkan langsung rontok di laga perdana. Sedangkan
dua pasangan veteran lainnya di nomor ganda putra dan putri juga mengalami
nasib serupa saat ditantang tandem muda lainnya.Sementara itu dewi fortuna
masih betah menaungi para duta merah putih yang meloloskan semua wakilnya ke
babak 16 besar.
Tandem terbaik dunia, Nova/Lily
membuka perseteruan babak pertama dengan permainan memukau keduanya saat
menghentikan ganda nomor tiga Taiwan, Chen Hung Ling/Chou Chia Chi 21-8, 21-18.
Penampilan sempurna Yao Lei yang diselaraskan oleh Danny Bawa memastikan tiket
wakil tuan rumah ke babak kedua setelah memupuskan harapan ganda kualifikasi,
Han Sang Hoon/Jang Ye Na 23-21, 21-18. Dua pasangan kualifikasi lainnya,
Shintaro/Reiko dan Mohd Razif/Woon Khe Wei juga tidak mampu membendung
kesolidan para pemain Inggris, Anthony/Donna dan Nathan/Jenny. Keduanya
menyerah dalam pertandingan dua set 21-15, 21-13 dan 21-14, 21-18.
Kejutan pertama pada hari ini
dibuka oleh duet Polandia yang acapkali merepotkan para jagoan China, Robert
Mateusiak/Nadiezda Kostiuczyk. Setelah sempat beberapa kali nyaris menghempas
laju He Hanbin/Yu Yang, kali ini keduanya berhasil benar-benar membungkam duo
China lainnya, Xu Chen/Zhao Yunlei (7), 21-14, 21-18. Namun China masih
memiliki harapan besar di sector ini karena dua wakil lainnya, Xie
Zhongbo/Zhang Yawen (6) dan Zheng Bo/Ma Jin (5) mendapatkan tiket mudah ke
babak 16 besar. Kejutan dari wakil Eropa lainnya diukir oleh pasangan Belanda,
Ruud Bosch/Paulien Van Dooremalen yang menekuk ganda berpengalaman asal Korea,
Ko Sung Hyun/Ha Jung Eun, 21-17, 15-21, 21-16.
Selain meloloskan NoLyn, Indonesia
juga masih memiliki harapan lainnya pada duet Devin/Lita yang tampil menawan
saat menahan rubber set pasangan China, Zheng Bo/Ma Jin pada Kejuaraan Piala
Sudirman bulan Mei yang lalu. Konsistensi mereka akan diuji oleh unggulan ke-4,
Joachim Fischer/Christian Pedersen (Denmark) untuk memperebutkan tiket
perempatfinal.
Satu-satunya wakil Indonesia di
nomor tunggal putri, Adriyanti Firdasari berhasil membuktikan keseriusan
ucapannya akan peningkatan stamina bertanding dengan menumbangkan tunggal
kualifikasi Korea, Kim Moon Hi 23-21, 21-15. Sementara itu hasil berkebalikan
diraih oleh para pemain Malaysia, Wong Mew Choo dan Lydia Cheah yang gagal
melewati rintangan lawan-lawannya. Hwang Hye Youn akhirnya berhasil melakukan
‘revenge’ kepada Mew Choo atas kekalahannya di turnamen beregu Piala Sudirman
setelah di laga tadi siang berlangsung ketat 21-17, 17-21, 24-22. Sementara itu
Lydia Cheah secara mengejutkan terganjal langkahnya oleh tunggal ke-3 negeri
kincir, Rachel Van Cutsen 21-18, 18-21, 14-21.
Kejutan terbesar di nomor ini
berhasil diciptakan oleh utusan tuan rumah yang harus berjibaku dari babak
kualifikasi. Fu Mingtian yang tampil dengan performa terbaik sejak papan
kualifikasi kali ini tampil spketakuler dan konsisten dengan menghempas
semifinalis Olimpiade Beijing 2008, Lu Lan 8-21, 21-9, 21-19. Sayangnya langkah
Fu gagal diikuti oleh tunggal Singapura laiinya, Zhang Beiwen yang menantang
wakil China lainnya, Wang Lin. Setelah bertarung selama hamper satu jam, Zhang
akhirnya menyerah 21-10, 18-21, 19-21. Kemenangan Wang Lin juga disusul oleh 3
rekan senegaranya, Xie Xingfang, Jiang Yanjiao dan Wang Yihan yang juga
meloloskan diri ke babak kedua.
Tumbangnya para pemain senior
juga ikut membanjiri sektor tunggal putri. Setelah Yao Jie dipaksa mengakui
ketangguhan Ai Goto 21-18, 9-21, 10-21, dua unggulan Wang Chen (4) dan Pi
Hongyan (5) juga takluk atas permainan enerjik lawan-lawannya. Tunggal terbaik
Thailand, Salakjit Ponsana berhasil mengungguli Wang 21-15 15-21, 21-18
sedangkan Pi kalah dua set langsung atas ratu bulutangkis Bulgaria, Petya
Nedelcheva 18-21, 11-21.
China dan Indonesia akhirnya
sama-sama menyisakan harapan mereka di sector tunggal putra kepada dua pemain
yang tersisa. Bao Chunlai yang mendapatkan kemenangan mudah atas tunggal Polandia,
Przemyslaw Wacha (7) setelah bintang Polandia tersebut merasakan cedera yang
serius di babak kedua sehingga tidak dapat melanjutkan pertandingan. Sedangkan
Chen Jin (4) mengukir kemenangan indah atas veteran Malysia, Sairul Amar Ayob
21-9, 21-14. Sementara itu dua wakil negeri tirai bambu lainnya, Lu Yi dan Gong
Weijie langsung terhenti di babak pertama. Lu Yi tak mampu mengimbangi pola
permainan menyerang Kenichi Tago dan menyerah 20-22, 18-21 sedangkan Gong
Weijie yang dijadwalkan menantang unggulan ke-6 asal Indonesia, Simon Santoso
harus mengundurkan diri.
Selain Simon yang mendapat ‘lucky
ticket’, Sony Dwi Kuncoro sebelumnya sudah memastikan tempat di 16 besar
setelah memetik kemenangan atas Arvind Bhat dengan melewati rubber game 21-12,
15-21, 21-9. Di babak kedua, Simon akan ditantang bintang India, Anup Sridhar
yang berhasil menghempas pemain muda Thailand, Tanongsak Saensomboonsuk 22-20,
21-19 sedangkan Sony akan dijamu oleh tunggal terbaik negeri gajah, Boonsak
Ponsana yang menaklukkan tunggal Hongkong Ng Wei, 21-15, 21-18. Selain Wacha, unggulan
yang harus angkat koper lebih awal adalah tunggal kedua Denmark, Joachim
Persson (5) yang dijegal oleh jagoan Belanda, Eric Pang 21-19, 18-21, 21-15 dan
pebulutangkis Hongkong lainnya, Chan Yan Kit (8) yang dilibas oleh Park Sung
Hwan 21-14, 17-21, 21-18.
Setelah Shendy/Meli (7)
membatalkan diri untuk mengikuti turnamen ini, Indonesia hanya menumpukan
harapan di nomor ganda putri kepada Greysia/Nitya. Melewati hadangan dari
junior Korea, Jang Ye Na/Kim Mi Young, keduanya menang mudah 21-10, 21-8 hanya
dalam waktu kurang dari 30 menit. Keduanya akan dipertemukan dengan jagoan tuan
rumah, Yao Lei/Shinta Mulia Sari yang mengukir prestasi spektakuler dengan
mengalahkan semifinalis Olimpiade Beijing 2008, Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna
(6) 21-15, 21-15.
Di sector ganda putra, kejutan
kembali mewarnai sesi pertandingan malam hari menjelang akhir episode babak
pertama. Si anak ajaib, Lee Yong Dae yang masih setia menggandeng Jung Jae Sung
gagal melewati hadangan kolaborasi baru pasangan China, Xu Chen/Guo Zhendong.
Setelah tertinggal 13-21, Jung/Lee (6) sempat memberikan perlawanan hingga
akhir set kedua. Namun beberapa unforced error dari keduanya yang salah dalam
mengantisipasi bola akhirnya menutup set kedua 20-22. Sebelumnya, Korea juga
gagal menempatkan wakilnya ke 16 besar setelah Cho Gun Woo/Han Sang Hoon dan
Hwang Ji Man yang disandingkan dengan Shin Baek Cheol tidak berkutik menghadapi
ganda Malaysia, Gan Teik Chai/Tan Bin Shen dan unggulan ke-4, Lars Paaske/Jonas
Rasmussen. Sang negeri ginseng akhirnya
hanya menyisakan duo Kim Ki Jung/Kwon Yi Goo yang berhasil memupus harapan
ganda Jepang, Shuichi/Shintaro 21-16, 15-21, 23-21 setelah di akhir
pertandingan hari pertama, duet Ko Sung Hyun/Kwon Yi Goo dihempas oleh andalan
Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen (2).
Merah putih yang hanya
mengirimkan dua pasang pemain sempat ketar ketir menyaksikan pertandingan
peringkat satu dunia, Markis Kido/Hendra Setiawan saat ditantang ganda Jerman,
Michael Fuchs/Ingo Kindervater. Unggul 21-17 di set pertama, tidak fitnya
kondisi Kido menyebabkan duet peraih emas Olimpiade Beijing tersebut berbalik
tertinggal 18-21 di set kedua. Ketatnya persaingan kembali memanas di set
penentuan. Susul menyusul angka berlanjut dari titik 8-8 hingga poin kritis
17-15 dan 18-17. Beruntung akhirnya kekuatan mental pasangan Indonesia berhasil
menutup set ini lebih dulu 21-18. Mengikuti jejak KiNdra adalah duet lawas
Rian/Yonathan. Tanpa banyak kesulitan yang berarti, keduanya mengungguli tandem
Belanda, Joritt De Ruiter/Jurgen Wouters 21-15, 21-14.
Keberhasilan Robert Mateusiak di sector
campuran sayangnya gagal diikuti oleh duet Robert bersama Michal Logosz yang
menjamu unggulan Malaysia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (3). Dalam tempo kurnag
dari 30 menit, duo terbaik Polandia tersebut kandas 12-21, 10-21. Di laga
sebelumnya, Malaysia sudah lebih dulu harus kehilangan tandem veteran, Choong
Tan Fook/Lee Wan Wah (8). Setelah lama absen di beberapa turnamen IBF beberapa
bulan terakhir, keduanya dipaksa bertekuk atas duo tuan rumah, Hendri
Kurniawan/Hendra Wijaya 21-9, 17-21, 21-10 (FEY).
Kejutan demi kejutan menghiasa
babak pertama turnamen Singapore Open SS 2009. Di sektor tunggal putri, dua
mantan pemain China yang diunggulkan langsung rontok di laga perdana. Sedangkan
dua pasangan veteran lainnya di nomor ganda putra dan putri juga mengalami
nasib serupa saat ditantang tandem muda lainnya.Sementara itu dewi fortuna
masih betah menaungi para duta merah putih yang meloloskan semua wakilnya ke
babak 16 besar.
Tandem terbaik dunia, Nova/Lily
membuka perseteruan babak pertama dengan permainan memukau keduanya saat
menghentikan ganda nomor tiga Taiwan, Chen Hung Ling/Chou Chia Chi 21-8, 21-18.
Penampilan sempurna Yao Lei yang diselaraskan oleh Danny Bawa memastikan tiket
wakil tuan rumah ke babak kedua setelah memupuskan harapan ganda kualifikasi,
Han Sang Hoon/Jang Ye Na 23-21, 21-18. Dua pasangan kualifikasi lainnya,
Shintaro/Reiko dan Mohd Razif/Woon Khe Wei juga tidak mampu membendung
kesolidan para pemain Inggris, Anthony/Donna dan Nathan/Jenny. Keduanya
menyerah dalam pertandingan dua set 21-15, 21-13 dan 21-14, 21-18.
Kejutan pertama pada hari ini
dibuka oleh duet Polandia yang acapkali merepotkan para jagoan China, Robert
Mateusiak/Nadiezda Kostiuczyk. Setelah sempat beberapa kali nyaris menghempas
laju He Hanbin/Yu Yang, kali ini keduanya berhasil benar-benar membungkam duo
China lainnya, Xu Chen/Zhao Yunlei (7), 21-14, 21-18. Namun China masih
memiliki harapan besar di sector ini karena dua wakil lainnya, Xie
Zhongbo/Zhang Yawen (6) dan Zheng Bo/Ma Jin (5) mendapatkan tiket mudah ke
babak 16 besar. Kejutan dari wakil Eropa lainnya diukir oleh pasangan Belanda,
Ruud Bosch/Paulien Van Dooremalen yang menekuk ganda berpengalaman asal Korea,
Ko Sung Hyun/Ha Jung Eun, 21-17, 15-21, 21-16.
Selain meloloskan NoLyn, Indonesia
juga masih memiliki harapan lainnya pada duet Devin/Lita yang tampil menawan
saat menahan rubber set pasangan China, Zheng Bo/Ma Jin pada Kejuaraan Piala
Sudirman bulan Mei yang lalu. Konsistensi mereka akan diuji oleh unggulan ke-4,
Joachim Fischer/Christian Pedersen (Denmark) untuk memperebutkan tiket
perempatfinal.
Satu-satunya wakil Indonesia di
nomor tunggal putri, Adriyanti Firdasari berhasil membuktikan keseriusan
ucapannya akan peningkatan stamina bertanding dengan menumbangkan tunggal
kualifikasi Korea, Kim Moon Hi 23-21, 21-15. Sementara itu hasil berkebalikan
diraih oleh para pemain Malaysia, Wong Mew Choo dan Lydia Cheah yang gagal
melewati rintangan lawan-lawannya. Hwang Hye Youn akhirnya berhasil melakukan
‘revenge’ kepada Mew Choo atas kekalahannya di turnamen beregu Piala Sudirman
setelah di laga tadi siang berlangsung ketat 21-17, 17-21, 24-22. Sementara itu
Lydia Cheah secara mengejutkan terganjal langkahnya oleh tunggal ke-3 negeri
kincir, Rachel Van Cutsen 21-18, 18-21, 14-21.
Kejutan terbesar di nomor ini
berhasil diciptakan oleh utusan tuan rumah yang harus berjibaku dari babak
kualifikasi. Fu Mingtian yang tampil dengan performa terbaik sejak papan
kualifikasi kali ini tampil spketakuler dan konsisten dengan menghempas
semifinalis Olimpiade Beijing 2008, Lu Lan 8-21, 21-9, 21-19. Sayangnya langkah
Fu gagal diikuti oleh tunggal Singapura laiinya, Zhang Beiwen yang menantang
wakil China lainnya, Wang Lin. Setelah bertarung selama hamper satu jam, Zhang
akhirnya menyerah 21-10, 18-21, 19-21. Kemenangan Wang Lin juga disusul oleh 3
rekan senegaranya, Xie Xingfang, Jiang Yanjiao dan Wang Yihan yang juga
meloloskan diri ke babak kedua.
Tumbangnya para pemain senior
juga ikut membanjiri sektor tunggal putri. Setelah Yao Jie dipaksa mengakui
ketangguhan Ai Goto 21-18, 9-21, 10-21, dua unggulan Wang Chen (4) dan Pi
Hongyan (5) juga takluk atas permainan enerjik lawan-lawannya. Tunggal terbaik
Thailand, Salakjit Ponsana berhasil mengungguli Wang 21-15 15-21, 21-18
sedangkan Pi kalah dua set langsung atas ratu bulutangkis Bulgaria, Petya
Nedelcheva 18-21, 11-21.
China dan Indonesia akhirnya
sama-sama menyisakan harapan mereka di sector tunggal putra kepada dua pemain
yang tersisa. Bao Chunlai yang mendapatkan kemenangan mudah atas tunggal Polandia,
Przemyslaw Wacha (7) setelah bintang Polandia tersebut merasakan cedera yang
serius di babak kedua sehingga tidak dapat melanjutkan pertandingan. Sedangkan
Chen Jin (4) mengukir kemenangan indah atas veteran Malysia, Sairul Amar Ayob
21-9, 21-14. Sementara itu dua wakil negeri tirai bambu lainnya, Lu Yi dan Gong
Weijie langsung terhenti di babak pertama. Lu Yi tak mampu mengimbangi pola
permainan menyerang Kenichi Tago dan menyerah 20-22, 18-21 sedangkan Gong
Weijie yang dijadwalkan menantang unggulan ke-6 asal Indonesia, Simon Santoso
harus mengundurkan diri.
Selain Simon yang mendapat ‘lucky
ticket’, Sony Dwi Kuncoro sebelumnya sudah memastikan tempat di 16 besar
setelah memetik kemenangan atas Arvind Bhat dengan melewati rubber game 21-12,
15-21, 21-9. Di babak kedua, Simon akan ditantang bintang India, Anup Sridhar
yang berhasil menghempas pemain muda Thailand, Tanongsak Saensomboonsuk 22-20,
21-19 sedangkan Sony akan dijamu oleh tunggal terbaik negeri gajah, Boonsak
Ponsana yang menaklukkan tunggal Hongkong Ng Wei, 21-15, 21-18. Selain Wacha, unggulan
yang harus angkat koper lebih awal adalah tunggal kedua Denmark, Joachim
Persson (5) yang dijegal oleh jagoan Belanda, Eric Pang 21-19, 18-21, 21-15 dan
pebulutangkis Hongkong lainnya, Chan Yan Kit (8) yang dilibas oleh Park Sung
Hwan 21-14, 17-21, 21-18.
Setelah Shendy/Meli (7)
membatalkan diri untuk mengikuti turnamen ini, Indonesia hanya menumpukan
harapan di nomor ganda putri kepada Greysia/Nitya. Melewati hadangan dari
junior Korea, Jang Ye Na/Kim Mi Young, keduanya menang mudah 21-10, 21-8 hanya
dalam waktu kurang dari 30 menit. Keduanya akan dipertemukan dengan jagoan tuan
rumah, Yao Lei/Shinta Mulia Sari yang mengukir prestasi spektakuler dengan
mengalahkan semifinalis Olimpiade Beijing 2008, Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna
(6) 21-15, 21-15.
Di sector ganda putra, kejutan
kembali mewarnai sesi pertandingan malam hari menjelang akhir episode babak
pertama. Si anak ajaib, Lee Yong Dae yang masih setia menggandeng Jung Jae Sung
gagal melewati hadangan kolaborasi baru pasangan China, Xu Chen/Guo Zhendong.
Setelah tertinggal 13-21, Jung/Lee (6) sempat memberikan perlawanan hingga
akhir set kedua. Namun beberapa unforced error dari keduanya yang salah dalam
mengantisipasi bola akhirnya menutup set kedua 20-22. Sebelumnya, Korea juga
gagal menempatkan wakilnya ke 16 besar setelah Cho Gun Woo/Han Sang Hoon dan
Hwang Ji Man yang disandingkan dengan Shin Baek Cheol tidak berkutik menghadapi
ganda Malaysia, Gan Teik Chai/Tan Bin Shen dan unggulan ke-4, Lars Paaske/Jonas
Rasmussen. Sang negeri ginseng akhirnya
hanya menyisakan duo Kim Ki Jung/Kwon Yi Goo yang berhasil memupus harapan
ganda Jepang, Shuichi/Shintaro 21-16, 15-21, 23-21 setelah di akhir
pertandingan hari pertama, duet Ko Sung Hyun/Kwon Yi Goo dihempas oleh andalan
Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen (2).
Merah putih yang hanya
mengirimkan dua pasang pemain sempat ketar ketir menyaksikan pertandingan
peringkat satu dunia, Markis Kido/Hendra Setiawan saat ditantang ganda Jerman,
Michael Fuchs/Ingo Kindervater. Unggul 21-17 di set pertama, tidak fitnya
kondisi Kido menyebabkan duet peraih emas Olimpiade Beijing tersebut berbalik
tertinggal 18-21 di set kedua. Ketatnya persaingan kembali memanas di set
penentuan. Susul menyusul angka berlanjut dari titik 8-8 hingga poin kritis
17-15 dan 18-17. Beruntung akhirnya kekuatan mental pasangan Indonesia berhasil
menutup set ini lebih dulu 21-18. Mengikuti jejak KiNdra adalah duet lawas
Rian/Yonathan. Tanpa banyak kesulitan yang berarti, keduanya mengungguli tandem
Belanda, Joritt De Ruiter/Jurgen Wouters 21-15, 21-14.
Keberhasilan Robert Mateusiak di sector
campuran sayangnya gagal diikuti oleh duet Robert bersama Michal Logosz yang
menjamu unggulan Malaysia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (3). Dalam tempo kurnag
dari 30 menit, duo terbaik Polandia tersebut kandas 12-21, 10-21. Di laga
sebelumnya, Malaysia sudah lebih dulu harus kehilangan tandem veteran, Choong
Tan Fook/Lee Wan Wah (8). Setelah lama absen di beberapa turnamen IBF beberapa
bulan terakhir, keduanya dipaksa bertekuk atas duo tuan rumah, Hendri
Kurniawan/Hendra Wijaya 21-9, 17-21, 21-10 (FEY).
Para pemain muda Singapura masih mampu
menunjukkan taringnya di babak kualifikasi Singapore Open Super Series yang
sudah mulai dihelat sejak hari selasa kemarin (9/6). Dua tunggal putri negeri
Singa tersebut, Fu Mingtian dan Zhang Beiwen masih melaju tak terbendung ke
babak utama sementara itu di nomor putra, Gong Weijie harus berjuang keras 3
set untuk mematahkan perlawanan wakil Malaysia, Tan Chun Seang. Kejutan hari
pertama berhasil diukir oleh pemain muda Jepang, Kazushi Yamada yang melibas
dua nama tenar, Petr Koukal dan Anand Pawar.
Memasuki hari pertama turnamen
Singapore Super Series, para pemain muda Asia masih mampu menunjukkan tajinya
ditengah ketatnya perseteruan babak kualifikasi untuk meloloskan diri ke papan
utama. Perseteruan ketat antara duo Singapura Chayut/Shinta yang menghentikan
laju pasangan muda Korea, Kim Ki Jung/Kim Mi Young membuka laga babak
kualifikasi dengan 20-22, 21-19, 21-19 setelah berjibaku selama 45 menit.
Sementara itu di lapangan yang
berbeda, duo kolaborasi baru negeri ginseng, Han Sang Hoon/Jang Ye Na memupuskan
dan pasangan Taiwan, Lin Yu Lang/Chan Hsin Yun 21-16, 20-22, 21-14. Han Sang
Hoon yang pada awalnya berduet dengan Hwang Yu Mi kali ini berhasil memberikan
motivasi bagi juniornya untuk tampil maksimal khususnya di saat set ketiga setelah
mereka kalah menyesakkan di set kedua. Tak berhenti sampai disana, Han/Jang
akhirnya berhasil melalu ke babak 32 besar setelah membekuk duet fenomenal asal
Malaysia di ajang Sudirman Cup beberapa waktu yang lalu, Mohd Fairuz/Wong Pei
Tty 22-20, 11-21, 21-18.
Meskipun harus kehilangan salah
satu wakilnya, sang negeri jiran yang dikomandani oleh Rexy Mainaky berhasil
meloloskan duet perdana Mohd Razif/Woon Khe Wei ke babak utama. Keduanya
mendapatkan ‘lucky winning’ atas tandem Singapura, Hendri Kurniawan/Vanessa Neo
Yu Yan 19-21, 11-8 yang tidak dapat melanjutkan pertandingan setelah Vanessa
mendapatkan cedera di babak kedua. Di pertandingan selanjutnya, Razif/Khe Wei
menang mudah atas perpaduan unik negeri kincir, Koen Ridder/Yao Jie, 21-9, 21-14.
Pasangan lainnya yang juga cukup menarik
perhatian penonton adalah ganda Jepang, Shintaro Ikeda/Reiko Shiota. Dua pemain
tulang punggung negeri sakura yang pada awalnya merintis karir di nomor ganda
kali ini bermain apik dengan mendepak pasangan Jerman, Tim Dettman/Nicole
Grether, 22-20, 21-15 dan junior mereka, Hajime Komiyama/Mizuki Fujii 21-19,
21-18.
Di sector tunggal, perseteruan
masih di dominasi oleh para pemain muda Asia. Kazushi Yamada memulai debut spektakulernya
di turnamen ini dengan menghempas pemain Ceko, Petr Koukal 21-12, 21-14 dan
Anand Pawar (India), 21-14, 21-16. Langkah Kazushi sayangnya gagal diikuti oleh
pebulutangkis negeri sakura lainnya, Kazuteru Kozai yang di laga perdananya
mampu melibas unggulan kualifikasi asal Inggris, Carl Baxter 25-27, 21-11,
21-13. Ditantang oleh pemain Thailand, Tanongsak Saensomboonsuk untuk
memperebutkan tiket ke babak utama, Kozai akhirnya menyerah 10-21, 19-21.
Baku hantam yang juga menarik
tersaji antar dua pemain muda asal China dan Malaysia, Gong Weijie dan Tan Chun
Seang. Tan yang harus memerah lebih banyak keringat di laga sebelumnya saat
ditantang oleh tunggal Denmark, Christian Lind Thomsen akhirnya harus mengakui ketangguhan
anak asuhan Chen Yu tersebut 13-21, 21-17, 7-21.
Dua pemain muda Singapura, Fu
Mingtian dan Zhang Beiwen juga masih terlalu tangguh bagi lawan-lawannya. Duo
yang sempat membuat kejutan di beberapa turnamen Super Series edisi 2008 yang
lalu itu kali ini tampil maksimal dan meloloskan diri ke babak 32 besar. Setelah
menang atas kompatriotnya, Chen Jiayuan 21-19, 21-11 dan tunggal utama Vietnam,
Nguyen Nhung 21-10, 22-20, Fu akhirnya berhak untuk menantang unggulan ke-7
asal China, Lu Lan. Sementara itu, jalan yang lebih sulit harus ditempuh oleh
Zhang Beiwen untuk mendapatkan tiket babak utamanya. Menang atas rekan
senegaranya, Noriko Goh 21-11, 21-14, Zhang harus berjuang 3 set 21-12, 21-23,
21-17 sebelum akhirnya berhasil mematahkan permainan ulet tunggal Taiwan, Chang
Hsin Yun. Di laga sebelumnya, kepiawaian pemain muda Taiwan ini terbukti ampuh
mematahkan pemain muda Jepang, Mayu Sekiya 18-21, 21-14, 21-14 yang menempati
unggulan ke-3 babak kualifikasi.
Menyusul jejak dara Singapura adalah
tunngal Korea, Kim Moon Hi dan satu-satunya pemain putri non Asia yang lolos ke
babak utama, Maja Tvrdy (Slovakia). Kim memetik kemenangan mudah tak diduga
atas tunggal Malaysia, Anita Raj Kaur 21-16, 21-9 sebelum akhirnya berjibaku 3
set untuk menundukkan keuletan Sayaka Sato 21-19, 21-23, 21-16. Sedangkan Maja
memetik dua kemenangan mudah atas wakil Singapura, Li Bo 21-14, 21-10 dan
satu-satunya wakil merah putih yang berlaga di babak kualifikasi, Melicia
Kurniawan, 21-14, 21-12. Tunggal asal klub Tangkas ini masih membawa pelatih
pribadinya Liang Chiu Hsia ke turnamen ini namun nampaknya belum
cukup mampu untuk mendongkrak prestasi terbaiknya (FEY).
Check out my Multiply site
I set up a Multiply site with my pictures, videos and blog and I want
to add you as my friend so you can see it. First, you need to join
Multiply! Once you join, you can also create your own site and share
anything you want, with anyone you want.
Here's the link:
http://multiply.com/si/gLgbOLDmdscINBCPDlOuBA
Dear Friends,
I would like to introduce you all a website that host a lot of
badminton videos.
It is free, you can watch videos online, including the training
videos.
No need to register an account. Just only open and enjoy.
This is the website: http://watchbadminton.com
I hope you all enjoy.
Best Regards,
Tam
Thanks,
Tam
Stop e-mails, view our privacy policy, or report abuse:
http://multiply.com/bl/gLgbOLDmdscINBCPDlOuBA
We haven't added your email address to any lists, nor will we share it
with anyone at any time.
Copyright 2009 Multiply Inc.
6001 Park of Commerce, Boca Raton, FL 33487, USA
Saya ingin memperkenalkan anda semua situs Web yang host banyak bulutangkis video. It is free, Anda dapat menonton video online, termasuk pelatihan video. Anda tidak perlu mendaftarkan account lagi. Menikmati dan hanya buka pada situs ini.
Piala Sudirman yang bermahkotakan
replika candi borobudur sebagai lambing supremasi tertinggi kejuaraan beregu
campuran akhirnya berhasil dipertahankan oleh sang juara bertahan China untuk
ke-7 kalinya. Penampilan sang negeri tirai bambu pada tahun inipun dirasa cukup
spesial karena selain berhasil mencata hatrick juara secara beruntun untuk ke-3
kalinya, China juga mencatat kemenangan sempurna tanpa kehilangan satu nomorpun
sejak babak penyisihan grup.
Kolaborasi
Dadakan, Hasil Meyakinkan
Dengan dukungan penuh dari ribuan
penonton yang memadati Guangzhou Gymnasium, perseteruan klasik antara China dan
Korea dibuka oleh sektor ganda campuran. Pertemuan ini merupakan final yang
ke-3 kalinya untuk kedua negara setelah pada tahun 1997 dan 2003 masing-masing
dimenangkan oleh China dan Korea. Duet dua pemain senior China yang baru
disandingkan untuk pertamakalinya, Zheng Bo dan Yu Yang mencoba peruntungan
keduanya menghadapi peraih emas Olimpiade Beijing 2008 yang saat ini bercokol
di peringkat dua dunia, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung.
Set pertama dibuka dengan tempo yang
relatif lambat dan hanya mengandalkan penempatan bola-bola akurat dari
masing-masing pasangan. Tampil untuk pertamaklinya membuat Zheng Bo dan Yu Yang
sering mengalami salah pengenrtian saat mengembalikan bola. Memanfaatkan
kelemahan pasangan China, duo Lee langsung unggul 10-4 di awal set. Dua
kesalahan sendiri yang dilakukan Zheng Bo di depan net, pengembalian Yu Yang
yang terlalu melebar serta penempatan bola-bola akurat Hyo Jung di daerah
baseline membuat kejayaan Korea tak tergoyahkan 12-5 dan 14-8.
Salah pengertian antara kedua pemain
China semakin menjadi hal yang krusial saat memasuki poin kritis di set
pertama. Meskipun Zheng Bo mencoba menekan dengan menlancarkan smash-smashnya,
namun masih belum mampu menyaingi kesolidan pasangan Korea, 11-17. Forehand Yu
Yang yang tidak mampu dikembalikan oleh Hyo Jung namun dibalas dengan
pengembalian Zheng Bo yang terlalu melebar dan drop shot akurat Hyo Jung di depan
net mengubah kedudukan untuk Korea 19-12.
Zheng/Yu sempat menambah 3 poin dari dua
pengembalian Hyo Jung yang gagal melewati net dan serobotan drive cepat Yu Yang
di depan net. Net silang Yu Yang yang tidak melewati net mengantarkan duo Lee
pada match point 20-15. Zheng/Yu kembali menambah 3 poin dari ‘placing’ silang
Zheng Bo di daerah baseline, pengembalian Yong Dae yang menelabr dan menyangkut
di net sebelum set ini di tutup oleh ‘lucky ball’ dari drop shot Hyo Jung
sempat menyentuh bibir net namun jatuh di lapangan lawan.
China kembali meningkatkan tempo
serangan di set kedua. Potongan bola Yu Yang di depan net, smash beruntun Zheng
Bo dan Yu Yang serta servis panjang Yu Yang ke belakang yang tidak terjangkau
membuat Zheg/Yu unggul 4-1. Empat pengembalian tak sempurna dari Hyo Jung
membuat China terus melaju 8-4. Penempatan bola yang akurat dari Yong Dae di
daerah baseline yang tidak terjangkau dibalas oleh smash Yu Yang dari bola
tanggung Hyo Jung serta pengembalian yang gagal dari Hyo Jung, 11-5 saat jeda
interval.
Setelah kedua pasangan terlibat reli
yang cukup panjang, kesalahan sendiri yang dilakukan oleh lawan membuahkan poin
untuk masing-masing pasangan. Serobotan Yong Dae dan Hyo Jung yang menyangkut
di net sebaliknya Zheng Bo beberapa kali memaksakan potongan bola yang terlalu
melebar serta bola tanggung yang dengan mudah dipatahkan oleh Hyo Jung, 13-9.
Yong Dae dan Zheng Bo yang sempat terburu dalam mengembalikan bola ditutupi
oleh penempatan bola Hyo Jung dan Yu Yang di area kosong yang sulit di jangkau,
16-12.
Setelah adu reli permainan drive dan
penempatan bola-bola sulit, pertahanan yang sempurna dari pasangan Korea
meskipun seringkali ditekan justru membuat Zheng/Yu akhirnya melakukan
kesalahan sendiri. Penempatan bola Hyo Jung di daerah yang kosong serta bola
serobotan Yong Dae di depan net membuat kondisi imbang di titik 17. Jumping
smash Yong Dae sempat membuat Korea unggul 1 poin namun kembali disamakan oleh
duo China dari ‘unforced error’ Yong Dae yang gagal melewati net, 18-18.
Di titik ini, Zheng/Yu mendapatkan
momentum kemenangan mereka dengan dua poin dari bola tanggung Hyo Jung yang
diselesaikan oleh smash Yu Yang serta servis Zheng Bo yang dikembalikan keluar
oleh Hyo Jung mengubah kedudukan untuk keunggulan China 20-18. Zheng Bo
beberapa kali sempat mendapat nasehat dari Yu Yang untuk lebih tenang
menghadapi poin kritis. Servis Zheng Bo yang gagal melewati net nyaris
membuyarkan harapan Zheng/Ma untuk memperpanjang set, namun smash beruntun Yong
Dae yang mampu dikembalikan dengan sempurna oleh pasangan China justru di tutup
oleh penempatan bola Hyo Jung yang gagal melewati net, 21-19 untuk tandem
China.
Agresivitas pasangan China terus
berlanjut di set ketiga. Smash beruntun Zheng Bo serta beberapa bola tanggung
Hyo Jung membuat keunggulan duo China 6-1 dan 10-6. Tiga kesalahan beruntun Yu
Yang di depan net serta penempatan yang akurat dari Hyo Jung ditutup oleh smash
Zheng Bo saat kedudukan imbang 11-11. Selisih 1 poin antara kedua pasangan
berlangsung hingga skor 13-13. Di titik inilah China kembali mendapatkan
momentum kemanangan mereka dengan mengunci duo Lee dan meraih 4 poin beruntun
dari penempatan bola Yu Yang yang akurat, pengembalian Hyo Jung yang tidak
melampaui net serta dua serobotan Yong Dae terlalu melabar, 17-13.
Permainan adu drive di depan net yang
gagal disajikan dengan apik oleh Yu Yang serta bola tanggung Yu Yang yang di
selesaikan dengan baik oleh Hyo Jung mengubah kedudukan 17-15 untuk Korea. Dua
smash Hyo Jung yang dibalas oleh smash Yu Yang dan pengembalian melebar Hyo
Jung semakin mengkrirtiskan suasana 18-16. Smash beruntunZheng Bo yang dikembalikan melebar oleh Hyo
Jung dan bola tanggung Yong Dae yang diselesaikan oleh Yu Yang dengan smash kea
rah badan Hyo Jung mengantarkan China pada match point 20-16. Smash beruntun
Zheng/Yuditutup oleh ‘unforced error’
Hyo Jung akhirnya menamatkan set ketiga untuk sang tuan rumah 21-16.
“Yang palaing penting adalah kemampuan
dari masing-masing pemain, kerjasama bukan hal yang utama untuk memenangi
pertandingan”, ujar Zheng Bo seusai pertandingan perilhal kemanangannya.
Lin
Dan Masih Tak Terpatahkan
Kehilangan poin di nomor yang paling
berpeluang rupanya tidak memupuskan semangat para pemain Korea untuk tetap
bermain maksimal. Nomor tunggal putra mempertemukan duet klasik Lin Dan dan
Park Sung Hwan. Jumping smash dan drop shot tajam yang diperagakan oleh kedua
pemain menjadi senjata andalan untuk meraih poin demi poin. Kesalahan beruntun
dari Park di awal set pertama langsung membuat Lin Dan unggul 5-2. Park sempat
memperkecil selisih poin menjadi 5-6 saat smash silangnya gagal dikembalikan
oleh Lin Dan dan beberapa pengembalian melabar dari Lin Dan. Beberapa kali bola
tanggung Park yang dimanfaatkan dengan sempurna oleh Lin Dan kembali membuatnya
unggul 10-6 dan 11-7. Adu drive-drive cepat antara kedua pemain yang cukup
memukau di akhiri oleh drop shot Lin Dan di depan net dan netting Lin Dan yang
sempurna, 12-19, 16-10.
Drop shot tajam Park yang gagal
dikembalikan oleh Lin Dan saat melewati hadangan net meskipun sempat terjatuh
dalam menghadang laju jatuhnya bola. Namun berhasil dib alas oleh Lin Dan
dengan netting dan smash yang dikembalikan tak sempurna oleh Park, 18-11. Tunggal
utama negeri ginseng yang saat ini menduduki 14 dunia tersebut kembali menambah
3 angka dari penempatan bola di area baseline, netting silang Lin Dan yang
tidak sempurna dan bola tanggung yang di tutup oleh smash beruntun Park
mengubah skor 18-14. Memasuki angka kritis sayangnya Park masih melakukan
kesalahan sendiri. Netting Park yang gagal dan terlalu melebar serta bola
tanggung yang diselesaikan oleh smash keras Lin Dan akhirnya menamatkan set ini
21-14.
Set kedua berjalan jauh lebih ketat dari
set sebelumnya. Meskipun di paruh awal Lin Dan masih terlalu perkasa untuk
disaingi, Park akhirnya mampu menyeimbangi kemahiran Lin Dan di paruh akhir
set. Unggul 5-3 dan 9-6 dari jumping smash beruntun Lin Dan, netting tipis dan
penempatan lob serang di bagian belakang lapangan ternyata mampu disetarakan
oleh Park di titik 11 saat ‘placing’ dan smash keras Park tidak mampu
dikembalikan dengan baik oleh Lin Dan.
Dari titik ini, persaingan ketat antara
kedua pemain dan selisih 1 poin dengan kejar mengejar angka terjadi hingga
kedudukan 17-17. Penempatan bola di area baseline, smash-smash silang Park
serta pengembalian Lin Dan yang tidak sempurna membuahkan poin untuk Park
sebaliknya Lin Dan menglokesi poin demi poin dari bola potong di depan net
serta beberapa bola ‘out’ dari Park. Memaku Park di angka 17, Lin Dan berhasil
mengumpulkan 3 angka beruntun dari drop shot Park yang gagal melewati net,
smash keras Lin Dan yang tidak terjangkau oleh Park dan smash Lin Dan yang
dikembalikan melebar keluar lapangan, 20-17. Setelah terlibat adu drive dan
netting, Park sempat menambah 1 angka dari smash tajamnya di area lapangan Lin
Dan yang kosong namun kesalahan sendiri yang dilakukan oleh Park saat melakukan
pengembalian bola mengubur harapannya untuk meraih angka kemenangan, 18-21.
Berimbang
dan Paling Menentukan
Tertinggal 0-2 membuat partai ketiga
merupakan penentuan ‘hidup-mati’ bagi para pejuang negeri ginseng. Jung Jae
Sung/Lee Yong Dae yang diprediksi tidak mampu tampil lepas ternyata justru
bermain tanpa beban saat menantang jagoan China, Fu Haifeng/Cai Yun. Jung/Lee
yang satu peringkat lebih baik dari Fu/Cai mampu menyajikan pertarungan yang meawan
untuk disimak.
Permainan drive-drive cepat dan
penempatan bola-bola tersaji antara kedua pasangan sejak awal set pertama.
Tampil menekan dengan smash beruntun, Fu Haifeng mengoleksi poin demi poin dari
kesalahan sendiri Jung/Lee, 5-2. Drop shot beruntun Fu Haifeng yang ditutup
dengan jumping smash serta smash Jung Jae Sung yang tidak sempurna kembali
mengubah kedudukan 8-4. Dalam posisi tertekan, pasangan Korea lebih banyak
melakukan kesalahan sendiri sedangkan Fu/Cai tidak meberi kesempatan Jung/Lee
untuk mengembangkan permainan mereka hingga jeda interval 11-5.
Beberapa kesalahan beruntun dari Fu
Haifeng saat mengembalikan bola dan pertahanan duo Korea yang spektakuler
ternyata berhasil menciptakan poin demi poin untuk memperkecil selisih
kedudukan mereka dengan ganda China 11-12. Drive Yong Dae yang tidak melewati
net serta ‘placing’ Cai Yun di bagian belakang lapangan yang gagal dikembalikan
sempurna oleh Jung Jaesung, 11-14. Serobotan Fu Haifeng yang tidak sempurna dan
smash Jaesung di lapangan kosong kembali memperkecil selisih poin 13-14.
Smash beruntun Fu/Cai menghasilkan dua
poin berturut-turut sebelum dibalas oleh Jung/Lee sehingga kedudukan 16-14. Di
titik ini, China merebut 5 angka beriring dari smash Cai Yun, backhand Yong Dae
yang gagal melewati net, pengembalian tak sempurna Jae Sung, smash Cai Yun yang
tidak mampu dibalikkan oleh Yong Dae, serta bola tanggung Yong Dae hasil drop
shot beruntunFu Haifeng di depan net berhasil di selesaikan dengan smash Cai
Yun sehingga mengakhiri set ini 21-14.
Sempat unggul 5-2 di awal set kedua dari
smash bertubi Fu Haifeng dan drop shot tajamnya. Namun Jung/Lee berhasil memaku
pasangan China di titik 5 dan mengumpulkan 5 poin beruntun untuk berbalik
unggul 7-5 dari permainan drive-drive cepat yang berhasil diakhiri oleh smash
keduanya. Penegmbalian tak sempurna Fu Haifeng setelah beradu drive di depan
net namun dibalas dengan kesalahan sendiri Jung/Lee memperkecil selisih poin
ganda China 8-10.
Setelah berhasil menyamakan angka di
titik 10, kedua pasangan bersaing ketat hingga kedudukan 12-12. Empat angka
berturut-turut di raih oleh Korea dari ‘defense’ keduanya yang sempurna
sehingga membuat Fu Haifeng justru melakukan kesalahan sendiri, 16-12. Dua
kesalahan Jung/Lee saat menyerobot bola-bola drive di depan net mengantarkan
Korea pada angka kritis 17-14. Namun Fu/Cai tidak menyerah bagitu saja, Untuk
kesekian kalinya mereka berhasil menyetarakan kedudukan di angka 17 dari smash
Fu yang dikembalikan ‘out’ oleh Jaesung, serobotan Yong Dae yang tidak melewati
net, serta penegmbalian Jaesung yang keluar.
Di titik ini ternyata justru Fu/Cai yang
tidak mampu bermain tenang dan banyak melakukan kesalahan sendiri. Beban karena
partai ini sebagai penentu kemenangan memudahkan Jung/Lee untuk terus menekan
pasangan China. Mengunci Fu/Cai di angka 17, Jung/Lee mengumpulkan 4 poin
beriring dari penempatan di area baseline oleh Yong Dae, smash Yong Dae dari
bola tanggung Cai Yun , pengembalian Cai Yun gagal melewati net, serta
penempatan bola akurat Yong Dae yang gagal dikembalikan melewati net oleh Fu
Haifeng memaksakan rubber set untuk Jung/Lee 21-17.
Set terakhir yang paling menentukan juga
berlangsung tak kalah seru. Jung/Lee tetap menguasai jalannya pertandingan
hingga memasuki poin-poin kritis. Pertahanan masih menjadi andalan tandem Korea
untuk memetik angka demi angka dari kesalahan sendiri pasangan China. Korea
langsung meluncur 6-3 dan 7-4. China berhasil balik menekan Jung/Lee dan
menyamakan kedudukan di angka 8. Fu/Cai memetik 3 angka lebih dulu dari smash
dan potongan bola di depan net sebelum jeda interval 11-8.
Korea kembali menyeimbangkan angka
mereka dititik 11 ketika dalam adu drive dan smash, Fu Haifeng gagal
mengembalikan dengan sempurna. Kesalahan beruntun dari Fu Haifeng dan ‘super
defense’ yang diperagakan oleh Jung Jae Sung saat sudah terjatuh namun tetap
bias mengembalikan bola kembali membuat Korea unggul 14-11 dan 16-13.
Pengembalian Yong Dae yang terlalu melebar serta drop shot Cai Yun di depan net
memperkecil selisih jarak menjadi 16-18 bagi pasangan China. Fu/Cai akhirnya
mampu menyamakan kedudukan 18-18 ketika kejelian Fu dalam menempatkan bola di
area kosong membuahkan angka dan penegmbalian tidak sempurna dari Jung Jae Sung
sebelum akhirnya berbalik unggul 19-18 karena tekanan drive-drive cepat mereka
mampu menyulitkan ganda Korea. Jung Jae Sung sempat terjatuh demi menyelatkan
bola namun diakhiri oleh Fu Haifen dengan smash kerasnya. Keadaaan semakin tak
menentu ketika smash Jung Jae Sung gagal dikembalikan melewati hadangan net
oleh Cai Yun, 19-19. Adu drive yang diakhiri oleh pengembalian tak sempurna
dari Yong Dae mementapkan Fu/Cai pada match point lebih dulu 20-19. Tak
mengurangi tempo serangan, drive dan penempatan bola pasangan China
dikembalikan melebar oleh Yong Dae sekaligus memastikan set ini menjadi milik
Fu/Cai 21-19.
Dengan hasil ini, China akhirnya
berhasil mempertahankan kembali Piala Sudirman untuk ke-7 kalinya. Kemenangan
kali ini juga cukup berkesan karena berhasil menjadi kampiun di negara sendiri
dengan kemenangan sempurna tanpa kehilangan satu poin kemenanganpun sejak awal
babak penyisihan grup. Catatan kejayaan 15-0 di penyisihan, 3-0 di semifinal
dan 3-0 di babak final semakin membuktikan betapa perkasanya China atas negara-negara
adidaya bulutangkis lainnya.
"Penampilan tim malam ini sangat
bagus, meskipun Korea juga bagus. Pada ganda campuran dan ganda putra cukup
ketat meskipun kami sedikit lebih baik dan dapat memanfaatkan itu untuk
menang," kata manajer tim China Li Yongbo usai pertandingan.
Hasil Pertandingan China vs Korea 3-0 :
XD : Zheng Bo/Yu Yang bt Lee Yong
Dae/Lee Hyo Jung 18-21, 21-19, 21-16
Seperti yang telah diskenariokan oleh
banyak pihak, partai puncak akan menjadi milik tuan rumah dan negeri ginseng.
Korea. Bermain tanpa beban, Korea berhasil menaklukkan Indonesia yang secara
peringkat lebih berpeluang dengan skor 3-1. Tiga partai awal antara dua negara
adidaya badminton ini berlangsung cukup semarak. Sebaliknya, Cina mendapatkan tiket
final setelah menggusur Malaysia, 3-0
Lebih
Rapi dan Tanpa Beban
Meskipun secara peringkat para punggawa
Indonesia lebih diunggulkan, para pemain Korea ternyata lebih jitu dalam
menerapkan strategi bertanding di lapangan. Lee Yong Dae dan Lee Hyo Jung yang
tampil di partai perdana berhasil membuka pintu kemenangan bagi negaranya
sekaligus membalas kekalahan mereka di pertemuan terakhir pada final Malaysia
SS 2009. Duo Lee yang bermain lebih rapi dan tanpa beban hanya membutuhkan
waktu 39 menit untuk menjinakkan NoLyn dalam dua set langsung.
Meskipun kedua pasangan berseteru cukup
ketat sejak awal set pertama, NoLyn sebenarnya lebih unggul dari sisi peolehan
poin. Memimpin 6-4 dari smash Lily dan bebrapa kesalahan Hyo Jung, kedua
pasangan kembali terlibat kejar mengejar angka hingga kedudukan 10 sama. NoLyn
kembali unggul 12-10, 14-12 dan 16-14 dari permainan agresif dan penempatan
bola-bola cerdik Nova. Meskipun Hyo Jung banyak melakukan kesalahan sendiri,
namun wanita jangkung yang menjadi tulang punggung pemain ganda Korea ini behasil
menekan NoLyn dengan variasi pukulan dan penempatan bola-bolanya yang tidak
terduga.
Dua angka dari kesalahan Lily di depan
net serta serobotan Nova yang terburu-buru membawa ‘angin segar’ bagi Korea
untuk menyamakan kedudukan di angka 16 dan 17. Penempatan bola Hyo Jung di
lapangan kosong dan penegmbalian Lily yang gagal melewati net mengantarkan
Korea pada match point 20-17. Bola silang Nova di depan net sempat menghambat
kemenangan duo Lee namun servis Nova yang tidak sempurna akhirnya menutup set
ini untuk Korea 21-18.
Persaingan di laga babak kedua ternyata
justru tidak seketat babak pertama. Yong Dae/Hyo Jung langsung memimpin 4-0 di
awal set dan 8-5 ketika pertahanan Korea yang sangat kokoh gagal ditembus oleh
pasangan Indonesia. NoLyn sempat menyamakan angka di titik 9 ketika Hyo Jung
melakukan unforced error dalam pengembalian bola dan servis. Duo Lee kembali
unggul jauh 13-9 dan 17-10 ketika smash-smash keras keduanya dan bola-bola eror
dari pengembalian Lily tidak mampu melampaui net.
Dua kesalahan Hyo Jung yang dibalas
dengan dua drop shot penempatan tak terduganya di depan net mengubah kedudukan
menjadi 19-12. NoLyn kembali mendapat tambahan poin dari penegmbalian tak
sempuran Yong Dae di depan net. Namun bola tanggung Lily yang dimanfaatkan
dengan sempurna oleh Hyo Jung akhirnya mengantarkan Korea pada match point
20-14. Bola out dari Yong Dae sejenak menghentikan gejolak kemenangan duo Lee
namun pengembalian Lily yang untuk kesekian kalinya tidak mampu melewati net
akhirnya mengantarkan Korea pada angka pertama mereka, 21-15.
Tertinggal 0-1 sempat membuat Sony yang
tampil di partai kedua tidak mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya di set
pertama. Peringkat 6 dunia tersebut langsung tertinggal 6-11 saat jeda
interval. Beberapa serangan smash dan penempatan bola di bagian baseline yang
dilakukan Park mengantarkannya pada kedudukan 13-7, 16-9 serta 18-11. Dua
kesalahan Sony dan penempatan bola Sony di area baseline yang tak terjangkau
mengubah kedudukan 20-12 untuk Korea. Netting yang tidak sempurna dari Park dan
drop shot akurat Sony di depan net mengubah angka menjadi 14-20. Pengmbalian
Sony yang melebar akhirnya menutup set ini 14-21 untuk kemenangan Korea.
Sony akhirnya mengubah tempo permainan
di set kedua. Bola smash silang dan penempatan yang akurat menjadi senjatanya
untuk menambah poin demi poin. Bebarapa kesalahan sendiri yang dilakukan oleh
Park juga memperjauh selisih poin keduanya menjadi 8-2. Park sempat memperkecil
selisih poin menjadi 7-9 ketika pengembalian Sony tidak sempurna menyebabkan
bola out dan menyangkut di net. Drop shot silang dan penempatan bola Sony yang
akurat di depan net kembali membuat
Sony unggul 15-9. Beberapa bola tanggung
dan backhand smash Sony yang gagal menyebrangi net serta smash-smash silang
yang diperagakan oleh Park menekatkan selisih poin menjadi 17-14. Di titik
inilah Sony mendapatakan momentumnya dengan 3 consecutive points dari
penempatan bola lob di daerah baseline serta smash yang akurat, 20-14. Park
sempat menambah 1 angka dari smash silang Sony yang menyangkut di net namun
drop shot andalan Sony di depan net akhirnya memaksakan rubber set untuk Sony
21-15.
Park kembali bermain lebih agresif dan
banyak menyerang di set ketiga. Namun pertahan Sony pun tak kalah sempurna
dalam membendung bola-bola dari Park. Stelah melewati reli-reli yang cukup
ketat, Park akhirnya unggul 6-2 dan 12-7. Sony yang sempat bermain defensive
akhirnya lebih banyak menjadi sasaran serang dan melakukan kesalahan sendiri.
Namun setelah jeda interval, Sony segera mengubah strategi permainan dengan
lebih banyak melakukan serangan. Smash-smash silang yang menghujam lapangan
Park mengubah kedudukan 10-14. Empat poin beruntun yang dicuri Sony dari
penempatan bola yang akurat serta drop shot silang di depan net menjadikan
kedudukan imbang 14-14.
Di titik inilah ketatnya persiangan
kembali terasa dan selisih 1 poin berlangsung hingga kedudukan 17-17. Bola-bola
serobotan dan drive-drive pendek di depan net serta memanfaatkan kelemahan
stamina lawan mengunci kedua pemain di angka yang sama. Pengembalian Sony yang
melebar dan serangan smash dari Park membuatnya unggul lebih dulu 19-17. Namun
Sony segera menyusul setelah keduanya terlibat reli-reli cepat dan cukup
panjang yang diakhiri dengan smash Sony dan pengembalian yang melebar dari
Park, 19-19.Permainan netting yang sempurna dari Sony mengantarkannya pada
match point 20-19. Namun Park segera mengejar dengan drop shot sempurna di
depan net. Pengembalian Park yang terlalu melebar ke belakang serta bola
tanggung Park yang diserobot dengan sempurna oleh Sony akhirnya menutup set ini
untuk Indonesia, 22-20.
Pebulutangkis berperingkat 15 dunia,
Maria Kristin sebenarnya memili peluang yang cukup besar untuk menambah
keunggulan Indonesia menjadi 2-1. Karena secara kualitas pukulan dan variasi
serangan Maria lebih unggul dibandingkan dengan Hwang Hye Youn yang bermain di
partai ketiga. Namun kondisi fisiknya yang tidak sempurna dan masih cedera
membuat Maria gagal bermain sempurna dan lebih banyak melakukan kesalahan
sendiri. Di set pertama, Maria langsung memimpin 9-5 dari pukulan lob serang
dan drop shot silang andalannya.
Namun Hwang mendapat 4 poin ‘gratis’
dari pengembalian drop shot dan netting Maria yang gagal melewati net untuk
menyamakan kedudukan di angka 10. Tiga poin beruntun yang dikoleksi Hwang dari
kesalahan sendiri yang dilakukan Maria dalam mengembalikan bola mengubah
keadaan menjadi 13-10 untuk tunggal utama Korea yang berperingkat 17 dunia ini.
Pukulan lob serang yang diikuti dengan drop shot silang di depan net oleh Maria
menyamakan angka di titik 14. Maria kembali melakukan ‘unforced error’ dengan
pengembalian yang terlalu melabar ke belakang mengantarkan Hwang pada angka
kritis 18-15.
Perpaduan yang cantik antara lob serang,
netting, dan smash silangnya kembali membuat Maria setara 19-19. Bola tanggung
Maria yang di selesaikan dengan manis oleh Hwang menyentuh match point 20-19.
Namun dengan jurus andalannya yang memadukan lob serang dan smash, Maria
kembali membuat skor imbang 20-20. Drop silang yang terlalu memaksa shingga
membuat bola keluar kembali membuat Hwang match point 21-20. Netting silang
yang sempurna dari Maria menggagalkan kemenangan Hwang 21-21. Smash Maria yang
terlalu jauh ke belakang dan net silang Maria yang keluar dari garis permainan
memudahkan Hwang untuk merebut set ini 23-21.
Empat kesalahan beruntun dari
pengembalian Maria yang tidak sempurna kembali membuat Hwang ‘leading’ 6-2 di
set kedua. Drop shot silang, netting tipis Maria di depan net serta
serobotan-serobotan yang akurat membuat Maria mampu mengejar ketertinggalannya
di angka 7. Penempatan bola silang Hwang yang tidak terjangkau serta
pengembalian bola Maria di area baseline yang dinayatakan ‘out’ kembali membuat
Hwang unggul 10-7. Dengan senjata andalannya, Maria yang sempat tertinggal 9-12
akhirnya kembali sejajar 12-12. Smash keras Hye Youn yang diikuti dua kesalahan
Maria yang mengembalikan bola terlalu melebar ke balakang kembali membuat Korea
unggul 15-12. Smash dan drop shot tajam Maria untuk kesekian kalinya membuat kondisi
imbang 15-15.
Senjata andalan Maria yang gagal
melampaui net serta drop shot yang sempurna dari Hwang di lapangan yang kosong
kembali mengantarkannya pada poin kritis 18-16. Namun Maria kembali bangkit
dengan reli-reli panjang yang ditutup dengan sempurna oleh smash dan penempatan
bola di depan net, 19-19. Bola tanggung Maria yang ditutup dengan smash keras
Hwang serta netting Maria yang gagal melewati net akhirnya membuat Hwang
menutup set ini lebih dulu 21-19.
Tertinggal 1-2 saat Markis Kido yang sedang
mengalami cedera lutut tidak dapat bertanding bersama Hendra Setiawan kian
membuat kondisi timpang untuk kubu Indonesia di partai ‘hidup-mati’ yang sangat
menentukan. Menghadapi ganda fenomenal, Jung Jae Sung/Lee Yong Dae akhirnya
Hendra kembali harus diduetkan dengan Mohammad Ahsan untuk kedua kalinya. Namun
dengan dipadukannya Ahsan bersama seniornya ternyata mampu membuatnya lebih
mengeksplorasi kemampuan diri. Tidak hanya mahir dalam variasi pukulan dan
mengalihkan serangan, Ahsan ternyata juga memiliki ‘defense’ yang luar biasa.
Set pertama berjalan tidak sesuai dengan
yang diharapkan saat Jung/Lee lebih banyak menakan dan mengendalikan permainan.
Dalam posisi tertekan, Hendra/Ahsan tertinggal cukup jauh. 4-9 dan 5-11.
Permainan drive-drive cepat Jung/Lee serta bombardir smash yang dilancarkan
keduanya membuat ganda Indonesia sulit untuk mengembangkan permainan, 9-15.
Unggul jauh 20-8, Korea akhirnya menutup set ini dengan kemenangan telak 21-9.
Ketatnya persaingan baru terasa di set
kedua. Hendra/Ahsan mengubah pola permainan dan lebih banyak menekan sehingga
membuat keduanya unggul 7-3 di awal set. Keduanya terus memimpin hingga
kedudukan 11-7 saat jeda interval. Smash beruntun Hendra dan Ahsan serta
pengembalian Yong Dae yang terlalu melebar terus membuat Indonesia unggul 13-9.
Penempatan bola-bola akurat Yong Dae di daerah baseline serta tiga kesalahan
Ahsan dalam mengembalikan bola membuat pasangan Korea mampu menciptkan momentum
kebangkitan mereka di angka 14-14. Kondisi menjadi berpihak pada Korea Ahsan
mengembalikan bola terlalu melebar dan ‘backhand’ Hendra yang membentur net,
15-17.
Bola-bola Ahsan kembali gagal melewati
lapangan sendiri setelah mendapat gempuran dan bola-bola sulit dari Jung/Lee.
Tertinggal 16-19, tidak membuat pasangan Indonesia mengendorkan serangan dan
sempat memperkecil selisih poin 18-19 ketika drop shot Hendra di depan net
tidak mampu dikembalikan oleh pasangan Korea dan serobotan Yonga Dae yang gagal
melewati net. Bola tanggung Ahsan yang diselesaikan dengan manis oleh Yong Dae
mampu mengantarkan Korea pada match point 20-18 namun segera dibalas oleh
Hendra yang juga mengembalikan bola tanggung Yong Dae dengan sempurna oleh
smashnya. Di saat-saat yang paling menentukan, Hendra gagal mengembalikan bola
melewati net sehingga mengantarkan Jung/Lee pada kemenangan 21-19 yang
sekaligus memastikan tiket puncak untuk negaranya.
Korea vs Indonesia 3-1
XD : Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung bt Nova
Widianto/Liliyana Natsir 21-18, 21-15
MS : Park Sung Hwan lost to Sony Dwi
Kuncoro 14-21, 21-15, 22-20
Pada pertandingan sesi kedua yang juga
sama-sama memperebutkan tiket ke babak final menyuguhkan permainan antara sang
juara bertahan menghadapi Malaysia yang untuk pertama kalinya lolos ke babak
semifinal Piala Sudirman. Di dua partai awal, China tampil perkasa dengan
merebut poin sempurna dengan dua set langsung. Namun di partai terakhir yang
juga merupakan partai paling menentukan, duo tirai bambu harus berjuang ekstra
keras untuk mendapatkan kemenangan atas ganda Malaysia.
Perseteruan di nomor campuran membuka
duel China-Malaysia untuk memperebutkan satu tempat di partai puncak dan
menantang Korea yang lebih dulu memastikan diri ke babak final. Duet Mohd
Fairuzizuan/Wong Pei Tty sempat mengimbangi laju ganda teratas China. He
Hanbin/Yu Yang di set-set awal. Unggul 5-2 dari kesalahan yang dilakukan oleh
He/Yu dan smash-smash keras Fairuz terus membuat Malaysia ‘leading’ hingga
kedudukan 8-6.
Pasangan China mendapatkan ‘angin segar’
ketika Wong berkali-gali gagal mengembalikan bola dengan sempurna dan Fairuz yang
terlalu bersemangat dalam melakukan serangan. Menyamakan kedudukan di angka 9,
He/Yu berbalik memimpin 9-8 akibat pengembalian Pei Tty yang terlalu melebar.
Sempat menyamakan kedudukan di titik 9 dari kesalahan Hanbin, Malaysia akhirnya
terkunci di titik ini ketika tidak mampu mengembangkan permainan dan hanya menjadi
sasaran serang dari ganda China.
Meskipun Fairuz/Wong memiliki pertahanan
yang sempurna, keduanya akhirnya melakukan ‘return’ yang tidak sempurna dan
mudah dipatahkan. He/Yu melaju kencang dengan 9 poin beruntun sebelum di akhiri
dengan servis ‘fault’ dari Yu Yang. Dua kesalahan dari Fairuz mengantarkan
peraih meduli perunggu Olimpiade Beijing 2008 tersebut pada match point 20-11
dan akhirnya ditutup dengan sempurna oleh smash Hanbin, 21-11.
Keperkasaan duet China kembali tak
tergoyahkan di set kedua. Setelah unggul jauh 12-7 16-9 dari smash-smash tajam
dan beberapa kesalahan sendiri Fairuz/Pei Tty, keduanya tak terkejar dan
menyentuh match point 20-14. Pengembalian tak sempurna dari Pei Tty di depan
net membuahkan satu angka kemenangan untuk China, 21-14.
Di partai kedua, Lin Dan menantang
peringkat satu dunia, Lee Choong Wei. Meskipun keduanya bermain seimbang di
awal set, Lin Dan akhirnya memetik kemenangan 21-16, 21-16 buah dari
kegigihannya melancarkan serangan ke berbagai penjuru lapangan. Lee Choong Wei
sempat mendapatkan momentunya di pertengahan game kedua. Setelah tertinggal
4-10, peraih perak Olimpiade Beijing 2008 ini mampu menyamakan kedudukan di
angka 10 dengan menyajikan reli-reli panjangyang diakhiri dengan kesalahan sendiri dari Lin Dan.
Perseteruan semakin ketat hingga
kedudukan 14-14 dan Lin Dan berhasil mengunci Choong Wei di titik ini. Merebut
5 poin beruntun dari pengembalian tak sempurna Choong Wei serta kelihaiannya di
depan net yang dipadukan dengan smash silang ke daerah tak terjangkau mengubah
kedudukan 19-15. Penempatan bola yang akurat dari Lin Dan di area baseline dan
diikuti dengan pengembaliannya yang tak sempurna di depan net menciptakan match
point 20-16. Adu reli sempat terjadi di titik ini namun smash Choong Wei yang
terlalu melebar membuahkan kemenangan untuk Lin Dan 21-16.
Partai yang paling seru dan menentukan
ternyata justru tersaji di laga akhir. Tandem terkuat Malaysia, Koo Kien
Keat/Tan Boon Heong menantang jagoan 7 dunia, Fu Haifeng/Cai Yun. Harapan besar
public Malaysia bertumpu besar pada nomor ini karena setelah tertinggal 0-2,
kekuatan sang raksasa China juga cukup jomplang di sektor ini. Drive-drive
cepat dan ‘placing’ bola-bola sulit langsung membuka pertandingan di nomor ini.
Smash beruntun Malaysia yang mencoba untuk menguasai jalannya pertandingan dan
beberapa kesalahan Fu Haifeng langsung membuat Koo/Tan melaju 9-3.
Serobotan dan smash beruntun Cai Yun
serta penempatan bola yang akurat dari Fu Haifeng menjadikan skor imbang 10-10.
Kedudukan berbalik menjadi keunggulan Fu/Cai ketika Tan Boon Heong melakukan
kesalahan bertubi di depan net dan bola-bola tanggung pasangan Malaysia
berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh ganda China, 15-12. Namun ‘net error’
dan pengembalian yang dilakukan oleh Fu Haifeng yang terlalu melebar kembali
menyetarakan kedudukan kedua pasangan di titik 16. Selisih 1 poin dan saling
memimpin berlangsung hingga kedudukan 19-19 ketika masing-masing menyajikan
‘placing’ dan drive-drive panjang dan cepat yang akhirnya mengandalkan kesalahan
sendiri dari lawan-lawannya. Pengembalian Cai Yun yang keluar dan diikuti oleh
Fu yang gagal menyeberangkan bola di depan net menutup set ini untuk Malaysia,
21-19.
Set kedua dibuka dengan sempurna oleh
Fu/Cai dengan melayangkan permainan drive-drive cepat yang diakhiri oleh
smash-smash keras tandem China, 9-4. Serobotan Tan Boon Heong dan beberapa
kesalahan dari pengembalian Fu/Cai mengubah kedudukan 12-8 untuk China. Tiga
poin kembali dikoleksi China dari ‘return’ yang tidak cermat oleh Koo Kien
Keat. Namun di sisi yang berbeda, Fu Haifeng yang mencoba bermain lebih agresif
dari permainan pasangan Malaysia sempat melakukan kesalahan sendiri saat
memaksakan untuk menyerang yang membuahkan poin bagi Koo/Tan, 11-15.
Pasangan Malaysia sempat memperkecil
ketertinggalan mereka 15-18 ketika smash beruntun Koo Kien Keat dan penempatan
bola-bolanya yang sulit gagal dijangkau oleh Fu/Cai. Namun titik ini ternyata
menjadi poin terakhir bagi Koo/Tan setelah Fu/Cai berhasil memaksakan rubber
set dengan 3 poin beruntun dari smash keras Cai Yun, pengembalian Koo Kien Keat
yang gagal melewati net serta smash beruntun dari Fu Haifeng yang diselesaikan
dengan apik oleh Cai Yun, 21-15.
Aroma ketatnya persaingan kembali
tercium di set ketiga khususnya ketika memasuki poin-poin kritis. Fu/Cai pada
awalnya mampu mengontrol jalannya pertandingan hingga kedudukan 12-7 ketika
drive-drive cepat, smash dan serobotan Cai Yun membuahkan poin demi poin.
Penempatan bola yang akurat dari pasangan China di tempat kosong juga ikut
mempengaruhi koleksi poin keduanya. Sementara itu, tandem Malaysia lebih banyak
mendapatkan angka dari kesalahan sendiri yang dilakukan oleh pasangan China.
Namun setelah mendapatkan wejangan dari
Rexy, duo Malaysia perlahan mampu meredam gempuran pasangan China dan
memanfaatkan kelemahan dari Fu Haifeng yang acapkali melakukan kesalahan
sendiri. Tan Boon Heong yang juga mampu menciptakan momen-momen emas untuk
menyerang akhirnya menyeimbangkan angka kedua pasangan di titik 15. Di skor
ini, selisih 1 poin dan kejar mengejar kembali tersaji hingga akhir set. Fu
Haifeng masih menjadi titik lemah pasangan China dengan beberapa kesalahan
sendiri sedangkan dari Malaysia, Koo Kien Keat yang lebih banyak menghasilkan
poin namun juga kurang cermat dalam mengembalikan bola-bola sulit.
China menyentuh match point 20-19 lebih
dulu ketika Kien Keat melakukan ‘unforced error di depan net. Namun hal yang
sama juga dibalas oleh Fu Haifeng sehingga kedudukan kembali setara 20-20.
Smash beruntun pasangan China kembali memetik match point 21-20. Namun salah
pengertian antara Fu/Cai ketika harus mengambil bola ditengah keduanya dan
menyebkan pengembalian tak sempurna, 21-21. Adu drive antara kedua pasangan
yang ditutup oleh dua kesalahan dari Koo Kien Keat saat gagal mengembalikan
bola di depan net menutup set ini dengan kemenangan atas duet Fu/Cai 23-21.
Hasil 3-0 ini serta 15-0 dari babak penyisihan subgroup 1B menjadi modal yang
cukup sempurna bagi sang juara bertahan untuk menantang Korea di laga
pamungkas.
China vs Malaysia 3-0
XD : He Hanbin/Yu Yang bt Mohd
Fairuzizuan/Wong Pei Tty 21-11, 21-14
MS : Lin Dan bt Lee Choong Wei 21-16,
21-16
MD : Fu Haifeng/Cai Yun bt Koo Kien
Keat/Tan Boon Heong 19-21, 21-15, 23-21
Play Offs round for group 2 has been completed
in first session. Rank from 1-8 has been declared and Thailand successfully
retrieves their momentum to rejoin group 1 after beating Russia 3-0. In second
session, Hongkong slipped out from group 1 after ‘life and death match’ against
Japan.
MS : Boonsak Ponsana bt Stanislav Pukhov
21-8, 16-21, 21-15
WS : Salakjit Ponsana bt Ella Diehl
21-18, 21-14
After went out from group one two years
later, Thailand finally promoted once more to this level after being the winner
of group 2.Although Boonsak not at his
best performance and Russian doubles players develop so well, Thai’s team
succeed to overmaster Russian. With another 7 countries in group 1, Thailand
will join them to compete Sudirman Cup the next two years.
Play Offs Group 2 (#3-4) : Taipei vs
Singapore 3-1
XD : Wang Chia Min/Wan Pei Rong bt Terry
Yao Zhao Jiang/Vanessa Neo Yu Yan 21-18, 21-16
MS : Chou Tien Chen lost to Ashton Chen
Yangzhao 22-20, 14-21, 13-21
Both of countries have no interest with
these matches. They only send their 2nd ties of players. Ashton Chen
who steal one set from Wacha at yesterday match, once again took one point for
his country. Against junior player from Taiwan, Ashton thrilling behind 11-15
and 16-11 before leveled the game at 18, 19, and 20-all. Unfortunate in the
end, Ashton failed to finish the game 22-20. After get many advices from his
coaches, Ashton control the whole match in 2nd and 3rd
set. The tough match also represented by men’s doubles players. Chen/Lin as Taiwan’s
#1 pair leading this match since the 1st set. Gap points only 1-3
for each pair in 2nd set. Hendri/Hendra forces rubber set 21-19
after get their momentum 18-13. The Taiwanese regain the rhythm in the 3rd
set and once again controlled the game..
Play Offs Group 2 (#5-6) : Germany vs
Netherlands 3-0
XD : Johannes Schoettler/Birgit Overzier
bt Joritt De Ruiter/Ilse Vaessen 20-22, 21-10, 21-13
MS : Marc Zweibler bt Eric Pang 21-19,
19-21, 21-14
Netherlands also let the match goes to
Germany. Judith only play in singles which the games almost in the last match.
Joritt/Ilse took many points from their smash and netting when Germany’s pair
did many mistakes in the first. But after bad luck in the first they’ve got
very nice revenge in the next two set. Eric pang play better than yesterday but
only saved 2nd set. In final game, he looks exhausting and fallen
behind 14-21.
Another swept clean created by Poland
for #7th place. Pi who usually gave point to France couldn’t help
much as she plays only if France could steal 1 point from previous matches.
Wacha has his lucky set in the 2nd. Matthieu actually controls the
game from the beginning when he leads 11-4 at interval. He keeps continue to
lead the match with an aggressive smashes, 17-14 and 20-18. 4 consecutive
points taken by Wacha finally closed this game for Poland
SESSION 2 :
Play Offs Group 1 (#5-6) : Denmark vs
England 3-2
XD : Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl
bt Anthony Clark/Gabrielle White 21-7, 21-12
MS : Jan O Jorgensen beat Rajiv Ouseph 21-16,
18-21, 21-11
MD : Mathias Boe/Carsten Mogensen lost
to Robert Blair/Christopher Adcock 16-21, 16-21
WS : Nanna Brosolat Jensen lost to Sarah
Walker Walkover (WO)
Although this match has nothing effect
for both of team, Denmark still keep the cycle with their best format. Men’s
Singles and Women’s Doubles were two of the best matches. Lost in 2nd
set, the Danish still keep up the heat and won the final set. They’re really
deserves for #5 position.
Play Offs Group 1 (#7-8) : Japan vs
Hongkong
MD : Kenta Kazuno/Kenichi Hayakawa bt
Albertus Susanto/Hui Wai Ho 21-15, 21-15
WS : Mayu Sekiya lost to Yip Pui Yin 7-21,
16-21
MS : Sho Sasaki bt Chan Yan Kit 22-20,
21-15
WD : Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna bt
Wang Chen/Zhou Mi 21-10, 21-15
“Life and Death Match” between Japan and
Hongkong slipped out Hongkong from group 1 at the end. Chan Yan Kit who supposed
to cope 1 point failed to fulfill the mission since he lost momentum at the
edge of 1 set. Thrilling behind 18-20, Chan equals the score 20-all with his beautifully
net winner. But two errors that he make finally gave this game to Sasaki. Either
in women’s doubles, Wang and Zhou who defeated Europe #1, Kamilla/Lena
obviously out from expectation. Against semifinalist Olympic 2008, they can’t
compared the match with lack of defense. With this result, Hongkong will
replace Thailand position in group 2.
Play Offs round for group 2 has been completed
in first session. Rank from 1-8 has been declared and Thailand successfully
retrieves their momentum to rejoin group 1 after beating Russia 3-0. In second
session, Hongkong slipped out from group 1 after ‘life and death match’ against
Japan.
MS : Boonsak Ponsana bt Stanislav Pukhov
21-8, 16-21, 21-15
WS : Salakjit Ponsana bt Ella Diehl
21-18, 21-14
After went out from group one two years
later, Thailand finally promoted once more to this level after being the winner
of group 2.Although Boonsak not at his
best performance and Russian doubles players develop so well, Thai’s team
succeed to overmaster Russian. With another 7 countries in group 1, Thailand
will join them to compete Sudirman Cup the next two years.
Play Offs Group 2 (#3-4) : Taipei vs
Singapore 3-1
XD : Wang Chia Min/Wan Pei Rong bt Terry
Yao Zhao Jiang/Vanessa Neo Yu Yan 21-18, 21-16
MS : Chou Tien Chen lost to Ashton Chen
Yangzhao 22-20, 14-21, 13-21
Both of countries have no interest with
these matches. They only send their 2nd ties of players. Ashton Chen
who steal one set from Wacha at yesterday match, once again took one point for
his country. Against junior player from Taiwan, Ashton thrilling behind 11-15
and 16-11 before leveled the game at 18, 19, and 20-all. Unfortunate in the
end, Ashton failed to finish the game 22-20. After get many advices from his
coaches, Ashton control the whole match in 2nd and 3rd
set. The tough match also represented by men’s doubles players. Chen/Lin as Taiwan’s
#1 pair leading this match since the 1st set. Gap points only 1-3
for each pair in 2nd set. Hendri/Hendra forces rubber set 21-19
after get their momentum 18-13. The Taiwanese regain the rhythm in the 3rd
set and once again controlled the game..
Play Offs Group 2 (#5-6) : Germany vs
Netherlands 3-0
XD : Johannes Schoettler/Birgit Overzier
bt Joritt De Ruiter/Ilse Vaessen 20-22, 21-10, 21-13
MS : Marc Zweibler bt Eric Pang 21-19,
19-21, 21-14
Netherlands also let the match goes to
Germany. Judith only play in singles which the games almost in the last match.
Joritt/Ilse took many points from their smash and netting when Germany’s pair
did many mistakes in the first. But after bad luck in the first they’ve got
very nice revenge in the next two set. Eric pang play better than yesterday but
only saved 2nd set. In final game, he looks exhausting and fallen
behind 14-21.
Another swept clean created by Poland
for #7th place. Pi who usually gave point to France couldn’t help
much as she plays only if France could steal 1 point from previous matches.
Wacha has his lucky set in the 2nd. Matthieu actually controls the
game from the beginning when he leads 11-4 at interval. He keeps continue to
lead the match with an aggressive smashes, 17-14 and 20-18. 4 consecutive
points taken by Wacha finally closed this game for Poland
SESSION 2 :
Play Offs Group 1 (#5-6) : Denmark vs
England 3-2
XD : Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl
bt Anthony Clark/Gabrielle White 21-7, 21-12
MS : Jan O Jorgensen beat Rajiv Ouseph 21-16,
18-21, 21-11
MD : Mathias Boe/Carsten Mogensen lost
to Robert Blair/Christopher Adcock 16-21, 16-21
WS : Nanna Brosolat Jensen lost to Sarah
Walker Walkover (WO)
Although this match has nothing effect
for both of team, Denmark still keep the cycle with their best format. Men’s
Singles and Women’s Doubles were two of the best matches. Lost in 2nd
set, the Danish still keep up the heat and won the final set. They’re really
deserves for #5 position.
Play Offs Group 1 (#7-8) : Japan vs
Hongkong
MD : Kenta Kazuno/Kenichi Hayakawa bt
Albertus Susanto/Hui Wai Ho 21-15, 21-15
WS : Mayu Sekiya lost to Yip Pui Yin 7-21,
16-21
MS : Sho Sasaki bt Chan Yan Kit 22-20,
21-15
WD : Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna bt
Wang Chen/Zhou Mi 21-10, 21-15
“Life and Death Match” between Japan and
Hongkong slipped out Hongkong from group 1 at the end. Chan Yan Kit who supposed
to cope 1 point failed to fulfill the mission since he lost momentum at the
edge of 1 set. Thrilling behind 18-20, Chan equals the score 20-all with his beautifully
net winner. But two errors that he make finally gave this game to Sasaki. Either
in women’s doubles, Wang and Zhou who defeated Europe #1, Kamilla/Lena
obviously out from expectation. Against semifinalist Olympic 2008, they can’t
compared the match with lack of defense. With this result, Hongkong will
replace Thailand position in group 2.